Tren Leisure

Kembalinya BTS dan ARMY di 2026

  • Kembalinya BTS bulan Maret 2026 akan menjadi comeback K-pop yang paling dinantikan dalam beberapa tahun terakhir.
Boy group K-pop BTS.
Boy group K-pop BTS. (x.com/bts_bighit)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Kembalinya BTS bulan  Maret 2026 akan menjadi comeback K-pop yang paling dinantikan dalam beberapa tahun terakhir.

Namun sorotan seputar comeback ini tidak hanya terfokus pada para artis. Sorotan itu juga juga mengarah pada ARMY, fandom global yang memainkan peran penting dalam kesuksesan BTS dan menjadi salah satu komunitas terbesar dan terorganisir di dunia musik pop saat ini.

Dilansir dari The Korea Herald, dari segi angka, ARMY sungguh mengesankan. Lebih dari 44,7 juta pengguna mengikuti grup ini di X, sementara 33,5 juta pengguna terdaftar di Weverse, platform penggemar global yang digunakan BTS dan artis lainnya.

BTS juga menjadi grup K-pop pertama di Weverse dengan lebih dari 30 juta penggemar terdaftar. Selain itu, lebih dari 82 juta pengguna berlangganan akun resmi BTS di YouTube dan 73,9 juta di TikTok.

Basis penggemar ARMY ada di puluhan negara, seringkali terorganisir menjadi kelompok nasional atau regional seperti US BTS Army, UK BTS Armation, dan Army Power Mexico. Meskipun jumlah pasti penggemar di balik setiap fandom regional tidak diketahui, mereka dengan cepat berhasil menjual habis tiket untuk tempat konser sebesar stadion untuk tur dunia BTS yang akan datang.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyoroti besarnya fandom di negara tersebut dengan menyebutkan bahwa sekitar 1 juta anak muda Meksiko berusaha membeli tiket konser BTS, jauh melampaui kapasitas 150.000 kursi yang tersedia.

Namun, arti penting ARMY jauh melampaui ukuran jumlah anggotanya.

Dalam dekade terakhir, ARMY telah berkembang menjadi jaringan global yang terdesentralisasi namun sangat terkoordinasi, mencakup berbagai benua, bahasa, dan generasi. Para penggemar sering bergerak bersama untuk meningkatkan peringkat lagu di tangga musik internasional, menyelenggarakan kampanye amal, dan memperkuat pesan grup tentang penerimaan diri, semangat muda, dan ketangguhan.

Saat BTS bersiap untuk reuni di atas panggung, para pengamat industri menyebut momen ini juga menjadi pengingat akan pengaruh fandom modern yang kian besar, dan khususnya bagaimana ARMY membantu mendefinisikan ulang apa yang bisa dicapai oleh audiens pop global.

Mereka mengatakan bahwa yang membedakan ARMY dari banyak fandom tradisional adalah rasa keterikatan bersama yang dirasakan banyak anggota dengan kisah perjuangan kelompok tersebut sebagai pihak yang tidak diunggulkan.

“Berbeda dari fandom tradisional yang sering bersikap pasif sebagai konsumen, ARMY bergerak secara serempak tanpa figur otoritatif pusat,” kata Lee Ji Young, profesor filsafat di Hankuk University of Foreign Studies dan penulis buku BTS, Art Revolution.

Perjalanan band ini dari agensi kecil dengan sumber daya terbatas hingga superstardom internasional terasa dekat bagi banyak penggemar yang seakan mengikuti perjalanan itu bersama grup.

“Logikanya begini, jika tujuh orang dari agensi kecil yang berbicara bahasa minoritas bisa menjadi grup terbesar di dunia, maka saya pun bisa sukses. Setiap pencapaian BTS menjadi kemenangan pribadi bagi penggemar, sebuah bentuk dukungan kolektif,” kata Lee Ji Young.  

Terbentuknya ARMY

Boy group asal Korea Selatan, BTS. (Kevin Winter/Getty Images for MRC)

Istilah ARMY merupakan singkatan dari “Adorable Representative M.C. for Youth,” yang menggambarkan penggemar sebagai pihak yang setia mendukung BTS. Nama fandom ini diperkenalkan oleh agensi BTS, Big Hit Music, saat perekrutan klub penggemar resmi pertama pada Desember 2013, enam bulan setelah debut grup.

Nama ini juga terhubung dengan nama Korea BTS, Bangtan Sonyeondan (Bulletproof Boy Scouts), yang menunjukkan bahwa penggemar berdiri di sisi para artis sebagai satu kesatuan. Saat BTS mengubah arti nama Inggris mereka menjadi “Beyond the Scene” pada 2017, makna ARMY pun diperluas menjadi representasi penggemar muda yang berjalan bersama grup.

Meski fandom K-pop sering distereotipkan sebagai kelompok gadis muda, komunitas BTS mencakup berbagai gender, budaya, dan generasi.

Contohnya adalah yang disebut “Silver ARMY,” penggemar yang lebih tua yang menemukan kebahagiaan baru melalui musik BTS. Salah satu contohnya, penggemar asal Amerika berusia 95 tahun bernama Isabel, menjadi viral pada 2022 setelah video dirinya menghadiri konser Permission to Dance on Stage di Las Vegas beredar secara online. Ia mengatakan bahwa musik BTS telah memberinya kehidupan baru.

Pada dasarnya, ARMY berfungsi sebagai komunitas global yang sangat terorganisir. Melalui media sosial dan jaringan yang dikelola penggemar, mereka mengoordinasikan kampanye streaming, menerjemahkan konten BTS ke berbagai bahasa, dan menyebarkan informasi dengan cepat.

Mendiang kritikus musik Kim Young Dae menggambarkan fenomena ini dalam bukunya BTS: The Review sebagai contoh kecerdasan kolektif, dengan berpendapat bahwa fandom berfungsi sebagai sistem yang mengatur diri sendiri dan mampu menghasilkan wacana dan pengaruh di luar apa yang dapat dicapai oleh departemen PR agensi K-pop.

Profesor filsafat Lee Ji Young juga sependapat, menyebut anggota ARMY sebagai pencipta fenomena BTS.

“Kecerdasan kolektif mereka memungkinkan penggemar berfungsi sebagai tim penerjemah global, kelompok analisis data yang memantau kinerja tangga lagu, bahkan jaringan kemanusiaan, semuanya didorong oleh keinginan untuk mewakili BTS dengan baik,” kata Lee Ji Young.

Jaringan dan Pengaruh Global

Selain sukses sebagai performer, BTS juga dikenal karena mempromosikan tema cinta diri, empati, dan penolakan terhadap kekerasan. Contohnya termasuk seri album Love Yourself dan kolaborasi mereka dengan UNICEF dalam kampanye Love Myself.

Diluncurkan pada 2017 untuk memerangi kekerasan terhadap anak-anak dan remaja, BTS bersama Army telah mengumpulkan sekitar 9,2 miliar won (US$6,25 juta) hingga Desember 2025, menurut Big Hit.

Grup ini dan komunitas penggemarnya juga terlibat dalam berbagai aksi sosial lain. Setelah BTS mendonasikan US$1 juta untuk gerakan Black Lives Matter pada 2020, ARMY berhasil menggalang dana tambahan US$1 juta melalui kampanye #MatchAMillion dalam waktu sekitar 24 jam.

Pada tahun yang sama, para penggemar juga meluncurkan upaya penggalangan dana tambahan ketika grup ini mendukung kampanye Crew Nation dari Live Nation, untuk membantu staf konser yang terdampak pandemi COVID-19.

Di luar momen-momen yang terkait langsung dengan tindakan BTS, para penggemar juga telah menciptakan inisiatif filantropi. 

Salah satu contohnya adalah “One in an Army,” sebuah organisasi global yang dipimpin penggemar. Organisasi ini mengoordinasikan donasi di antara anggota di seluruh dunia untuk mendanai berbagai proyek amal, mulai dari bantuan bencana hingga kampanye kesadaran lingkungan.

Kampanye amal yang diselenggarakan penggemar K-pop bukanlah hal baru, karena fandom telah lama merayakan ulang tahun artis atau pencapaian tertentu melalui donasi dan kegiatan sukarela.

Namun, para pengamat menilai filantropi ARMY menonjol bukan hanya karena skalanya, tetapi juga karena banyak inisiatif dipimpin penggemar sebagai tanggapan terhadap isu-isu yang lebih luas, bukan semata-mata untuk merayakan kegiatan atau ulang tahun artis.

Bagi banyak penggemar, pesan-pesan semacam ini menjadi alasan utama mereka tertarik pada BTS. Beberapa anggota ARMY mengatakan bahwa keterbukaan para anggota BTS tentang perjuangan pribadi dan dorongan yang mereka berikan membantu penggemar menemukan kenyamanan dan rasa percaya diri dalam kehidupan mereka sendiri.

“Melihat bagaimana mereka membahas isu-isu tertentu, seperti kesadaran akan kesehatan mental dan cinta diri, mereka menunjukkan pada kita seperti apa tanggung jawab dengan pengaruh yang mereka miliki,” kata Amy Ganta, ARMY asal India, kepada The Korea Herald. “Sebagai ARMY, ketika kami melihat itu, kami juga ingin bertindak.”

Kritikus musik Jung Duk Hyun menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena BTS telah membangun hubungan yang berlandaskan nilai dengan para pendukungnya, yang dapat mendorong aksi kolektif di dalam fandom.

“Meskipun banyak artis membangun basis penggemar mereka berdasarkan musik, visual, atau daya tarik umum, BTS membangun identitas mereka berdasarkan narasi dan nilai-nilai, dengan tema-tema yang berulang seperti cinta diri, kesadaran kesehatan mental, dan empati,” kata Jung kepada The Korea Herald.

“Bagi banyak penggemar, terlibat dalam kegiatan amal atau kegiatan berbasis komunitas menjadi cara untuk mengekspresikan tidak hanya kekaguman terhadap grup tersebut tetapi juga komitmen bersama terhadap nilai-nilai yang mereka promosikan,” imbuhnya.

Lebih dari Sekadar Musik

Banyak ARMY mengatakan bahwa fandom ini telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih dari sekadar sekelompok orang yang menikmati musik BTS. Bagi sebagian penggemar, ARMY berfungsi sebagai keluarga kedua, sebuah komunitas di mana persahabatan terbentuk lintas negara dan dalam banyak kasus bertahan bertahun-tahun.

Namun, di dalam komunitas yang berjumlah jutaan orang, perbedaan pendapat tentu juga muncul. Sebagai jaringan global yang mencakup berbagai budaya, ARMY tidak selalu merespons isu dengan cara yang sama, terutama ketika menyangkut kehidupan pribadi anggota BTS.

Contoh terbaru adalah rumor kencan yang mengaitkan Jungkook dengan Winter dari grup K-pop aespa. Beberapa penggemar di Korea bereaksi keras, bahkan ada sekelompok kecil yang mengirim truk protes ke kantor HYBE di Seoul. Sementara, banyak penggemar internasional berpendapat bahwa penyanyi tersebut seharusnya bebas untuk berkencan.

“Ada perbedaan besar dalam cara pandang terhadap penyanyi seperti idola K-pop di Korea dan di luar negeri,” kata Han Ji Won, anggota Army keturunan Korea-Amerika.

“Di Korea, idol sering membangun hubungan parasosial yang kuat dengan penggemar, menciptakan rasa keakraban. Tetapi di AS, selebriti umumnya dipandang sebagai figur publik yang lebih jauh, sehingga ekspektasinya bisa berbeda,” jelasnya.

Para sosiolog mengatakan perbedaan semacam itu semakin umum terjadi seiring dengan semakin mendunianya komunitas penggemar. Seiring dengan meluasnya komunitas penggemar lintas budaya, ekspektasi seputar perilaku idola, termasuk seberapa terbuka mereka berbagi aspek kehidupan pribadi mereka, dapat sangat bervariasi di antara para penggemar.

“Sistem idol K-pop tradisional mengasumsikan basis penggemar domestik yang memiliki ekspektasi budaya serupa,” kata profesor sosiologi Koo Jeong Woo dari Sungkyunkwan University.

“Namun, seiring dengan semakin internasionalnya basis penggemar, harapan seputar budaya penggemar di K-pop mungkin juga berubah. Akibatnya, norma-norma seputar idol mungkin juga secara bertahap berevolusi seiring industri beradaptasi dengan audiens yang lebih global,” imbuhnya.

Seiring meluasnya pengaruh global BTS, mengatasi perbedaan-perbedaan ini mungkin menjadi semakin penting untuk mempertahankan basis penggemar. Bagi Jackie Alvarez, ARMY yang berbasis di AS, mengatasi perbedaan-perbedaan ini pada akhirnya bermuara pada satu hal, yaitu saling menghormati.

“Kita harus menghormati budaya satu sama lain. Ada makna tersirat yang mungkin tidak sepenuhnya kita pahami dari budaya orang lain,” kata Alvarez.

“Dan saya rasa tidak ada jawaban benar atau salah di sini, karena perspektif saya terhadap sesuatu tidak akan sama dengan orang lain. Semua itu kembali pada rasa hormat, menghormati artis dan menghormati satu sama lain.”