Nasional

Kejar Target Migas 2030, 6 Strategi Ini Jadi Andalan SKK Migas Kawal Produksi Di Era Rendah Karbon

  • Dalam rangka mencapai target produksi migas di tahun 2030, 6 Strategi Ini Jadi Andalan SKK Migas Kawal Produksi Di Era Rendah Karbon
<p>Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengeklaim berhasil melakukan efisiensi biaya di lapangan sebesar US$500 juta hingga US$600 juta pada kuartal-I tahun 2021. / Ilustrasi. Sumber: esdm.go.id</p>

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengeklaim berhasil melakukan efisiensi biaya di lapangan sebesar US$500 juta hingga US$600 juta pada kuartal-I tahun 2021. / Ilustrasi. Sumber: esdm.go.id

(Istimewa)

JAKARTA – Dalam rangka mencapai target produksi migas di tahun 2030 dengan tetap mendukung program pencapaian target pembangunan rendah karbon (RPK), SKK Migas sedang menyusun road map untuk pengelolaan lingkungan industri hulu migas di masa depan.

SKK Migas sendiri saat ini tengah melakukan proses bench marking serta berkolaborasi dengan pemangku kepentingan lainnya untuk melihat potensi strategi dalam upaya pencapaian target-target tersebut.

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto dalam keterangan resmi dikutip pada Jumat, 10 Dessember 2021 menjelaskan bahwa hasil bench marking akan digunakan untuk menyusun roadmap, sehingga dapat diketahui prioritas utama strategi untuk penurunan emisi karbon dalam rangka peningkatan hasil produksi migas.

Saat ini SKK Migas juga telah memiliki enam strategi untuk mengawal industri hulu migas di era rendah karbon ini, di antaranya :

  1. Penerapan kebijakan dan regulasi yang dapat mendukung penerapan rendah karbon
  2. Pengelolaan energi
  3. Zero routine flaring
  4. Mengurangi emisi kebocoran
  5. Penghijauan
  6. CSS (Carbon Capture and Storage) / CCUS (Carbon Capture, Utilization, and Storage)

Proyek Vorwata EGR-CCUS

Sejalan dengan strategi tersebut dalam mendukung produksi migas rendah karbon, SKK Migas juga telah memiliki kerja sama melalui penandatangan nota kesepahaman dengan pihak bp Indonesia untuk mengembangkan proyek Vorwata Enhanced Gas Recovery CSS (Vorwata EGR-CCS).

President bp Indonesia Nader Zaki juga menyebutkan bahwa kerja sama yang dilakukan tersetbu dapat meningkatkan produksi gas sekaligus mengurangi emisi karbon.

Proyek yang akan beroperasi pada 2026 di papua tersebut juga disebut berpotensi dapat meningkatkan produksi gas hingga 300 miliar kaki kubik (BCF) pada tahun 2035 atau mencapai 520  BCF pada tahun 2045.