Kejar Ekonomi 8 Persen, Indonesia Butuh Investasi Rp13.000 Triliun
- Indonesia membutuhkan investasi lebih dari Rp13.000 triliun sepanjang 2025–2029 untuk menopang target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen di era Prabowo Subianto

Muhammad Imam Hatami
Author


Wisma BNI 46 menjadi simbol gedung-gedung pencakar langit di Jakarta / Shutterstock
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID – Pemerintah membutuhkan investasi lebih dari Rp13.000 triliun sepanjang 2025–2029 untuk menopang target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen pada 2029.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan kebutuhan investasi tersebut menjadi bagian penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah.
“Lima tahun ke depan, target investasi dalam rangka kita memenuhi pertumbuhan 8 persen itu adalah Rp13.000 triliun lebih,” kata Rosan dalam Investor Daily Summit, Rabu, 7 Oktober 2026.
Target tersebut sebelumnya dirinci mencapai sekitar Rp13.032 triliun untuk periode 2025–2029. Angka itu menunjukkan besarnya kebutuhan pembentukan modal untuk mendorong ekspansi kapasitas ekonomi nasional.
Baca juga : Agung Podomoro Dorong Tren Hunian Berbasis Lifestyle, Hadirkan The Club House
Kebutuhan Investasi Capai Rp2.600 Triliun per Tahun
Jika dibagi rata selama lima tahun, kebutuhan investasi Rp13.032 triliun setara sekitar Rp2.606 triliun per tahun. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan realisasi investasi Indonesia pada 2024 yang mencapai Rp1.714,2 triliun.
Pada 2025, realisasi investasi meningkat menjadi Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7 persen secara tahunan dan mencapai 101,3 persen dari target pemerintah sebesar Rp1.905,6 triliun.
Artinya, rata-rata kebutuhan investasi untuk mengejar target pertumbuhan 8 persen berada sekitar 35 persen di atas realisasi investasi 2025.
Namun, kebutuhan tersebut bukan berarti seluruhnya harus berasal dari belanja pemerintah. Investasi yang dihitung mencakup penanaman modal oleh dunia usaha, baik dari investor domestik maupun asing, untuk meningkatkan kapasitas produksi perekonomian.
Momentum peningkatan investasi masih berlanjut pada 2026. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan.
Capaian tersebut setara 49,5 persen dari target investasi 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Investasi semester I 2026 juga menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia, meningkat 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan capaian tersebut, investasi pada paruh pertama 2026 sudah melampaui separuh dari rata-rata kebutuhan investasi tahunan sekitar Rp2.606 triliun yang diperlukan untuk mengejar target lima tahun.
Namun, pemerintah masih perlu menjaga pertumbuhan investasi secara konsisten hingga 2029 karena kebutuhan akumulasi investasinya jauh lebih besar dibandingkan capaian tahunan saat ini.
Baca juga : Menguat, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 8 Oktober 2026?
Kontribusi Investasi Makin Besar
Rosan mengatakan peningkatan investasi juga tercermin dari semakin besarnya kontribusi investasi terhadap perekonomian Indonesia.
“Untuk saat ini kontribusi dari investasi sudah mendekati 38 sampai 39 persen, jika dilihat selama 10 tahun terakhir investasi kurang lebih nilainya Rp9.100 triliun,” ujar Rosan.
Pemerintah sebelumnya mencatat kebutuhan investasi Rp13.032 triliun pada periode 2025–2029 merupakan peningkatan signifikan dibandingkan realisasi investasi selama satu dekade sebelumnya. Pemerintah menyebut target tersebut sekitar 143 persen dari capaian investasi selama 10 tahun terakhir.
Dengan demikian, pemerintah tidak hanya mengandalkan konsumsi masyarakat sebagai mesin pertumbuhan. Investasi diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas industri, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memperkuat rantai pasok nasional.
Salah satu sektor yang diandalkan pemerintah untuk meningkatkan investasi adalah hilirisasi.
Pada 2025, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun, atau 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional. Nilainya tumbuh 43,3 persen dibandingkan 2024.
Tren tersebut berlanjut pada semester I 2026. Investasi sektor hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun, atau 29,7 persen dari total investasi nasional.
Pada periode tersebut, investasi hilirisasi masih didominasi industri berbasis mineral seperti bauksit, nikel, tembaga, besi dan baja, serta pasir silika. Pemerintah juga mulai memperluas hilirisasi ke komoditas strategis lainnya, termasuk kelapa sawit dan sumber daya berbasis alam lainnya.
Strategi tersebut sejalan dengan arah pemerintah untuk tidak hanya menarik modal, tetapi meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Dari sisi sumber modal, investasi Indonesia juga tidak hanya bergantung pada investor asing. Pada semester I 2026, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp507,6 triliun atau 50,2 persen dari total investasi. Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp502,9 triliun atau 49,8 persen.
Baca juga : Saham di Bawah Rp50 Mulai Aktif Diperdagangkan
Komposisi tersebut menunjukkan peran investor domestik masih menjadi salah satu penopang utama pencapaian target investasi nasional.
Pada 2025, PMDN bahkan mencapai Rp1.030,3 triliun atau 53,4 persen dari total realisasi investasi. Sementara PMA tercatat Rp900,9 triliun atau 46,6 persen. Besarnya kebutuhan investasi tersebut pada akhirnya tidak hanya diukur dari nilai modal yang masuk.
Rosan menekankan investasi yang masuk harus berkualitas dan memberikan dampak nyata terhadap perekonomian, terutama melalui penciptaan lapangan pekerjaan.
“Yang paling penting tentunya adalah bagaimana dana yang masuk itu bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Kurang lebih lapangan pekerjaan yang tercipta pada tahun lalu 2,4 juta orang. Dan kalau kita lihat lagi, tentunya investasi yang kita masukan adalah investasi yang berkualitas,” katanya.

Chrisna Chanis Cara
Editor
