Tren Global

Kaleidoskop Iklim 2025: Paradoks Trump vs Investasi Hijau

  • Kaleidoskop Iklim 2025: Kebijakan politik stagnan, namun investasi energi bersih tembus rekor US$2,2 triliun. Harga baterai turun, AI percepat transisi.
pohon beringin.png
Pohon Beringin (rri.co.id)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Menutup tahun 2025 perjalanan komitmen iklim global memperlihatkan dinamika yang cenderung berjalan di tempat secara politis. Emisi gas rumah kaca global tercatat terus meningkat sementara target penurunan emisi banyak negara belum bergerak signifikan. Ironi ini diperparah oleh kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menarik agenda iklim.

Namun di balik stagnasi kebijakan tersebut tahun 2025 tetap mencatatkan kemajuan monumental dalam aspek dekarbonisasi struktural. Investasi global untuk transisi energi bersih diperkirakan mencapai rekor baru sebesar US$2,2 triliun sepanjang tahun ini. Arus modal besar ini mencerminkan perubahan fundamental dalam sistem energi global saat ini.

Unit Intelijen Energi dan Iklim mencatat dunia bergerak lebih cepat menuju ekonomi rendah karbon dibandingkan satu dekade lalu. Kemajuan investasi dan teknologi ini dinilai sangat signifikan meski belum cukup menahan laju pemanasan global sepenuhnya. "Ini adalah kemajuan yang sangat signifikan," kata Gareth Redmond-King dikutip dari Bloomberg pada Selasa, 30 Desember 2025.  

1. Tahun Rekor Energi Bersih

Investasi global pada teknologi bersih tahun ini tercatat jauh melampaui pendanaan untuk industri berbasis bahan bakar fosil. Setiap satu dolar yang dialokasikan untuk proyek fosil kini diimbangi dua dolar yang mengalir ke energi bersih. Rasio investasi hijau ini bahkan lebih tinggi di negara ekonomi utama.

Aliran dana ke sektor energi terbarukan kembali mencetak rekor pada paruh pertama tahun 2025 yang sangat masif. Nilai investasi meningkat sepuluh persen menjadi US$386 miliar menurut kalkulasi data dari lembaga riset BloombergNEF. Pertumbuhan energi surya dan angin mampu memenuhi seluruh tambahan kebutuhan listrik global tahun ini.

Kapasitas energi terbarukan tumbuh rata-rata hampir 30% dalam tiga tahun terakhir secara global hingga saat ini. China menjadi motor utama pertumbuhan dengan kontribusi dua pertiga dari penambahan kapasitas surya dan angin global. Laju ini menempatkan dunia dekat dengan target pelipatgandaan kapasitas energi bersih 2030.

2. Kebangkitan AI dan Nuklir

Lonjakan kebutuhan listrik akibat pesatnya perkembangan kecerdasan buatan turut menghidupkan kembali minat investasi teknologi hijau tahun ini. Investasi global untuk teknologi bersih seperti reaktor nuklir generasi baru telah melampaui total investasi tahun lalu. Angka ini menjadi kenaikan tahunan pertama sektor tersebut sejak puncaknya tahun 2022.

Antusiasme pasar juga mendorong peningkatan investasi pada infrastruktur jaringan listrik sebagai tulang punggung transisi energi masa depan. Kecerdasan buatan berperan penting dalam menghadirkan solusi iklim baru mulai dari optimalisasi rute kendaraan listrik otonom. Teknologi ini membantu memitigasi risiko lingkungan dengan lebih akurat dan efisien.

Pemanfaatan teknologi canggih ini mempercepat riset iklim dan meningkatkan akurasi prakiraan cuaca ekstrem secara signifikan saat ini. Masyarakat dan perekonomian global kini memiliki lebih banyak instrumen teknis untuk menghadapi dampak perubahan iklim nyata. Inovasi teknologi menjadi pendorong utama di tengah lambatnya kebijakan publik global.

3. Era Baterai Murah

Tahun 2025 juga menjadi tonggak sejarah ketika harga baterai mengalami penurunan yang sangat drastis di pasar global. Harga baterai per kilowatt-jam turun delapan persen menyentuh rekor terendahnya di level US$108 pada tahun ini. Tren penurunan harga ini diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun 2026 nanti.

Penurunan biaya produksi ini didorong oleh efisiensi manufaktur dan formulasi kimia yang lebih murah di industri baterai. Kelebihan kapasitas produksi pabrikan juga turut menekan harga jual baterai di pasar global sepanjang tahun ini. Hal ini memperbaiki nilai keekonomian berbagai produk berbasis listrik secara menyeluruh saat ini.

Penyimpanan energi menjadi kunci untuk menampung listrik dari pembangkit surya dan angin skala besar yang fluktuatif. Sistem baterai murah memungkinkan penyaluran kembali energi terbarukan saat beban puncak permintaan listrik terjadi di jaringan. Infrastruktur penyimpanan ini vital bagi stabilitas pasokan energi masa depan yang bersih.

4. Diplomasi di Tengah Turbulensi

Di tengah mundurnya kebijakan iklim sejumlah negara komunitas global tetap mencatatkan kemajuan diplomatik penting tahun ini. Perjanjian perlindungan laut lepas akhirnya memperoleh ratifikasi yang cukup untuk mulai berlaku pada awal 2026 nanti. Kesepakatan ini membuka jalan perlindungan wilayah laut di luar yurisdiksi negara manapun.

Perjanjian monumental ini mencakup perlindungan terhadap sekitar 60 persen wilayah laut dunia yang sangat luas areanya. Perlindungan terhadap ekosistem laut lepas kini memasuki fase yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah dunia. Langkah ini krusial untuk menjaga keanekaragaman hayati samudera dari eksploitasi berlebih manusia.

Mahkamah Internasional juga mengeluarkan putusan penasihat yang menegaskan kewajiban negara menahan laju pemanasan global yang kian parah. Negara dapat dianggap melanggar hukum internasional jika gagal menjaga suhu bumi di ambang 1,5 derajat Celsius. Putusan hukum ini memperkuat tekanan terhadap pemerintah untuk meningkatkan aksi iklim nyata.

5. Fokus Adaptasi Menguat

Pendanaan untuk adaptasi perubahan iklim menunjukkan tren peningkatan guna memperkuat ketahanan komunitas yang rentan sepanjang 2025. Komitmen pendanaan baru diarahkan untuk melindungi infrastruktur vital dan sektor pertanian dari ancaman cuaca ekstrem. Adaptasi kini menjadi prioritas yang berjalan beriringan dengan upaya mitigasi emisi karbon global.

Instrumen keuangan seperti obligasi bencana mulai dimanfaatkan secara lebih luas untuk mendanai upaya preventif yang krusial. Dana ini tidak hanya menutup kerugian pasca bencana tetapi juga membiayai adaptasi terhadap risiko iklim mendatang. Mekanisme finansial inovatif ini memberikan jaring pengaman bagi ekonomi negara berkembang saat ini.

Tahun 2025 memperlihatkan fondasi transisi energi dan adaptasi yang makin kuat secara struktural di seluruh dunia. Namun dunia masih harus memastikan laju kemajuan ini mampu mengejar urgensi krisis iklim yang terus membesar. "Apakah ini cukup untuk menjaga kita tetap aman?" tanya Gareth Redmond-King.