Tren Pasar

Kalahkan Deposito, Green Crowdfunding Tawarkan Cuan Segini

  • Green Crowdfunding tawarkan yield 18%, jauh di atas deposito dan SBN. Simak perbandingan risiko, likuiditas, dan peluang cuan dari platform seperti Bizhare.
equity-crowdfunding-750x427.jpg.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID – Investor ritel kini mulai gelisah melihat imbal hasil instrumen konvensional seperti deposito perbankan dan Surat Berharga Negara yang cenderung stagnan. Dengan tingkat inflasi riil yang terus membayangi, mencari aset dengan pertumbuhan nilai yang signifikan menjadi tantangan tersendiri di tahun 2026 ini.

Di tengah situasi tersebut Green Crowdfunding muncul sebagai penantang baru yang menawarkan proposisi sangat menggiurkan bagi pemilik modal. Instrumen ini menjanjikan tingkat pengembalian investasi hingga dua digit, jauh melampaui rata-rata bunga deposito bank umum maupun kupon obligasi pemerintah yang beredar di pasar.

Tidak hanya menawarkan keuntungan finansial instrumen ini juga memberikan kepuasan batin melalui dampak lingkungan nyata. Namun investor bijak harus memahami bahwa potensi keuntungan tinggi ini berbanding lurus dengan risiko likuiditas yang harus ditanggung dibandingkan instrumen aman lainnya yang lebih mapan.

1. Adu Imbal Hasil: SBN vs SCF

Investor ritel sering membandingkan instrumen ini dengan Surat Berharga Negara atau SBN yang memberikan kupon rata-rata di kisaran 6 persen. Green Crowdfunding berani menawarkan proyeksi imbal hasil jauh lebih tinggi yakni di kisaran 12 hingga 18 persen per tahunnya secara historis.

Selisih imbal hasil yang lebar ini terjadi karena skema pendanaan langsung memotong peran perantara perbankan yang mahal. Dana investor langsung disalurkan ke proyek riil seperti efisiensi energi pabrik atau instalasi panel surya yang menghasilkan penghematan biaya operasional secara signifikan.

Meski demikian SBN memiliki keunggulan mutlak dalam hal keamanan karena dijamin negara seratus persen hingga jatuh tempo. Sementara imbal hasil tinggi di urun dana hijau murni berbasis kinerja proyek bisnis sehingga risiko gagal bayar sepenuhnya ditanggung oleh investor sendiri.

2. Belajar dari Raksasa Global

Ekosistem Green Crowdfunding di Indonesia banyak berkaca pada kesuksesan platform global seperti Trine dari Swedia dan Ecoligo dari Jerman. Kedua raksasa ini fokus mendanai proyek energi surya di pasar negara berkembang dengan model bisnis berbasis pinjaman yang sangat transparan.

Trine misalnya sangat rinci dalam melaporkan metrik dampak seperti jumlah emisi CO2 yang berhasil dikurangi dari setiap investasi. Sementara Ecoligo sukses merambah pasar Asia Tenggara seperti Vietnam dan Thailand membuktikan bahwa model bisnis urun dana hijau sangat diminati di kawasan ini.

Pemain lain seperti Lendahand asal Belanda menyasar sektor UMKM dengan misi sosial yang kuat di negara-negara berkembang. Keberhasilan mereka membuktikan bahwa investor global sangat antusias memarkir dananya pada instrumen yang tidak hanya mengejar profit tetapi juga keberlanjutan planet bumi.

3. Geliat Platform Lokal

Di Indonesia platform Securities Crowdfunding berizin OJK seperti Bizhare mulai aktif menggarap ceruk pasar potensial ini. Meskipun belum ada platform lokal yang seratus persen khusus hijau Bizhare sering menerbitkan proyek bisnis franchise atau pengolahan limbah yang mengusung konsep keberlanjutan.

Melalui platform seperti ini investor dengan modal terbatas setara harga secangkir kopi mewah sudah bisa ikut berinvestasi. Mekanismenya mendemokratisasi akses pembiayaan yang dulunya hanya dikuasai oleh pemodal jumbo atau sindikasi perbankan kini terbuka lebar bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Tantangan bagi pemain lokal adalah memperbanyak suplai proyek hijau yang berkualitas dan terverifikasi dengan standar ketat. Hal ini penting agar investor domestik memiliki lebih banyak pilihan aset dasar yang variatif selain instrumen pasar modal konvensional seperti saham atau reksa dana.

4. Momok Likuiditas Rendah

Perbedaan paling mencolok antara Green Crowdfunding dengan saham blue chip atau reksa dana adalah masalah likuiditas aset. Saham dapat dijual dalam hitungan detik saat pasar buka sementara dana di crowdfunding umumnya terkunci selama tenor proyek berjalan tanpa bisa ditarik.

Tenor proyek biasanya berkisar antara satu hingga lima tahun tergantung jenis dan skema bisnis yang ditawarkan penerbit. Hingga saat ini pasar sekunder untuk memperdagangkan efek urun dana di Indonesia masih sangat terbatas sehingga menyulitkan investor untuk melakukan exit lebih awal.

Oleh karena itu instrumen ini hanya cocok bagi investor yang menggunakan "dana dingin" atau uang yang tidak terpakai dalam jangka panjang. Memasukkan dana darurat ke dalam instrumen ini adalah kesalahan fatal dalam perencanaan keuangan karena sifatnya yang sangat tidak likuid.

5. Masa Depan: Kredit Karbon

Daya tarik investasi hijau di masa depan diprediksi akan semakin seksi dengan adanya potensi integrasi pasar karbon. Bayangkan jika investor tidak hanya mendapatkan dividen tunai dari keuntungan bisnis tetapi juga mendapatkan kredit karbon yang bisa diperdagangkan di bursa karbon.

Regulator seperti OJK diharapkan segera menyusun taksonomi hijau yang lebih spesifik untuk mengakomodasi perkembangan model bisnis inovatif ini. Standarisasi pelaporan dampak lingkungan yang setara dengan pelaporan keuangan akan menjadi kunci kepercayaan investor institusi untuk mulai masuk ke sektor ini.

Jika ekosistem ini terbentuk Green Crowdfunding bisa menjadi instrumen hibrida yang menggabungkan keuntungan investasi dengan perdagangan komoditas karbon. Ini adalah peluang besar bagi investor yang memiliki cakrawala investasi jangka panjang dan toleransi risiko moderat untuk melipatgandakan kekayaan mereka.