Tren Ekbis

Jebakan Utang Paylater, Gen Z Bisa Terlilit Tanpa Sadar

  • Satu klik, barang langsung bisa dibawa pulang, itulah janji paylater. Generasi yang paling aktif menggunakan paylater adalah generasi yang paling rentan terhadap jebakannya.
Ilustrasi Pengguna Paylater.
Ilustrasi Pengguna Paylater. (Freepik.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Kemudahan "beli sekarang, bayar nanti" ternyata menyimpan jebakan yang diam-diam menggerogoti kesehatan finansial dan masa depan anak muda Indonesia.

Satu klik, barang langsung bisa dibawa pulang, itulah janji paylater, dan jutaan anak muda Indonesia menerimanya dengan tangan terbuka. di balik kemudahan itu, ada pola yang mulai mengkhawatirkan, generasi yang paling aktif menggunakan paylater adalah generasi yang paling rentan terhadap jebakannya.

Data terbaru dari PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mengungkap, total pengguna layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater di Indonesia sepanjang 2024 mencapai 16,5 juta orang, dengan Gen Z menyumbang 39,94% dari total pengguna. 

Angka itu bukan sekadar statistik, kondisi ini merupakan potret sebuah generasi yang tumbuh bersama aplikasi belanja, dan kini menghadapi konsekuensi finansial yang belum pernah diajarkan di bangku sekolah.

Satu dari Empat Pengguna Paylater Gen Z

Survei yang dilakukan oleh Kredivo dan Katadata Insight Center pada tahun 2023 menunjukkan bahwa Gen Z usia 18–25 tahun menyumbang 26,5% dari pengguna paylater, yang berarti satu dari empat pengguna layanan ini berasal dari generasi tersebut. 

Volume portofolio layanan BNPL juga menunjukkan pertumbuhan sangat cepat, dengan 48,4 juta fasilitas paylater tercatat per Oktober 2024, jauh melampaui 13,9 juta kartu kredit aktif.

Pertumbuhan itu bukan tanpa alasan, Shopee Paylater menguasai pangsa pasar 78,4%, menjadikannya pilihan utama konsumen, khususnya Gen Z untuk pembelian harian. 

Baca juga : Pay Later Jadi Solusi Kala Tak Punya Duit, Benarkah?

Integrasi yang mulus di dalam aplikasi belanja, antarmuka yang ramah pengguna, dan proses persetujuan instan tanpa pemeriksaan kredit yang rumit menjadi daya tarik utama.

Namun di sinilah benihnya ditanam, fitur paylater mendorong perilaku pembelian impulsif karena memberikan rasa aman semu terhadap keterbatasan keuangan aktual. 

Penelitian menunjukkan paylater dapat meningkatkan frekuensi pembelian tidak terencana akibat motivasi hedonistik yang mendasari perilaku belanja.

Gali Lubang, Tutup Lubang

Di sinilah siklus berbahaya itu bermula, menurut Prita Hapsari Ghozie, perencana keuangan dari Universitas Indonesia, anak muda berisiko terjerat utang paylater karena belum berpenghasilan tetap namun sudah mengambil paylater, dengan jumlah pinjaman yang di luar batas kemampuan membayar. 

Akibatnya, mereka terjerat skema gali lubang-tutup lubang, saat satu utang belum lunas, mereka justru mengambil utang baru untuk membayar utang pertama, atau untuk membeli barang lain.

Total utang pinjaman online terbesar berasal dari kelompok usia 19 - 34 tahun, yakni Gen Z dan milenial, dengan nilai mencapai Rp327,3 triliun. Angka ini mencakup berbagai produk pinjaman digital, termasuk paylater. OJK sendiri mencatat total pinjaman pada layanan BNPL masyarakat Indonesia mencapai Rp26,37 triliun per Agustus 2024.

Yang lebih mengkhawatirkan, data OJK menunjukkan bahwa 50,11% pengguna paylater yang menunggak berada di rentang usia 20–30 tahun, kelompok yang dinilai masih terbatas dalam pengelolaan keuangan dan sering menggunakan paylater tanpa mempertimbangkan kemampuan bayar.

Masalahnya bukan hanya soal belanja berlebihan. Menurut paparan Journal of Management and Digital Business, berjudul “Penggunaan Paylater di Kalangan Mahasiswa: Peran Perilaku Konsumtif dan Tekanan Sosial”, ada mekanisme psikologis dan desain produk yang secara sistematis membuat anak muda rentan terjebak.

Pertama, efek "uang tidak terasa nyata." Ketika membayar menggunakan paylater, tidak ada uang yang keluar secara langsung. Sebanyak 72% pengguna paylater berada di bawah usia 30 tahun, dan 46% dari mereka pernah mengalami keterlambatan dalam pembayaran. 

Baca juga : Pay Later Meroket 33 Persen, Ini Daftar Produk yang Dibeli

Beberapa penyebab utamanya adalah budaya konsumsi digital, rendahnya pemahaman literasi finansial, dan efek psikologis dari skema "Buy Now, Pay Later" itu sendiri.

Kedua, tekanan sosial. Dalam kerangka psikologi sosial, proses adopsi paylater kerap berlangsung secara peripheral processing sehingga individu tidak sepenuhnya menyadari persuasi yang terjadi. 

Teman sebaya menjadi sumber pengaruh paling menonjol pada fase remaja akhir; dorongan untuk diterima kelompok membuat mahasiswa meniru perilaku keuangan rekan mereka, termasuk memilih skema "beli sekarang, bayar nanti" meskipun kemampuan finansial terbatas.

Ketiga, kemudahan akses. Rendahnya tingkat literasi risiko terhadap layanan paylater berpotensi melemahkan upaya mitigasi terhadap gagal bayar, sehingga dapat mengubah fitur tersebut menjadi pemicu jebakan utang. 

Penggunaan paylater yang berlebihan, terutama oleh mahasiswa, dapat menyebabkan ketergantungan utang, pembelian impulsif, dan konsumsi berlebihan yang membatasi kesejahteraan finansial di masa mendatang.