Tren Global

Jadi Senjata Geopolitik China, Bagaimana Harga Perak 2026?

  • Pemerintaha China mewajibkan produsen perak di dalam negeri memperoleh persetujuan pemerintah sebelum dapat mengekspor perak ke luar negeri.
perak.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pemerintah China mulai 1 Januari 2026 resmi memberlakukan rezim lisensi ekspor perak, sebuah kebijakan yang dinilai pasar global sebagai langkah strategis Beijing menjadikan perak sebagai senjata geopolitik baru, menyusul preseden pembatasan ekspor rare earths satu dekade lalu.

Kebijakan ini mewajibkan produsen perak di China memperoleh persetujuan pemerintah sebelum dapat mengekspor perak ke luar negeri. Langkah tersebut diperkirakan akan berdampak langsung terhadap 60-70% pasokan perak murni yang diperdagangkan secara global, mengingat dominasi China dalam rantai pasok industri perak dunia.

Berdasarkan laporan MarketWatch, dikutip Rabu, 31 Desember 2025, hanya eksportir dengan kapasitas produksi minimal 80 ton per tahun serta memiliki fasilitas kredit sedikitnya US$30 juta yang berpeluang memperoleh lisensi. Syarat ini berpotensi menyingkirkan banyak eksportir kecil, sehingga pasokan perak global diperkirakan menyusut signifikan sejak awal 2026.

Baca juga : #KaburAjaDulu, Saat Gen Z Sulit Cari Kerja Layak

China Pegang Kendali Pasar Perak

Berbeda dengan kebijakan harga atau tarif, rezim lisensi ini memberi China kendali langsung atas aliran fisik perak ke pasar internasional. Padahal, perak merupakan komponen krusial bagi berbagai sektor strategis seperti energi surya, kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik (EV), dan industri elektronik.

Dengan penguasaan sekitar 70% pasokan perak untuk kebutuhan industri teknologi, China dinilai mampu menggunakan kebijakan ini sebagai alat leverage geopolitik, terutama terhadap negara-negara yang bergantung pada teknologi hijau dan digital.

Pembatasan ekspor diprediksi menciptakan bottleneck pasokan global karena sebagian besar perak akan tertahan di dalam negeri China. Kondisi ini diperkirakan memicu volatilitas harga yang tinggi sepanjang 2026, terutama pada fase awal penerapan kebijakan.

Pasar sebelumnya telah menunjukkan gejala ketegangan. Harga perak sempat mencetak level rekor mendekati US$80 per ounce, disertai fluktuasi tajam dalam waktu singkat. 

Selain itu, pasar Asia mulai mencatat premi perak fisik yang lebih tinggi dibandingkan kontrak berjangka (futures), menandakan meningkatnya kekhawatiran atas pasokan nyata.

Baca juga : 5 Lagu K-Pop yang Wajib Diputar Saat Tahun Baru Mengawali 2026

Alternatif Pasokan Sulit Dikejar

Upaya mencari sumber pasokan alternatif dinilai tidak mudah. Sekitar 70-80% produksi perak dunia merupakan produk sampingan dari tambang logam lain seperti tembaga, timbal, seng, dan emas. Artinya, peningkatan produksi perak tidak bisa dilakukan secara cepat hanya karena harga naik.

Selain itu, pengembangan tambang baru membutuhkan waktu panjang, mulai dari eksplorasi hingga produksi komersial yang bisa mencapai 10 hingga 20 tahun. Kondisi ini membuat pasokan perak global relatif kaku dalam jangka menengah.

Dengan pasokan yang makin ketat dan ketidakpastian geopolitik meningkat, investor global mulai bersiap menghadapi era volatilitas tinggi di pasar perak. Sejumlah analis menyarankan diversifikasi ke perak fisik maupun saham perusahaan tambang perak sebagai langkah mitigasi risiko.

Permintaan fisik tercatat meningkat menjelang pemberlakuan kebijakan, menandakan pasar tidak menunggu hingga 2026 untuk bereaksi.

Kebijakan China menegaskan bahwa perak pada 2026 bukan lagi sekadar komoditas industri, melainkan instrumen strategis dalam peta geopolitik global. Dengan kendali pasokan berada di tangan Beijing, harga perak berpotensi tetap tinggi dengan fluktuasi ekstrem, seiring meningkatnya ketergantungan dunia pada teknologi berbasis logam mulia tersebut.

Bagi industri, investor, dan pemerintah, dinamika perak ke depan akan menjadi indikator penting bagaimana kompetisi ekonomi dan geopolitik global memasuki babak baru.