IsDB Siapkan Rp45,7 Triliun untuk Indonesia, Sasar Infrastruktur hingga SDM
- IsDB dan pemerintah Indonesia menyepakati strategi kemitraan 2026–2030 senilai US$2,56 miliar untuk mendukung pembangunan ekonomi inklusif dan berkelanjutan.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Grup Bank Pembangunan Islam atau Islamic Development Bank (IsDB) menyepakati dukungan pembangunan senilai US$2,56 miliar atau sekitar Rp45,7 triliun untuk Indonesia melalui Strategi Kemitraan Negara Anggota (Member Country Partnership Strategy/MCPS) periode 2026–2030.
Kesepakatan yang diumumkan pada Kamis, 8 Oktober 2026 tersebut menjadi kerangka kerja sama pembangunan selama lima tahun ke depan. Dukungan IsDB diarahkan untuk membantu pemerintah Indonesia menjalankan prioritas pembangunan, mulai dari infrastruktur dan ketahanan pangan hingga transisi energi, pendidikan, kesehatan, serta pengembangan keterampilan tenaga kerja.
Strategi kemitraan tersebut mengusung tema “Mendukung Transformasi Ekonomi Inklusif dan Berkelanjutan untuk Indonesia yang Makmur dan Tangguh”. Pelaksanaannya dikembangkan bersama pemerintah Indonesia dan diselaraskan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 serta Kerangka Strategis 10 Tahun Grup IsDB 2026–2035.
Baca juga : JAPFA Ketiban Peluang MBG, Laba Naik 97 Persen Tapi Utang Membengkak
IsDB Siapkan Dua Pilar Pembiayaan Pembangunan Indonesia
Strategi kemitraan IsDB dengan Indonesia memiliki dua pilar utama yang mencakup pembangunan infrastruktur serta pengembangan sumber daya manusia dan tenaga kerja.
Pilar pertama berfokus pada pembangunan infrastruktur, termasuk transportasi dan konektivitas, ketahanan pangan, serta transisi energi. Sektor-sektor tersebut memiliki keterkaitan dengan produktivitas ekonomi, distribusi barang, dan kemampuan Indonesia memperkuat ketahanan terhadap perubahan ekonomi global.
Pembangunan transportasi dan konektivitas, misalnya, berpotensi membantu memperlancar distribusi barang dan jasa. Infrastruktur yang memadai dapat mengurangi hambatan logistik, memperluas akses pasar, serta mendukung kegiatan ekonomi antardaerah.
Sementara itu, dukungan terhadap ketahanan pangan diarahkan pada salah satu kebutuhan strategis Indonesia, yakni menjaga ketersediaan dan keberlanjutan pasokan pangan. Adapun transisi energi menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Pilar kedua berfokus pada pembangunan sumber daya manusia dan tenaga kerja. Cakupannya meliputi penguatan sistem kesehatan serta perluasan akses pendidikan dan keterampilan.
Pengembangan sumber daya manusia menjadi aspek penting karena pembangunan infrastruktur perlu diikuti peningkatan kapasitas masyarakat agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas. Pendidikan, keterampilan, dan akses kesehatan yang memadai juga berkaitan dengan produktivitas tenaga kerja.
Selain dua pilar tersebut, strategi kemitraan IsDB mencakup bidang lintas sektoral berupa keuangan Islam, aksi iklim, serta pemberdayaan perempuan dan pemuda.
Namun, informasi mengenai nilai US$2,56 miliar tersebut belum merinci alokasi dana untuk masing-masing sektor. Karena itu, belum dapat dipastikan berapa besar pembiayaan yang akan diterima sektor infrastruktur, pangan, energi, pendidikan, atau kesehatan.
Baca juga : Gen Z Jangan Anggap Sepele Overthinking, Ini Bahaya dan Cara Mengatasinya
Infrastruktur dan Ketahanan Pangan Menjadi Fokus Kerja Sama
Pilar infrastruktur dalam strategi IsDB mencakup transportasi, konektivitas, ketahanan pangan, dan transisi energi. Keempat bidang tersebut memiliki peran dalam mendukung aktivitas ekonomi dan memperkuat daya tahan Indonesia terhadap berbagai risiko pembangunan.
Pada sektor transportasi, peningkatan konektivitas dapat membantu memperlancar pergerakan manusia dan barang. Efisiensi logistik berpotensi mendukung dunia usaha, terutama sektor yang bergantung pada distribusi bahan baku dan produk ke berbagai wilayah.
Dalam ketahanan pangan, pembangunan infrastruktur dan penguatan sistem produksi dapat membantu mengurangi hambatan distribusi serta mendukung ketersediaan pangan. Namun, dampak akhirnya akan bergantung pada jenis proyek, lokasi pelaksanaan, dan penerima manfaatnya.
Di sektor energi, dukungan terhadap transisi energi berkaitan dengan kebutuhan mengembangkan sistem energi yang lebih berkelanjutan. Pelaksanaannya dapat berhadapan dengan kebutuhan investasi, kesiapan infrastruktur, serta tantangan pembiayaan jangka panjang.
Meski sektor-sektor tersebut masuk dalam strategi kemitraan, belum tersedia rincian dalam informasi yang diberikan mengenai proyek spesifik yang akan didanai. Dengan demikian, manfaat langsung bagi daerah, perusahaan, maupun masyarakat baru dapat dinilai setelah program dan mekanisme pembiayaannya diumumkan secara lebih terperinci.
Selain infrastruktur, IsDB menempatkan pengembangan sumber daya manusia dan tenaga kerja sebagai pilar kedua kerja sama dengan Indonesia.
Baca juga : Defisit APBN 2026 Dibayangi Tekanan Subsidi dan Bunga Utang
Dukungan tersebut mencakup penguatan sistem kesehatan serta perluasan akses pendidikan dan keterampilan. Bidang ini penting untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan kebutuhan industri dan pasar tenaga kerja.
Pendidikan dan pelatihan keterampilan dapat membantu tenaga kerja menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan dunia usaha. Sementara itu, sistem kesehatan yang lebih kuat menjadi salah satu faktor pendukung produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
Strategi tersebut juga memasukkan pemberdayaan perempuan dan pemuda sebagai isu lintas sektoral. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kemitraan tidak hanya diarahkan pada pembangunan fisik, tetapi juga pada perluasan kesempatan ekonomi dan partisipasi masyarakat.
Meski demikian, besarnya dampak program terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan, atau akses kesehatan akan bergantung pada desain kegiatan, sasaran penerima manfaat, dan hasil pelaksanaannya.

Muhammad Imam Hatami
Editor
