IPO BACH, JECX, dan EMMI Mulai Hilang Tenaga? Simak Analisisnya
- BACH, JECX, dan EMMI mulai terkoreksi usai reli IPO di BEI. Simak analisis prospek, risiko, dan saham mana yang masih menarik dikoleksi.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Euforia saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.
Setelah mencatatkan kenaikan signifikan pada hari pertama perdagangan, tiga emiten baru yakni PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) mulai menghadapi tekanan jual pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026.
Fenomena ini memperlihatkan pola yang kerap terjadi pada saham IPO di Indonesia, yakni reli tajam pada awal pencatatan yang kemudian diikuti aksi ambil untung (profit taking) oleh investor.
Lantas, bagaimana prospek masing-masing emiten? Mana yang masih menarik dipertahankan dan mana yang perlu diwaspadai?
Pergerakan BACH
PT Bach Multi Global Tbk menjadi salah satu IPO yang paling banyak mendapat perhatian investor karena keterkaitannya dengan Grup Djarum.
Perseroan bergerak di bidang solusi daya dan infrastruktur telekomunikasi. Setelah IPO, PT Global Telekomunikasi Prima akan meningkatkan kepemilikan saham menjadi 51% sehingga memperkuat posisi Grup Djarum sebagai pengendali.
Pada hari pertama perdagangan, BACH langsung menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) di Rp550 atau naik 24,43% dari harga IPO. Namun pada perdagangan Kamis pagi, saham ini sempat kembali menyentuh ARA di Rp685 sebelum akhirnya mengalami tekanan jual.
Hingga sekitar pukul 10.56 WIB, harga berada di kisaran Rp590.
Sentimen positif
- Didukung Grup Djarum sehingga memperoleh kepercayaan investor.
- Menargetkan laba bersih mencapai Rp401 miliar pada 2030 atau tumbuh sekitar 158%.
- Berencana membagikan dividen hingga 50% laba bersih mulai 2027.
Risiko yang muncul
- Net sell mencapai sekitar Rp122,7 miliar, tertinggi di antara saham yang mengalami tekanan jual hari itu.
- Volume perdagangan mencapai sekitar 547 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp343 miliar.
- Besarnya aksi ambil untung mengindikasikan investor besar mulai merealisasikan keuntungan.
Secara teknikal, area Rp550 menjadi level penting yang perlu dipertahankan. Apabila ditembus, peluang koreksi lanjutan akan semakin besar.
Baca juga : IHSG Dibuka Turun 0,3 Persen, JELI-BACH Masih ARA
Pergerakan JECX
PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) menjadi emiten dengan volatilitas tertinggi setelah dua hari berturut-turut ARA. Perusahaan yang mengelola jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics ini berhasil menghimpun dana IPO sebesar Rp609,98 miliar dengan tingkat kelebihan permintaan (oversubscription) mencapai 62,5 kali.
Pada hari pertama perdagangan, saham langsung naik 24,8% dan menyentuh ARA. Sehari berikutnya saham kembali ARA hingga mencapai Rp1.950.Namun euforia tersebut tidak bertahan lama. Pada Kamis pagi, saham langsung terkoreksi sekitar 14,87% menjadi Rp1.660.
Faktor yang masih menjadi daya tarik JECX
- Industri layanan kesehatan masih memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.
- Dana IPO akan digunakan untuk ekspansi rumah sakit dan klinik mata.
Risiko yang perlu dicermati
- Koreksi dua digit setelah dua hari ARA menunjukkan volatilitas sangat tinggi.
- Volume perdagangan relatif tipis sehingga harga lebih mudah bergerak ekstrem.
- Banyak investor diperkirakan masih terjebak pada harga tinggi ketika saham berada di level ARA.
Fenomena ini merupakan pola klasik IPO hype, ketika harga terdorong jauh di atas valuasi awal akibat euforia pasar sebelum akhirnya mengalami penyesuaian.
Saham EMMI Menjadi yang Paling Lemah
Berbeda dengan dua emiten lainnya, PT Esa Medika Mandiri Tbk justru menunjukkan pelemahan paling besar terhadap harga penutupan sebelumnya. Perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan alat laboratorium, farmasi, dan alat kesehatan.
Saat IPO, perseroan menawarkan lebih dari 522 juta saham baru dengan harga Rp470 per saham. Pada hari pertama perdagangan memang sempat menyentuh ARA di Rp585, tetapi gagal mempertahankan posisi tersebut dan ditutup di Rp550. Pada Kamis pagi, harga terus turun hingga berada di kisaran Rp492.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: ESSA dan PGEO Ngebut, HRTA Ambruk
Kelemahan utama
- Menjadi satu-satunya emiten yang gagal mempertahankan ARA pada hari debut.
- Kini hanya berada sekitar 4,68% di atas harga IPO.
- Dari puncak Rp585 menuju Rp492, harga telah turun sekitar 15,9%.
Risiko ke depan
- Jika harga kembali mendekati Rp470 atau harga IPO, tekanan psikologis investor dapat meningkat.
- Likuiditas perdagangan relatif lebih rendah dibanding dua emiten lainnya.
Pergerakan BACH, JECX, dan EMMI memperlihatkan pola yang hampir selalu muncul pada saham IPO di Indonesia. Beberapa penyebabnya antara lain,
- Jumlah saham yang beredar di awal relatif terbatas sehingga mudah terdorong naik.
- Antusiasme investor ritel menciptakan antrean beli yang panjang.
- Setelah harga melonjak, investor awal mulai melakukan profit taking.
- Harga kemudian bergerak menuju level yang lebih mencerminkan fundamental perusahaan.
Dengan kata lain, kenaikan pada hari pertama belum tentu mencerminkan nilai intrinsik perusahaan.
Baca juga : Rupiah Kembali ke Level Psikologis Rp18.000/US$, Apa Artinya?
Mana yang Masih Menarik?
BACH - Waspada
Kelebihan
- Fundamental didukung Grup Djarum.
- Target pertumbuhan laba cukup agresif.
- Ada rencana pembagian dividen.
Risiko
- Tekanan jual mulai besar.
- Net sell menunjukkan investor besar mulai keluar.
JECX - Waspada Tinggi
Kelebihan
- Industri kesehatan masih prospektif.
- Dana IPO digunakan untuk ekspansi.
Risiko
- Volatilitas sangat tinggi.
- Sudah mengalami koreksi dua digit setelah reli dua hari.
- Harga masih jauh di atas IPO sehingga ruang koreksi masih terbuka.
EMMI - Perlu Evaluasi
Kelebihan
- Bergerak di sektor kesehatan dan alat laboratorium.
Risiko
- Performa paling lemah.
- Minat pasar mulai menurun.
- Berpotensi kembali menguji harga IPO apabila tekanan jual berlanjut.
Bagi investor yang belum masuk, banyak analis menyarankan tidak terburu-buru mengejar harga setelah reli tajam. Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain,
- Tunggu hingga harga menemukan area support yang kuat.
- Perhatikan volume transaksi saat koreksi berlangsung.
- Jangan hanya mengandalkan euforia IPO, tetapi analisis juga fundamental perusahaan.
- Sesuaikan strategi apakah untuk trading jangka pendek atau investasi jangka panjang.
Pada akhirnya, reli besar setelah IPO bukan jaminan saham akan terus naik. Pengalaman di Bursa Efek Indonesia menunjukkan banyak saham yang mengalami lonjakan signifikan pada hari pertama sebelum memasuki fase konsolidasi akibat aksi ambil untung.
Oleh karena itu, disiplin dalam mengelola risiko dan memahami fundamental emiten tetap menjadi kunci utama dalam mengambil keputusan investasi.

Chrisna Chanis Cara
Editor
