Tren Pasar

Rupiah Kembali ke Level Psikologis Rp18.000/US$, Apa Artinya?

  • Rupiah melemah ke Rp18.055 per dolar AS dan menjadi mata uang terlemah di Asia. Simak penyebab pelemahan, sentimen pasar, dan dampaknya bagi masyarakat.
uang rupiah.jpg
Ilustrasi orang membawa uang ratusan ribu rupiah di tangannya. (pexels/ahsanjaya) (pexels/ahsanjaya)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Kamis, 9 Juli 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,31% ke level Rp18.055 per dolar AS di pasar spot. 

Tak lama setelah pembukaan perdagangan, rupiah kembali terdepresiasi hingga menyentuh Rp18.070 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB. Pelemahan ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada perdagangan pagi ini.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah masih kuatnya indeks dolar AS yang bertahan di level 101,01, sementara harga minyak mentah Brent kembali naik ke US$78,74 per barel setelah sempat berada di kisaran US$71,9 per barel pada awal pekan.

Kenaikan harga minyak turut menekan mayoritas mata uang kawasan Asia. Won Korea Selatan, dolar Taiwan, baht Thailand, peso Filipina, dan ringgit Malaysia sama-sama bergerak melemah terhadap dolar AS. Sebaliknya, yuan China, yen Jepang, yuan offshore, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong justru mampu mencatat penguatan.

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor global. Dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi juga masih membayangi sentimen pasar. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun selama tiga bulan berturut-turut menjadi 117,8 pada Juni, dari 120,9 pada Mei, sekaligus menjadi level terendah sejak September 2025. 

Di sisi lain, tekanan inflasi mulai meningkat, sementara perbaikan pasar tenaga kerja dinilai belum cukup kuat untuk menopang daya beli masyarakat. Sentimen lain datang dari keputusan S&P Dow Jones Indices yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang berpotensi mengalami reklasifikasi pasar pada 2027. 

Jika persoalan transparansi dan likuiditas pasar tidak membaik, pasar saham Indonesia berisiko diturunkan ke kategori special measures atau frontier market. Kondisi tersebut dapat memengaruhi persepsi investor asing terhadap aset keuangan domestik.

Apa artinya bagi masyarakat? Pelemahan rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS berpotensi meningkatkan biaya impor berbagai komoditas dan produk elektronik. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini dapat memberikan tekanan pada harga barang, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor. 

Bagi masyarakat yang memiliki rencana bepergian ke luar negeri atau membayar kewajiban dalam dolar AS, biaya yang dikeluarkan juga berpotensi meningkat.

Bagi investor, fokus kini tertuju pada pergerakan indeks dolar AS, harga minyak dunia, serta respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Selama sentimen global dan domestik belum membaik, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam rentang Rp18.050 hingga Rp18.150 per dolar AS.