IPA Mobile, Inovasi Dari ITB Ubah Air Keruh di Aceh Tamiang
- ITB menghadirkan IPA Mobile yang mampu mengubah air sungai keruh di Aceh Tamiang menjadi air bersih layak minum bagi warga terdampak bencana.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menghadirkan solusi air bersih bagi warga terdampak bencana di Aceh Tamiang melalui pengiriman Instalasi Pengolahan Air Mobile (IPA Mobile). Alat ini mampu mengolah air sungai yang keruh menjadi air bersih layak konsumsi, sekaligus menjawab kebutuhan dasar masyarakat di wilayah rawan banjir dan longsor.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh tim peneliti ITB dan telah memiliki paten nasional maupun internasional. IPA Mobile dirancang agar dapat beroperasi di lokasi darurat dengan memanfaatkan berbagai sumber air baku, mulai dari sungai, danau, situ, hingga embung.
Berdasarkan informasi pada salah satu akun Instagram dosen ITB Imam Santoso (@santosoim), inovasi tersebut dicetuskan oleh dua guru besar ITB yaitu Prof. Dr. Ir. Bagus Budiwantoro dan Prof. Ir. Edwan Kardena, Ph.D.
IPA Mobile yang dikirim ke Aceh Tamiang memiliki kapasitas produksi sekitar 2 liter per detik atau setara 7.000 liter air bersih per jam. Kapasitas ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan air minum dan sanitasi warga di lokasi terdampak bencana.
Teknologi Pengolahan Air Bertahap
Secara teknis, IPA Mobile bekerja melalui beberapa tahapan pengolahan. Air baku dari sungai disedot menggunakan sistem intake, kemudian diproses melalui tahap koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi untuk mengendapkan partikel kotoran halus. Setelah itu, air melewati proses filtrasi agar menghasilkan air yang lebih jernih dan aman digunakan.
Ketua Tim Pengembang IPA Mobile ITB, Prof. Dr. Ir. Bagus Budiwantoro, menjelaskan bahwa sistem ini memang dirancang untuk menjangkau masyarakat yang belum memiliki akses air bersih.
“IPA Mobile dirancang untuk membantu masyarakat yang belum mendapatkan layanan air bersih. Sistem ini memanfaatkan berbagai sumber air baku, seperti sungai, danau, situ, maupun embung,” ujarnya, dikutip Kamis, 8 Januari 2026.
Kolaborasi Lintas Lembaga
Pengiriman IPA Mobile ke Aceh merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, antara lain Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, Ikatan Alumni ITB, Yayasan LAPI ITB, serta Rumah Amal Salman ITB. Sejumlah mitra industri juga turut mendukung pengadaan dan distribusi alat tersebut.
Kehadiran IPA Mobile diharapkan dapat menjadi solusi cepat dalam kondisi darurat, terutama di daerah yang infrastruktur air bersihnya rusak akibat bencana alam. Dalam kondisi normal, fasilitas ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK) bagi 800 orang. Dalam kondisi darurat, kapasitas layanan ini dapat ditingkatkan hingga menampung sebanyak 1.200-1.600 orang.
Selain untuk kebutuhan darurat, teknologi ini juga berpotensi digunakan secara lebih luas di daerah terpencil dan wilayah dengan keterbatasan layanan air bersih. Inovasi ini dapat menjadi bagian dari solusi jangka menengah dalam memperkuat ketahanan air masyarakat di daerah rawan bencana.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
