IHSG Tertekan Sektor Energi, Waktunya Serok BMRI serta TLKM?
- IHSG anjlok 1,37% ke level 8.280 imbas tekanan sektor energi dan tarif global. Simak analisis teknikal Phintraco serta prospek saham BMRI, BRIS hingga TLKM.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada level 8.280,83 atau turun sedalam -1,37% pada akhir perdagangan hari Selasa, 24 Februari 2026. Indeks tersebut sempat bergerak menguat hingga menyentuh level 8.437 pada awal sesi transaksi bursa.
Sektor energi mencatatkan rekor koreksi paling besar pada perdagangan kemarin, sedangkan sektor keuangan sukses menjadi satu-satunya sektor penahan yang menguat. Pelemahan indeks tersebut sangat sejalan dengan nilai tukar Rupiah yang ditutup anjlok pada level Rp16.829/US$ di pasar spot harian.
Tim riset Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa pelemahan mata uang ini dipicu oleh koreksi mayoritas nilai tukar regional Asia. "Ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat serta prospek suku bunga yang relatif ketat sukses membuat Dolar kembali menguat," papar tim analis dalam risetnya pada Rabu, 25 Februari 2026.
1. Analisis Teknikal dan Support
Secara teknikal, momentum penguatan pada histogram MACD milik IHSG kini mulai menunjukkan tren pelemahan secara konsisten. "Pasar saat ini juga sedang menghadapi sebuah risiko akibat pembentukan Death Cross Stochastic RSI di area overbought," tulis laporan analisis teknikal harian Phintraco Sekuritas.
IHSG tercatat kembali ditutup berada di bawah batas level rata-rata pergerakan harian MA5 pada sekitar angka 8.306. Kondisi krusial tersebut memperkirakan bahwa tren koreksi bursa memiliki potensi besar terus berlanjut guna menguji level penahan support pada rentang 8.200 hingga 8.250.
Titik penahan atas atau level resistansi utama indeks saat ini berada kuat di angka 8.350 dengan nilai pivot 8.300. "Meski demikian, indikasi pantulan positif dari bursa Wall Street diperkirakan masih mampu mendorong laju IHSG bergerak menguat awal sesi," tambah analis.
2. Sentimen Suku Bunga Tiongkok
Sementara itu, sentimen makroekonomi turut datang dari bank sentral Tiongkok pada pekan ini. Pihak bank sentral kembali mengambil keputusan krusial untuk mempertahankan besaran target suku bunga pinjaman mereka secara tetap pada periode bulan Februari 2026 ini tanpa adanya perubahan.
Langkah berani mempertahankan suku bunga tersebut menandai periode stagnasi selama 9 bulan secara berturut-turut. "Otoritas moneter secara resmi menetapkan acuan dasar Loan Prime Rate untuk tenor pinjaman 1 tahun berada tetap di besaran 3% saat ini," ungkap tim analis.
Instrumen batas acuan pinjaman untuk durasi waktu yang lebih panjang juga masih tidak bergerak dari posisi awal mereka. Tingkat Loan Prime Rate bertenor 5 tahun secara meyakinkan diputuskan tetap menginjak batas level stabil pada angka 3,5% untuk bulan ini.
3. Rilis Data Inflasi Eropa
Bergeser ke kawasan Eropa pada hari Rabu, 25 Februari 2026, para investor global sedang menantikan sejumlah rilis data penting. Seluruh pelaku pasar akan memantau secara cermat publikasi survei GfK Consumer Confidence negara Jerman untuk periode indikator bulan Maret 2026.
Merujuk proyeksi konsensus pasar, rentang tingkat keyakinan publik tersebut diproyeksikan masih berada di zona pesimistis secara umum. Angka indikator kepercayaan konsumen itu diperkirakan berada di level -23,8 atau sedikit membaik jika dibandingkan capaian periode bulan sebelumnya di angka -24,1.
Selain tingkat keyakinan konsumen, pelaku pasar modal turut mengamati perkembangan indikator makroekonomi di blok perekonomian kawasan Euro. "Tingkat inflasi wilayah Euro Area bulan Januari 2026 diperkirakan melambat signifikan menjadi 1,7% secara tahunan dari sebelumnya sebesar 2%," jelas tim analis.
4. Deretan Saham Perbankan dan Infrastruktur
Menyikapi momentum pergerakan pasar saham yang penuh tantangan ini, tim riset merumuskan sejumlah saham unggulan untuk segera dilirik. Sektor keuangan membuktikan diri sebagai pilar kokoh yang sangat layak dikoleksi oleh seluruh investor ritel domestik pada sesi perdagangan Rabu, 25 Februari 2026.
"Kami merekomendasikan saham perbankan pelat merah yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebagai pilihan investasi utama," ungkap laporan tersebut. Rekomendasi perbankan ini turut dilengkapi oleh saham sektor syariah melalui emiten PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang prospektif.
Selain sektor finansial, terdapat 3 emiten raksasa lainnya yang masuk ke dalam daftar kumpulan saham pilihan terbaik. Jajaran saham menarik tersebut meliputi emiten PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) dan emiten kontraktor handal PT PP (Persero) Tbk (PTPP) hari ini.
5. Prospek Saham Telekomunikasi
Melengkapi jajaran rekomendasi saham unggulan dari sektor infrastruktur sebelumnya, tim analisis sekuritas juga menyodorkan nama emiten telekomunikasi nasional. "Saham pilar utama layanan telekomunikasi milik negara yakni PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sangat layak untuk dikoleksi bertahap," tambah laporan.
Para investor ritel tetap diwajibkan untuk memantau ketat pergerakan batas level harian secara teliti pada setiap sesi transaksi. Kedisiplinan tinggi dalam menerapkan batasan manajemen risiko finansial sangatlah diperlukan demi menghindari terjangan gelombang sentimen negatif koreksi pasar secara lebih masif.

Alvin Bagaskara
Editor
