Tren Pasar

IHSG Terseok-seok Dihajar Sentimen Global dan Domestik

  • IHSG berpotensi menguji level 6.000 dan menuju 5.800–5.900. Investor mencermati harga minyak, inflasi, yield US Treasury, dan bursa global.
IHSG Bursa Efek .jpg
Karyawan beraktivitas dengan latar layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 29 September 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali menguji level psikologis 6.000 pada perdagangan berikutnya. Jika indeks gagal bertahan dan ditutup di bawah level tersebut, IHSG berpeluang melanjutkan pelemahan menuju kisaran 5.800–5.900. 

Pernyataan diatas disampaikan oleh Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026, pergerakan IHSG masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. 

Dari eksternal, investor mencermati perkembangan kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), pergerakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak.

Di pasar obligasi AS, investor mulai mengalihkan perhatian ke surat utang dengan tenor pendek seiring meredanya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut menunjukkan investor masih berhati-hati dalam menentukan posisi di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter AS.

Sementara itu, obligasi AS tenor panjang masih menghadapi tekanan. Kekhawatiran terhadap inflasi dalam jangka panjang membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang surat utang dengan jatuh tempo panjang.

Imbal hasil atau yield US Treasury 10 tahun tercatat turun 5 basis poin menjadi 5,243%. Penurunan yield tersebut menjadi salah satu perhatian pelaku pasar karena perubahan imbal hasil surat utang AS dapat memengaruhi aliran modal ke aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang seperti Indonesia.

Baca juga : Harga Emas Turun, Pasar Tahan Napas Jelang Data Krusial

Harga Minyak dan Inflasi Meroket

Sentimen global juga datang dari pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent naik 4,4% menjadi sekitar US$102 per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pergerakan pasar semakin sensitif setelah kapal induk USS Theodore Roosevelt dikabarkan bergerak menuju kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak perlu diperhatikan Indonesia karena dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya energi dan harga barang. Jika berlangsung dalam waktu lama, kenaikan harga minyak berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi sekaligus neraca eksternal.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka tersebut meningkat dibandingkan inflasi Agustus 2026 yang berada di level 3,19%.

Secara bulanan, inflasi September tercatat sebesar 0,30%. Sementara itu, inflasi inti mencapai 2,84% secara tahunan.

Pergerakan inflasi inti menjadi salah satu indikator penting untuk melihat tekanan permintaan domestik. Inflasi inti yang masih relatif terkendali menunjukkan tekanan permintaan dalam perekonomian belum terlalu kuat.

Kondisi tersebut membuat inflasi belum diperkirakan menjadi tekanan besar bagi Bank Indonesia (BI) untuk memperketat kebijakan moneternya. Namun, perkembangan harga pangan tetap perlu menjadi perhatian karena kenaikan harga komoditas pangan dapat mengurangi daya beli masyarakat.

Tekanan inflasi juga perlu dilihat bersama perkembangan harga energi global. Apabila harga minyak bertahan tinggi, dampaknya dapat merambat ke biaya transportasi, produksi, hingga harga berbagai barang dan jasa.

Baca juga : Menguat, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 2 Oktober 2026?

Surplus Perdagangan Indonesia Melonjak

Sentimen positif datang dari sektor eksternal. Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$3,55 miliar pada Agustus 2026.

Surplus tersebut meningkat tajam dibandingkan posisi Juli 2026 yang hanya mencapai sekitar US$120 juta. Peningkatan surplus menunjukkan kinerja perdagangan Indonesia kembali menguat setelah surplus menyempit pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan data perdagangan Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$26,61 miliar atau tumbuh 6,72% secara tahunan. Sementara itu, nilai impor mencapai US$23,06 miliar atau tumbuh lebih tinggi sebesar 19,09% yoy.

Kenaikan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor menjadi perhatian karena dapat mempersempit surplus perdagangan pada periode berikutnya.

Jika pertumbuhan impor terus meningkat sementara ekspor menghadapi tekanan akibat pelemahan permintaan global atau penurunan harga komoditas, surplus perdagangan Indonesia berpotensi kembali menyusut.

Kondisi tersebut menjadi penting bagi pasar keuangan karena neraca perdagangan merupakan salah satu indikator yang mencerminkan kinerja sektor eksternal dan pasokan valuta asing Indonesia.

Bursa Asia dan Eropa Bergerak Tertekan

Dari pasar saham global, bursa Asia bergerak variatif. Nikkei, KOSPI, dan Hang Seng tercatat melemah, sedangkan Shanghai dan Straits Times masih mampu menguat tipis.

Pergerakan tersebut mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati dalam merespons perkembangan ekonomi global, kebijakan moneter AS, serta risiko geopolitik.

Tekanan lebih luas terlihat di pasar saham Eropa. Pada penutupan perdagangan 1 Oktober 2026, seluruh bursa utama Eropa tercatat melemah.

Euro Stoxx 50 turun 1,48%, FTSE 100 terkoreksi 1,68%, DAX melemah 1,03%, sedangkan CAC 40 turun 1,62%.

Pergerakan bursa Eropa turut menjadi perhatian investor karena pelemahan pasar saham global dapat memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca juga : IHSG Hari Ini Dibuka Stagnan di Level 6.018

Wall Street Menguat Tipis

Berbeda dengan Eropa, pasar saham Amerika Serikat ditutup menguat tipis. S&P 500 naik 0,19%, Nasdaq Composite bertambah 0,04%, sedangkan Dow Jones Industrial Average menguat 0,04%.

Kinerja Wall Street yang relatif stabil menunjukkan investor AS masih mempertahankan sikap hati-hati di tengah berbagai risiko global.

Dengan kombinasi sentimen tersebut, pergerakan IHSG selanjutnya akan bergantung pada kemampuan indeks mempertahankan level 6.000. Jika level tersebut mampu dipertahankan, perhatian investor akan tertuju pada stabilisasi pasar dan perkembangan sentimen eksternal.

Sebaliknya, apabila IHSG ditutup di bawah 6.000, area 5.800–5.900 menjadi kisaran yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Pergerakan harga minyak, yield US Treasury, inflasi domestik, serta perkembangan neraca perdagangan akan menjadi sejumlah faktor penting yang dapat memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek.