IHSG Masih Perkasa! Cek Potensi Cuan Saham CDIA dan CUAN
- Mau cuan hari ini? IHSG diprediksi uji resisten 8.215. Cek target saham CDIA, BKSL, dan APEX rekomendasi Phintraco sebelum harganya terbang.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan di level 8.131,74 (+1,24%) pada perdagangan Selasa, 10 Februari 2026. Tim Riset Phintraco Sekuritas memproyeksikan tren penguatan ini akan berlanjut dengan menguji level resistance baru, didukung oleh sejumlah rekomendasi saham pilihan yang potensial.
Pasar saham domestik tetap tangguh meskipun FTSE Russell mengumumkan penundaan index review Indonesia pada Maret 2026 mendatang. Phintraco menilai sentimen tersebut sudah diantisipasi oleh investor, sehingga tidak menghalangi laju penguatan indeks yang didorong oleh optimisme perbaikan fundamental ekonomi saat ini.
Fokus utama pasar hari ini Rabu, 11 Februari 2026, tertuju pada deretan saham unggulan (top picks) yang dinilai memiliki momentum teknikal terbaik untuk dicermati investor. Phintraco menuliskan dalam riset hariannya, "Diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dan menguji level 8200-8215,” jelas Tim Research Phintraco Sekuritas pada Selasa, 10 Februari 2026.
1. Menu Saham Pilihan Hari Ini
Phintraco Sekuritas merilis daftar saham pilihan atau top picks yang layak dicermati oleh pelaku pasar pada perdagangan hari ini. Fokus utama tertuju pada lima emiten yang dinilai memiliki indikator teknikal menarik untuk strategi trading jangka pendek yang menguntungkan portofolio.
Saham CDIA ditutup melesat ke level 1.120 (+7,18%) dan INET menguat ke posisi 348 (+4,19%) pada perdagangan kemarin sore. Kedua emiten ini menunjukkan potensi penguatan lanjutan di tengah pemulihan indeks sektoral saat ini yang sedang berlangsung cukup masif di bursa.
Emiten lain yang menarik adalah APEX yang terbang ke 204 (+7,94%) dan BKSL yang naik ke 136 (+2,26%). Sementara itu, meski CUAN terkoreksi tipis ke 1.640 (-0,30%), saham ini tetap masuk radar rekomendasi beli karena pola teknikalnya yang solid.
2. Sinyal Teknikal dan Target IHSG
Dalam analisis teknikalnya, Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa penguatan IHSG didasari oleh posisi harga yang bertahan di atas garis MA5. Hal ini dikonfirmasi oleh indikator MACD yang menunjukkan penyempitan histogram negatif, sinyal awal bahwa tekanan jual mulai mereda signifikan di pasar reguler.
Selain itu, indikator Stochastic RSI yang berlanjut reversal dari area jenuh jual menambah keyakinan akan potensi kenaikan lanjutan indeks. Phintraco menetapkan level Resistance di 8215, Pivot di 8100, dan Support di level 8000 untuk menjaga batas risiko perdagangan hari ini.
Komentar teknikal ini menegaskan bahwa struktur pasar saat ini cukup solid untuk menopang kenaikan lebih lanjut, terutama dari sentimen bursa global. Phintraco menambahkan, "Kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia berangsur-angsur mulai pulih kembali, didukung oleh tren penguatan indeks bursa global," terang Tim Research Phintraco Sekuritas.
3. Angin Segar Sentimen Global
Sentimen positif juga datang dari nilai tukar Rupiah yang berlanjut menguat ke level Rp16.790 per Dolar US di pasar spot. Penguatan ini didukung oleh tren pelemahan Dolar AS setelah adanya laporan bahwa regulator Tiongkok menghimbau lembaga keuangan menahan laju kepemilikan surat utang pemerintah AS.
Dari sisi data makro, investor hari ini akan mencermati data inflasi Tiongkok Januari 2026 yang diperkirakan melambat menjadi 0.5% YoY. Data ekonomi dari raksasa Asia ini menjadi perhatian penting investor global dalam membaca arah pemulihan ekonomi di kawasan regional Asia.
Sedangkan dari AS, pasar menanti rilis data nonfarm payrolls bulan Januari 2026. Diperkirakan terjadi penyerapan tenaga kerja sebanyak 40 ribu orang, dengan tingkat pengangguran naik menjadi 4.5%. Data ini akan sangat menentukan langkah The Fed terkait kebijakan suku bunga ke depan.
4. Stimulus Ritel dan Momen Lebaran
Phintraco juga menyoroti data penjualan ritel domestik yang tumbuh 3.5% YoY di Desember 2025. Angka ini menandakan pertumbuhan bulanan selama delapan bulan berturut-turut yang ditopang oleh stimulus pemerintah, menjaga daya beli masyarakat tetap stabil di tengah tantangan ekonomi yang ada.
Dengan adanya kenaikan indeks keyakinan konsumen pada Januari 2026 serta momen Tahun Baru Imlek, prospek ritel semakin cerah. Periode ini segera diikuti oleh bulan Ramadan dan Lebaran pada Februari-Maret 2026, yang secara historis selalu mendongkrak konsumsi rumah tangga secara masif.
Sentimen musiman ini menjadi katalis positif tambahan bagi saham-saham sektor terkait yang masuk dalam rekomendasi atau memiliki korelasi dengan peningkatan belanja masyarakat. Phintraco memprediksi, "Diperkirakan tren penjualan ritel pada Januari-Maret 2026 berpotensi akan cenderung meningkat secara signifikan."
5. Aksi Jual Asing di Big Caps
Meskipun IHSG menguat, investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) yang cukup masif di seluruh pasar pada Selasa kemarin. Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun oleh TrenAsia.Id, tekanan jual ini terpusat pada beberapa saham berkapitalisasi besar alias big cap.
Berikut adalah 5 saham dengan net sell asing terbesar menurut data TrenAsia.Id: BUMI memimpin dengan nilai Rp483,16miliar, diikuti oleh BBCA sebesar Rp328,08miliar. Posisi ketiga ditempati oleh DEWA dengan penjualan bersih asing mencapai angka Rp145,67miliar di pasar reguler.
Posisi keempat dan kelima diisi oleh BUVA (Rp134,59miliar) dan BBRI (Rp129,79miliar). TrenAsia.Id mencatat bahwa meskipun terjadi outflow pada saham-saham tersebut, IHSG tetap mampu bertahan di zona hijau berkat dorongan beli yang kuat dari investor domestik yang mendominasi pasar.

Alvin Bagaskara
Editor
