IHSG Jebol 9.000, Big Caps Rontok Gegara MSCI?
- IHSG jebol ke bawah level 9.000 terimbas sentimen aturan baru MSCI. Saham BRPT hingga BBCA jadi pemberat indeks di tengah risiko penyesuaian bobot asing.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jebol ke bawah level 9.000 pada penutupan perdagangan sesi pertama, Jumat, 23 Januari 2026. Pelaku pasar tampaknya bereaksi negatif mengantisipasi aturan free float baru serta rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan segera diumumkan.
Menutup sesi pertama perdagangan hari ini, IHSG terjerembab di zona merah pada level 8.876,89, terkoreksi tajam 1,28% dibandingkan penutupan sebelumnya. Tekanan jual yang masif membuat indeks tak mampu bangkit dan terus bergerak melemah hingga menyentuh level terendah hariannya di angka 8.837,82.
Koreksi dalam ini dimotori oleh kejatuhan saham-saham berkapitalisasi besar penghuni indeks LQ45. Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) memimpin pelemahan dengan anjlok 8,74%, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang ambles 4,89%, serta saham teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) minus 3,23%.
Selain faktor fundamental, tekanan jual juga terkonfirmasi dari sisi teknikal. Riset Panin Sekuritas melihat adanya pelebaran negative slope pada pergerakan indeks hari ini. Indikator Stochastic RSI juga terlihat terus turun menuju area oversold, mengindikasikan tekanan jual di pasar saham saat ini sangat dominan.
Bedah Riset: Perubahan Metodologi MSCI
Sentimen utama yang menekan pasar adalah revisi metodologi perhitungan free float MSCI. Dalam riset terbarunya, Phintraco Sekuritas menyoroti tiga poin krusial terkait rencana perubahan ini yang berpotensi mengubah peta bobot saham-saham unggulan Indonesia di indeks acuan investasi global tersebut.
Poin pertama, MSCI akan menerapkan aturan yang jauh lebih ketat untuk saham baru yang masuk indeks. Perhitungan akan dilakukan dengan cara yang lebih konservatif, sehingga bobot awal saham baru di dalam indeks nantinya akan relatif lebih kecil dibandingkan dengan perhitungan sebelumnya.
Poin kedua berkaitan dengan perhitungan Foreign Inclusion Factor (FIF) yang semakin diperketat oleh MSCI. FIF adalah faktor penentu besaran porsi saham yang bisa dimiliki investor asing. Jika angka FIF turun, bobot saham dalam indeks otomatis mengecil dan memicu penyesuaian portofolio global.
Ketiga, Phintraco Sekuritas mencatat rencana MSCI memperbarui perhitungan free float dengan mengacu data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). MSCI menyusun dua skenario perhitungan baru, yakni proposed methodology dan alternate methodology, yang akan menentukan nasib bobot saham-saham berkapitalisasi besar di pasar modal Indonesia.
Pada skenario proposed methodology, MSCI akan menghitung saham warkat atau script shares, kepemilikan korporasi lokal dan asing, serta kategori others sebagai saham non-free float. Dampak dari skenario ketat ini cukup serius karena sejumlah saham big caps berpotensi mengalami penurunan free float signifikan.
Risiko Outflow dan Penurunan Bobot
Kekhawatiran pasar tercermin jelas pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang dilego asing hingga Rp3,5 triliun sejak awal tahun. Simulasi MSCI bulan September lalu menunjukkan BBCA berpotensi mengalami arus keluar dana asing terbesar jika aturan bobot baru benar-benar diterapkan.
Secara struktural, posisi Indonesia dalam indeks MSCI Global Standard memang terus melemah dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah saham Indonesia yang masuk indeks bergengsi tersebut menyusut signifikan dari 28 saham pada tahun 2019 menjadi hanya tersisa 18 saham pada tahun 2025 ini.
Selain BBCA, empat saham dinilai berisiko karena kapitalisasi pasar free float-nya mendekati batas minimum. Mereka adalah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), serta PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Phintraco Sekuritas memperingatkan bahwa jika MSCI menerapkan perubahan metodologi ini, pasar berpotensi menghadapi volatilitas tinggi dalam jangka pendek. Hal ini terutama akan berdampak pada saham-saham yang memiliki eksposur besar untuk masuk atau keluar dari perhitungan indeks acuan investor global tersebut.

Alvin Bagaskara
Editor
