IHSG Ambruk, Waktunya Investor Borong Saham Murah Meriah
- JAKARTA-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol hingga 6,58%, menjadi waktu yang tepat untuk investor memborong saham-saham blue chips dengan harga murah...

Aprilia Ciptaning
Author


Pekerja melihat layar pergerakan saham di Jakarta, Senin (9/3/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari Senin (9/3/2020) sore, ditutup melemah 6,58% atau 361,73 poin ke level 5.136,80 yang merupakan level terendah sejak Desember 2016. / Antara Foto
(Istimewa)JAKARTA-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol hingga 6,58%, menjadi waktu yang tepat untuk investor memborong saham-saham blue chips dengan harga murah meriah.
Pada perdagangan hari ini, Senin, 9 Maret 2020, IHSG ditutup ambrol 6,58% sebesar 361,81 poin ke level 5.136,81. Sehingga, IHSG telah merosot 18,46% sejak awal tahun.
Tidak anjlok sendirian, bursa saham dunia juga mengalami tekanan akibat virus corona dan anjloknya harga minyak mentah dunia.
Indeks milik Thailand tercatat menjadi indeks yang terhempas paling dalam di kawasan regional. SET Index milik Thailand anjlok sedalam 7,98% ke level 1.255. Sementara indeks STI milik Singapura terkoreksi 6,02% ke level 2.782 dan FTSE Index Malaysia terkoreksi 3,97% ke level 1.424.
Adapun di kawasan Asia, Indeks Nikkei milik Jepang turun 5,07% ke level 19.698. Lalu Indeks Hang Seng milik Hong Kong juga terhempas 4,23% ke level 25.040 dan Indeks Hang Seng milik Shang Hai tercatat turun 3,01% ke level 25.040.
Belum lama ini, IHSG juga terjungkal nyaris menyentuh level 5% akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap virus corona. Ambrolnya IHSG menyusul bursa utama dunia yang terperosok cukup dalam beberapa pekan lalu.
Memang, ambrolnya IHSG pada Senin, 9 Maret 2020 menjadi penurunan terdalam selama 8,5 tahun terakhir. Ambruknya IHSG terjadi lantaran dorongan indeks sektoral yang juga berakhir di zona merah.
Misalnya, sektor aneka industri yang turun terdalam 9,42%, disusul oleh sektor pertanian turun 7,92%, dan sektor industri kimia dasar yang terkoreksi 7,35%.
Menurut hasil analisis Eastspring Investments, penurunan tersebut dipicu oleh turunnya harga minyak mentah dunia sedalam 26% ke level US$33,32 per barel.
Sebagai informasi, harga minyak dunia anjlok setelah pertemuan negara-negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) tidak menghasilkan kesepakatan. Namun, Arab Saudi tetap memutuskan untuk menurunkan harga pada kisaran US$6-US$8 per barel untuk periode April 2020.
Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan, penurunan harga minyak dunia yang diikuti dengan anjloknya IHSG tersebut telah menyebabkan Indeks Keyakinan Konsumen turun ke level 117,7. Hal ini ikut menjadi faktor yang memengaruhi kepercayaan investor.
“Rupiah turun lebih dari satu persen, sebesar 1,05% ke level Rp14.392,50 per dolar AS. Ini telah memberikan sinyal panik pada investor domestik maupun asing terhadap asset berisiko di dalam negeri,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin, 9 Maret 2020.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengambil langkah dengan mengizinkan emiten untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham maksimum 20% tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Kebijakan tersebut dilakukan sebagai upaya memberikan stimulus perekonomian dan mengurangi dampak pasar yang berfluktuasi secara signifikan, seperti diungkapkan oleh Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo dalam keterangan tertulis.
Untuk prediksi jangka waktu, Lanjar mengungkapkan, secara teknikal potensi pelemahan IHSG masih menghantui dan belum ada tanda-tanda pembalikan arah.
“Kalau pun rebound, hanya berbalik kuat di atas 5.100 sehingga diperkirakan IHSG masih cenderung bearish dengan potensi aksi buy on weakness oleh investor,” kata dia.
