Tren Global

Hormuz Membara, Pakistan, Eropa, Filipina hingga RI Panik Soal BBM

  • Blokade Selat Hormuz picu krisis BBM global. Pakistan tutup sekolah, Filipina kerja 4 hari, Indonesia pacu cadangan 3 bulan, ini respons tiap negara.
Selat Hormuz.jpg
Selat Hormuz (www-strausscenter-org.)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Sebuah chokepoint selebar 33 kilometer di ujung Teluk Persia sedang mengubah rutinitas jutaan orang di seluruh dunia. Sejak awal Maret 2026, Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dan gas bumi dunia hampir berhenti berfungsi setelah Iran merespons serangan militer Amerika Serikat dan Israel dengan menutup jalur strategis itu. 

Negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk mulai memangkas produksi, Irak dan Kuwait telah melakukan shut-in, sementara analis memperingatkan bahwa Uni Emirat Arab dan Arab Saudi bisa menyusul.

Menurut consulting firm Rapidan Energy, penutupan Selat Hormuz memicu disrupsi pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah. Harga minyak menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022. 

Proyeksi Rystad Energy bahkan menyebut harga Brent bisa melonjak ke US$135 per barel jika situasi ini berlangsung empat bulan. Tidak ada negara importir minyak yang bisa bersembunyi dari hantaman ini, masing-masing negara kini bergerak dengan caranya sendiri.

Baca juga : Perang Timur Tengah Bisa Bikin Kopi Favoritmu Makin Mahal

Pakistan

Pakistan merupakan salah satu negara pertama yang mengumumkan langkah darurat. Empat eksportir bahan bakar terbesar Pakistan UEA, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait semuanya adalah negara yang telah menghentikan produksi atau tidak bisa mengekspor akibat penutupan Selat Hormuz.

Dikutip laman Middle East Eye, Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengumumkan lebih dari selusin kebijakan penghematan dalam pidato yang disiarkan langsung di televisi, termasuk penghentian sementara gaji para menteri kabinet, penutupan sekolah, dan peralihan ke pekan kerja empat hari. 

Bensin naik rekor 55 rupee per liter kenaikan terbesar dalam sejarah Pakistan seiring dengan lonjakan harga minyak global sebesar 36 persen akibat perang.

Pemerintah Provinsi Sindh menggelar rapat kabinet khusus untuk membahas pembatasan pasokan bensin bagi kendaraan, mendorong warga mengurangi perjalanan tidak penting, serta mengalihkan sekolah ke kelas daring. 

Kebijakan serupa diterapkan di Punjab, di mana Gubernur Maryam Nawaz memangkas jatah bahan bakar kendaraan dinas pejabat hingga 50 persen dan menghentikan hak bensin gratis bagi para menteri.

Sektor industri turut terdampak, pabrik pupuk Agritech yang beroperasi menggunakan LNG terpaksa menghentikan produksi setelah pemasok mengumumkan force majeure akibat konflik. 

Sementara untuk minyak mentah, Pakistan mengalihkan pembelian dari Arab Saudi melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah, menghindari rute Hormuz, langkah yang meningkatkan biaya transportasi secara signifikan.

Baca juga : Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Hantu Inflasi Impor Pangan Kian Nyata

Filipina

Dilansir laman AFP, Pemimpin Manila, menyambut krisis ini dengan kalimat yang terasa pedih. "Kami adalah korban dari perang yang bukan pilihan kami," kata Presiden Ferdinand Marcos Jr. dalam pernyataan resmi, seraya mengumumkan peralihan ke pekan kerja empat hari untuk seluruh kantor pemerintah.

Marcos memperingatkan bahwa penutupan efektif Selat Hormuz akan mendorong kenaikan harga BBM minggu berikutnya sebesar 7,48 peso per liter untuk bensin, 17,28 peso untuk diesel, dan 32,35 peso untuk minyak tanah.  Di negara di mana banyak rakyat kecil bergantung pada angkutan umum berbahan bakar diesel, kenaikan itu langsung terasa di meja makan.

Filipina mengimpor 95% minyak mentahnya dari Timur Tengah. Setiap kenaikan US$10 per barel harga minyak diperkirakan memangkas pertumbuhan PDB negara itu sebesar 0,2 persen dan mendorong inflasi naik 0,6 persen.

Departemen Energi Filipina bahkan memperingatkan bahwa harga bensin bisa menembus 90 peso per liter, sebuah skenario yang kini bukan lagi angan-angan, melainkan risiko nyata.

Sebagai penyangga, pemerintah mengonfirmasi stok bahan bakar nasional sebesar 60 hari kebutuhan, tiga kali lipat batas minimum dan berkoordinasi dengan perusahaan minyak lokal untuk menjadwal kenaikan harga secara bertahap agar tidak menimbulkan kejutan inflasi sekaligus.

Jepang dan Korea Selatan

Di Jepang, importir LNG terbesar kedua di dunia harga kontrak berjangka listrik untuk wilayah Tokyo untuk tahun fiskal yang dimulai April melonjak lebih dari sepertiga dalam satu pekan, mengantisipasi kenaikan harga bahan bakar berkelanjutan. Di Seoul, warga antre panjang di SPBU sejak dini hari mengantisipasi lonjakan harga di pompa.

Eropa

Eropa menghadapi pukulan ganda, kawasan ini sebelumnya sudah berjuang menggantikan pasokan gas Rusia pascainvasi Ukraina 2022, dan kini harus bersaing memperebutkan LNG di pasar yang semakin ketat. Eropa butuh 180 kargo LNG tambahan dibanding tahun lalu untuk mengisi tangki penyimpanan gas sebelum musim dingin berikutnya.

Indonesia

Bagi Indonesia, krisis ini bukan ancaman abstrak. Produksi minyak nasional saat ini hanya berkisar 500.000 - 600.000 barel per hari, jauh di bawah kebutuhan 1,5–1,6 juta barel per hari. 

Kesenjangan itu ditutup lewat impor, dan sekitar 19 - 25 % kebutuhan minyak mentah nasional setara 25,36 juta barel per tahun, selama ini dipasok dari kawasan Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.

Dua kapal tanker milik Pertamina dilaporkan terjebak di Selat Hormuz selama lebih dari tiga hari sejak 2 Maret 2026, yang langsung mempengaruhi siklus pasokan di depo dan terminal BBM dalam negeri.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan cadangan BBM nasional masih aman untuk 20 hari ke depan. "Masih cukup 20 hari," kata Bahlil usai dipanggil Presiden Prabowo Subianto ke Istana Kepresidenan untuk membahas antisipasi penutupan Selat Hormuz, Senin, 2 Maret 2026.

Sebagai respons cepat, Presiden Prabowo menginstruksikan peningkatan kapasitas cadangan BBM nasional hingga setara tiga bulan kebutuhan dari sebelumnya hanya 20-an hari. Pemerintah juga mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat, Afrika, dan Australia, serta menjamin harga BBM bersubsidi tidak naik hingga Idul Fitri.

Khusus untuk LPG, sekitar 70% dari kebutuhan nasional yang mencapai 7,3 - 7,8 juta ton per tahun kini diarahkan diimpor dari Amerika Serikat, menjauhi ketergantungan pada pasokan Timur Tengah.

Namun para akademisi menilai mitigasi jangka pendek belum cukup. Analisis Universitas Jenderal Soedirman mencatat bahwa cadangan BBM Indonesia yang hanya 20 hari jauh di bawah standar IEA yang merekomendasikan 90 hari. Mereka mendesak percepatan pembangunan Strategic Petroleum Reserve (SPR) nasional, akselerasi transisi energi terbarukan, dan revisi asumsi makro APBN yang lebih konservatif dalam memperhitungkan risiko geopolitik.

APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak US$70 per barel. Setiap kenaikan US$1 per barel di atas asumsi itu menambah beban belanja negara sekitar Rp10,3 triliun. 

Jika harga minyak menembus US$100 - US$120 per barel, tambahan beban bisa mencapai Rp515 triliun, lebih besar dari anggaran program Makan Bergizi Gratis setahun penuh.