Tren Pasar

Harga Minyak Mendidih, Saham Batu Bara dan CPO Bisa Panen Windfall

  • Pasar energi global kembali diguncang ketegangan hebat. Harga minyak mentah dunia melesat hingga 8%, menyentuh angka US$99 per barel dalam perdagangan intraday Kamis.
1635329005806.webp
Ilustrasi Batu Bara (TrenAsia)

JAKARTA – Pasar energi global kembali diguncang ketegangan hebat. Harga minyak mentah dunia melesat hingga 8%, menyentuh angka US$99 per barel dalam perdagangan intraday Kamis 12 Maret 2026. Gejolak ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang kini mulai mengancam jalur urat nadi minyak dunia.

Kenaikan harga ini terjadi setelah laporan mengejutkan mengenai insiden di Selat Hormuz dan Teluk Persia. Setidaknya tiga kapal dilaporkan terkena proyektil setelah Garda Revolusi Iran mengonfirmasi tindakan tegas terhadap kapal-kapal yang dianggap tidak mematuhi instruksi mereka.

Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, memberikan pernyataan keras bahwa pihaknya tidak akan mengizinkan pengiriman minyak bagi AS, Israel, dan sekutunya. Ancaman ini tidak main-main; Zolfaqari bahkan memperingatkan bahwa harga minyak dunia berpotensi meroket hingga US$200 per barel jika blokade dan ketegangan terus berlanjut.

Rekor Pelepasan Cadangan IEA yang "Tak Berdaya"

Ironisnya, lonjakan harga ini terjadi hanya sehari setelah International Energy Agency (IEA) mengumumkan langkah darurat paling ambisius dalam sejarah mereka. Pada Rabu (11/3), IEA sepakat melepas 400 juta barel cadangan minyak kolektif untuk meredam volatilitas pasar.

Namun, pasar tampaknya skeptis. Analisis dari Stockbit menunjukkan bahwa meskipun volume total cadangan tersebut sangat besar, kapasitas pelepasan harian secara historis hanya berkisar di angka 2 juta barel per hari. Angka ini jauh dari cukup untuk menutupi potensi hilangnya pasokan sebesar 20 juta barel per hari jika Selat Hormuz benar-benar lumpuh.

"Respons pasar yang tetap naik mengindikasikan ketidakyakinan terhadap efektivitas intervensi IEA," tulis Edi Chandren, Investment Analyst Lead Stockbit, dalam risetnya Kamis 12 Maret 2026.

Ia menambahkan bahwa jika intervensi pasokan gagal, pasar mungkin akan dipaksa masuk ke fase demand destruction (penghancuran permintaan) melalui kenaikan suku bunga yang lebih agresif.

Dilema Bagi Indonesia dan IHSG

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, harga minyak yang tinggi dalam waktu lama akan memberikan tekanan berat pada APBN. Beban subsidi energi yang membengkak dapat memaksa pemerintah mengambil langkah pahit: menaikkan harga BBM atau memangkas belanja negara.

Selain itu, tekanan inflasi global yang dipicu harga energi dapat mendorong Bank Indonesia untuk ikut memperketat kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga.

Namun, di sisi lain, Indonesia memiliki "bantalan" komoditas. Secara historis, kenaikan harga minyak sering kali menyeret harga batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) ikut terbang. Sebagai eksportir utama kedua komoditas tersebut, Indonesia berpotensi mendapatkan kompensasi pendapatan negara (windfall).

Dalam situasi ketidakpastian ini, analis Stockbit menyarankan investor untuk mencermati saham-saham berbasis komoditas ekspor. Sektor batu bara dan CPO diprediksi akan menjadi safe haven bagi portofolio di tengah badai harga energi.

Beberapa emiten yang layak diperhatikan antara lain dari sektor batu bara seperti Adaro Andalan Indonesia (AADI) dan Indo Tambangraya Megah (ITMG). Lalu sektor CPO seperti Triputra Agro Persada (TAPG) dan Dharma Satya Nusantara (DSNG).