Tren Pasar

Hadapi Rupiah Jeblok, BCA Siapkan Jurus Konservatif

  • Rupiah tembus Rp16.985, BCA perketat risiko valas. Simak jurus BBCA hadapi gejolak kurs dan analisis ekonom soal strategi hedging asing saat IHSG cetak rekor.
Menara BCA.jpeg
Menara BCA di Bundaran HI milik PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), bank swasta terbesar di Indonesia yang sahamnya digenggam oleh keluarga konglomerat Michael-Robert Hartono / Bca.co.id (Bca.co.id)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengambil langkah antisipatif dengan memperketat manajemen risiko valuta asing. Langkah ini merespons pelemahan nilai tukar Rupiah yang kian dalam hingga menyentuh level Rp16.985 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin, 19 Januari 2026.

Pelemahan mata uang Garuda sebesar 0,18% pagi ini terjadi di tengah fenomena anomali, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru sedang mencetak rekor tertinggi (All Time High). Situasi kontradiktif ini memaksa perbankan raksasa untuk menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent) ekstra.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menegaskan bahwa perseroan fokus menjaga fundamental bisnis yang berkelanjutan. Di tengah volatilitas pasar, BCA memilih strategi defensif dalam mengelola eksposur mata uang asing.

"Di tengah fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap valuta asing, BCA mengelola risiko terkait eksposur valuta asing dengan menjaga rasio Posisi Devisa Neto (PDN) secara konservatif," ujarnya ketika dihubungi pada Selasa, 20 Januari 2026. 

Hera menambahkan, perseroan juga telah menetapkan kontrol limit risiko pasar yang ketat. Langkah ini diambil untuk memitigasi dampak transaksi valas agar tidak menggerus kinerja keuangan bank di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Optimisme Ekuitas vs Kehati-hatian Kurs

Menanggapi langkah korporasi tersebut, Head of Research RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya, menilai wajar jika ada divergensi strategi. Menurutnya, investor asing saat ini memang memisahkan pandangan antara pasar saham dan pasar uang.

Andrey menjelaskan, asing tetap masuk ke saham karena prospek laba emiten yang menarik, namun di sisi lain mereka melakukan lindung nilai (hedging) terhadap Rupiah karena risiko kurs yang tinggi.

"Tahun 2026 lebih tepat dipandang sebagai tahun optimisme berbasis ekuitas dengan kehati-hatian di sisi mata uang. Investor asing tetap konstruktif terhadap saham Indonesia sambil melakukan hedging atas risiko nilai tukar," paparnya dalam keterangan resmi, Senin, 19 Januari 2026. 

Secara sederhana, hedging atau lindung nilai adalah strategi "mengunci" risiko kurs di awal agar tidak menggerus keuntungan investasi. Ini ibarat jaring pengaman yang melindungi nilai aset investor asing yang berdenominasi Rupiah dari ancaman depresiasi mata uang, saat nanti dana tersebut dikonversi kembali ke Dolar AS.

Mekanismenya, investor mengambil posisi lawan di pasar valas melalui kontrak berjangka atau forwards. Jika Rupiah melemah tajam, potensi kerugian kurs pada aset saham mereka akan tertutup oleh keuntungan dari selisih kontrak valas tersebut. Dengan begitu, profitabilitas investor murni terjaga dari kinerja bisnis emiten tanpa terdistorsi oleh gejolak mata uang.

Fundamental Rapuh dan Posisi Sulit BI

Sementara itu, pandangan lebih kritis datang dari Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti. Ia menilai tekanan yang dihadapi BCA dan perbankan lain adalah buah dari masalah fundamental pasokan dolar nasional yang ketat.

Esther mengingatkan bahwa manajemen risiko perbankan hanyalah pertahanan di hilir. Di hulu, negara mengalami defisit pasokan dolar karena tingginya kebutuhan impor dan pembayaran utang, yang membuat Rupiah rentan jebol ke Rp17.000.

"Hukum pasar berlaku. Jika permintaan dolar untuk impor dan utang naik namun pasokan terbatas, nilai tukar pasti terdepresiasi. Korporasi akhirnya harus menanggung beban biaya lindung nilai yang lebih mahal," tegas Esther kepada TrenAsia.Id, Kamis, 15 Juni 2026.

Senada dengan Esther, Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Kun Hariwibowo, menyoroti implikasi kebijakan moneter. Pelemahan Rupiah ini membuat Bank Indonesia (BI) terjebak dalam posisi sulit dan kemungkinan besar harus menahan suku bunga di level 4,75%.

"Jika ketidakpastian global meningkat dan Rupiah semakin tertekan, BI akan kehilangan momentum untuk menurunkan suku bunga. Stabilitas kurs kini menjadi pertaruhan utama, sehingga sektor riil dan perbankan harus bersiap menghadapi era bunga yang tidak kunjung turun," tandas Kun kepada TrenAsia.Id pada Senin, 19 Januari 2026.