Gen Z dan Kopi, Antara Gaya Hidup, Identitas, dan Kebanggaan
- Pasar kopi domestik melejit, 461 ribu usaha tercatat. Gen Z dorong tren mindful drinking dan makin tertarik pada brand kopi lokal.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kopi bukan lagi sekadar minuman pengusir kantuk bagi Generasi Z. Di tangan anak muda, secangkir kopi menjelma menjadi simbol gaya hidup, ruang sosial, bahkan ekspresi identitas. Nongkrong di kedai kopi kini menjadi bagian dari rutinitas, baik untuk mengerjakan tugas, rapat informal, membangun jejaring, hingga sekadar mencari suasana baru yang produktif.
Survei yang dilakukan lembaga Jajak Pendapat (Jakpat) mencatat sekitar 66% Gen Z di Indonesia rutin mengonsumsi kopi. Angka ini menunjukkan penetrasi kopi yang sangat tinggi di kalangan anak muda. Artinya, dua dari tiga Gen Z menjadikan kopi sebagai bagian dari keseharian mereka.
Fenomena ini tidak lepas dari perubahan pola konsumsi generasi muda. Kopi kini hadir dalam beragam varian yang lebih ramah selera anak muda, mulai dari es kopi susu gula aren, latte dengan berbagai rasa, hingga minuman berbasis espresso yang dikemas modern dan Instagramable. Faktor visual, kemasan, dan suasana kedai turut menjadi daya tarik penting.
Selain itu, kopi juga berfungsi sebagai medium sosial. Banyak Gen Z memilih bertemu teman atau rekan kerja di coffee shop karena dianggap lebih santai namun tetap produktif. Kedai kopi bahkan sering menjadi “ruang ketiga” setelah rumah dan kantor/kampus.
Di sisi lain, meningkatnya tren kerja fleksibel dan budaya freelance ikut mendorong konsumsi kopi. Coffee shop menyediakan akses Wi-Fi, colokan listrik, dan suasana kondusif yang mendukung gaya kerja generasi digital.
Tren diatas memperkuat posisi kopi sebagai bagian dari gaya hidup “mindful drinking”. Di Indonesia, kopi menjadi pilihan utama untuk bekerja, berdiskusi, hingga bersosialisasi.
Baca juga : Kopi Manis Favorit Gen Z, Seberapa Aman untuk Kesehatan?

Pasar Kopi Domestik Melejit
Laporan Indonesia Millennial and Gen-Z Report (IMGR) 2026 menunjukkan Gen Z tertarik pada merek yang mencerminkan identitas lokal dan kebanggaan budaya. Mereka juga semakin mempertimbangkan aspek etika, keberlanjutan, dan dampak sosial dari produk yang dikonsumsi.
Dalam konteks kopi, hal ini membuka ruang besar bagi merek lokal. Banyak kedai dan brand kopi dalam negeri mengangkat narasi asal-usul biji kopi Nusantara, kesejahteraan petani, hingga konsep ramah lingkungan. Pilihan kopi bagi Gen Z bukan hanya soal rasa, tetapi juga nilai yang melekat di balik merek tersebut.
Dari sisi industri, pertumbuhan pasar kopi Indonesia menunjukkan tren sangat kuat. Konsumsi kopi domestik meningkat dari sekitar 190 ribu ton pada 2010 menjadi lebih dari 370 ribu ton pada 2023.
Merujuk pada data Points of Interest dari OpenStreetMap, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah usaha kopi terbanyak di dunia, mengungguli Amerika Serikat dan China. Hingga November 2025, terdapat sekitar 461.991 bisnis kopi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, menunjukkan masifnya pertumbuhan industri kopi nasional.
Pertumbuhan ini memang tidak secara langsung membuktikan kopi lokal lebih unggul dari kopi luar, tetapi ekspansi masif pelaku usaha lokal memperkuat posisi mereka di pasar domestik.
Bagi Gen Z, nongkrong di kedai kopi lokal sering kali menjadi bagian dari identitas komunitas. Interior yang mengangkat budaya daerah, penggunaan biji kopi lokal seperti Gayo, Toraja, atau Kintamani, serta kampanye keberlanjutan menjadi daya tarik tersendiri.
Baca juga : Bahaya Gula Berlebih di Balik Tren Kedai Kopi
Kopi lokal tidak hanya dipandang sebagai produk, tetapi juga sebagai simbol dukungan terhadap ekonomi dalam negeri dan pelaku UMKM. Fenomena ini memperlihatkan bahwa preferensi Gen Z terhadap kopi lokal lebih bersifat nilai-driven dibanding sekadar price-driven.
Meski banyak indikator mendukung kecenderungan tersebut, hingga kini belum ada survei komprehensif yang secara spesifik membandingkan preferensi Gen Z terhadap merek kopi lokal versus internasional.
Sebagian besar data yang tersedia lebih menyoroti tingginya konsumsi kopi di kalangan Gen Z, pertumbuhan industri kopi domestik, pergeseran gaya hidup ke arah mindful drinking, dukungan terhadap merek berbasis nilai dan keberlanjutan.
Jika tren ini berlanjut, peluang merek kopi lokal semakin terbuka lebar. Generasi muda yang mengedepankan identitas, keberlanjutan, dan dampak sosial berpotensi menjadi motor pertumbuhan industri kopi dalam negeri.

Chrisna Chanis Cara
Editor
