Gara-gara Venezuela, Bitcoin Lanjut Terbang ke US$100.000?
- Jangan asal beli! Kenaikan Bitcoin ke US$91.000 dipicu likuidasi paksa dan isu geopolitik. Pelajari risiko volatilitas dan tips trading agar tidak boncos.

Alvin Bagaskara
Author


Ilustrasi: Mata Uang Kripto Bitcoin / bitocto.com
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID – Aset digital "Emas Hitam" alias Bitcoin (BTC) resmi bergabung dalam pesta volatilitas global awal tahun 2026. Pada perdagangan Senin, 5 Januari 2026, pasar kripto melesat tajam menembus kapitalisasi pasar US$3,12 triliun, didorong oleh kombinasi mematikan antara ketegangan geopolitik Venezuela dan mekanisme pasar derivatif yang brutal.
Bitcoin sukses menembus level psikologis US$91.771 per koin atau setara Rp1,53 miliar (kurs Rp16.702). Kenaikan ini terjadi tepat saat Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial mengenai rencana "pengambilalihan" Venezuela pasca-penahanan Nicolas Maduro.
Ketidakpastian ini membuat narasi Bitcoin sebagai aset uncorrelated (tidak berkorelasi dengan sistem keuangan tradisional) kembali relevan. Namun, di balik layar, kenaikan ini bukan hanya soal politik.
Data on-chain menunjukkan adanya fenomena liquidation cascade atau likuidasi beruntun yang memaksa harga naik secara artifisial. Pasar sedang menghukum para spekulan yang bertaruh harga akan turun di awal tahun.
1. Petaka 'Short Squeeze' US$133 Juta
Kenaikan Bitcoin ke US$91.000 pagi ini sejatinya dipicu oleh peristiwa berdarah di pasar derivatif. Dikutip dari CoinDesk, terjadi likuidasi besar-besaran senilai US$180 juta dalam 24 jam terakhir. Mayoritas korbannya adalah traderyang memasang posisi Short (bertaruh harga turun) dengan nilai mencapai US$133 juta.
Ketimpangan likuidasi ini mengindikasikan bahwa banyak pelaku pasar awalnya skeptis terhadap reli awal tahun dan mencoba melawan tren. Namun, ketika harga Bitcoin bergerak naik sedikit saja karena isu Venezuela, posisi leveragemereka menyentuh batas kerugian maksimal.
Akibatnya, sistem bursa secara otomatis melakukan pembelian kembali (buy back) paksa untuk menutup posisi tersebut. Aksi short covering massal inilah yang menjadi bensin tambahan bagi harga Bitcoin.
Tekanan beli yang muncul bukan dari permintaan murni investor spot, melainkan dari trader yang "terpaksa beli" agar tidak bangkrut. Kondisi ini menciptakan lonjakan harga vertikal yang agresif dalam waktu sangat singkat, meninggalkan para bear (penjual) dalam kondisi rekt atau rugi besar.
2. Efek Trump dan Narasi Minyak Venezuela
Dari sisi fundamental makro, katalis utama datang dari Gedung Putih. Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan niatnya untuk "mengambil alih" Venezuela demi kepentingan sektor minyak AS.
Pernyataan ini keluar setelah Mahkamah Agung Venezuela menyerahkan wewenang kepada Wakil Presiden Delcy Rodríguez pasca-penahanan Maduro oleh otoritas AS. Bagi komunitas kripto, pernyataan Trump tentang "kehadiran AS terkait minyak" diterjemahkan sebagai sinyal inflasi dan ketidakstabilan geopolitik.
Dalam situasi di mana hegemoni Dolar AS digunakan sebagai senjata politik (weaponization of currency), Bitcoin sering kali dilirik sebagai "Digital Gold" atau aset netral yang kebal terhadap penyitaan negara.
Meskipun pelaku pasar menyadari bahwa isu ini lebih bersifat pemicu volatilitas sesaat ketimbang perubahan fundamental jangka panjang, efek psikologisnya sangat kuat. Di tengah likuiditas pasar yang masih tipis pasca-libur tahun baru, narasi perang perebutan minyak menjadi alasan sempurna bagi paus (investor besar) untuk menggerakkan harga ke atas.
3. Pesta Altcoin: DOGE Memimpin Reli
Euforia Bitcoin turut menyeret pasar Altcoin ke zona hijau. Ethereum (ETH) merangkak naik ke US$3.152, sementara Binance Coin (BNB) terkerek 1,57% ke US$896. Namun, bintang panggung sesungguhnya di sektor mid-cap adalah Dogecoin (DOGE) yang terbang tinggi 3,9% ke level US$0,14.
Kenaikan DOGE yang lebih agresif dibandingkan Altcoin utama lainnya (seperti Solana yang stagnan di US$134) menunjukkan selera risiko spekulatif yang tinggi. Trader ritel cenderung memburu koin meme ketika sentimen pasar sedang bullish akibat berita politik besar, mengharapkan keuntungan persentase yang lebih besar daripada Bitcoin.
XRP juga mencuri perhatian dengan lonjakan 3,07% ke US$2,09. Kenaikan merata di papan atas aset kripto ini mengonfirmasi bahwa arus dana segar mulai masuk kembali ke ekosistem desentralisasi. Investor tampaknya melakukan diversifikasi: sebagian ke Emas fisik untuk keamanan, sebagian ke Kripto untuk mengejar alpha atau imbal hasil tinggi.
4. Tips Crypto: Jangan Pakai Leverage Tinggi!
Kejadian likuidasi US$133 juta hari ini adalah peringatan keras bagi Gen Z yang hobi main Futures. Kenaikan harga yang dipicu oleh Short Squeeze biasanya sangat volatile dan bisa berbalik arah dengan cepat (whipsaw). Hindari menggunakan leverage tinggi (di atas 5x) saat pasar sedang bereaksi terhadap berita geopolitik yang tidak pasti.
Fokuslah pada pasar Spot (beli dan simpan aset asli). Dalam kondisi di mana Bitcoin sedang menguji level tertinggi baru, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) jauh lebih aman daripada mencoba menebak puncak atau dasar harga. Jangan sampai modal kalian habis tergerus biaya inap (funding rate) atau terkena likuidasi karena pergerakan harga yang liar.
Terakhir, perhatikan korelasi dengan emas. Saat ini Bitcoin dan Emas bergerak seirama karena sentimen perang. Namun, jika ketegangan Venezuela mereda, kedua aset ini bisa mengalami koreksi bersamaan. Selalu siapkan stablecoin(USDT/USDC) sebagai peluru cadangan untuk menyerok barang jika terjadi koreksi sehat dalam waktu dekat.

Alvin Bagaskara
Editor
