Riset Baru: Pinjam Uang ke Keluarga Kalahkan Pinjol di Kalangan Anak Muda
- Survei Segara Institute (Juni-Juli 2025) mengungkap 85% responden bergaji di bawah Rp5 juta mengalami mismatch pengeluaran. Hal ini mendorong pinjaman, dengan Pinjol mengalahkan bank sebagai opsi tercepat.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Fenomena baru terungkap melalui sebuah survei yang mengungkap bahwa generasi muda Indonesia lebih memilih meminjam uang ke pihak keluarga daripada pinjaman daring (Pindar).
Segara Institute baru-baru ini merilis hasil riset mendalam mengenai sumber pembiayaan dan kebiasaan meminjam masyarakat Indonesia. Survei yang dilaksanakan antara Juni hingga Juli 2025 ini melibatkan 2.118 responden dari 20 wilayah, mencakup beragam latar belakang demografi.
Mayoritas responden didominasi oleh kelompok usia produktif 21 hingga 30 tahun (60,43%) dan berstatus belum menikah (63%). Tingkat pendidikan mereka umumnya setara SMA hingga Sarjana. Dari sisi pekerjaan, sebagian besar adalah karyawan/buruh (28,47%), diikuti oleh pengelola UMKM (26,11%) dan pekerja mandiri (18,56%).
Meskipun berasal dari berbagai jenis pekerjaan, faktanya, sebagian besar responden berada pada tingkat penghasilan rendah. Sebanyak 85,18% responden memiliki pendapatan rata-rata di bawah Rp5 juta per bulan, dan proporsi pengeluaran (86,68%) juga berada di batas yang sama.
Executive Director Segara Institute, Piter Abdullah, menyoroti bahwa hanya 2,28% responden yang memiliki penghasilan di atas Rp10 juta. Piter menegaskan adanya "mismatch" atau ketidakselarasan antara pendapatan dan kebutuhan. Realitas ekonomi ini terjadi di mana pendapatan kecil tidak selalu sejalan dengan pengeluaran, sehingga menjadi pendorong utama masyarakat untuk mencari pinjaman.
Uniknya, ketika menghadapi defisit keuangan, keluarga menjadi sumber pinjaman utama dengan persentase sebesar (39,05%). Namun, di urutan kedua, pindar atau pinjaman online (Pinjol) menjadi andalan bagi 29,37% masyarakat, mengungguli pinjaman dari teman (19,74%) dan bank (8,45%).
“Inilah yang saya kira relevan dengan pilihannya, mengapa pilihnya ke keluarga, Pindar, kemudian baru ke teman, baru yang lain, karena mereka mempertimbangkan yang terutama adalah cepat cair. Setelah cepat cair mudah,” ungkap Piter dalam pemaparan hasil survei, dikutip Kamis 11 Desember 2025.
Sebelumnya, fenomena Pindar terbukti menjadi pilihan nomor satu di pusat-pusat ekonomi besar, seperti Jawa Timur (50,87%), Banten (51,93%), dan DKI Jakarta (35,86%). Piter menjelaskan bahwa masyarakat memilih pindar karena kecepatan pencairan dana dan persyaratan yang mudah.
Meskipun bunga pindar dipersepsikan tinggi, sebagian besar responden menyatakan puas dengan pelayanannya. Sebaliknya, bank dan lembaga keuangan non-Bank seperti Pegadaian, meski dikenal berbunga rendah, kurang diminati karena persyaratan pinjaman dianggap terlalu rumit.
Menanggapi survei tersebut, Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah menyetujui dan memuji peran keluarga sebagai sumber pembiayaan utama.
Namun, ia juga menyebutkan bahwa dalam 2-3 tahun lagi, Pindar yang akan menjadi sumber alternatif pembiayaan utama. Menurutnya, pengguna Pindar didominasi oleh masyarakat yang pertama kali memiliki kebutuhan besar. Karena aksesnya mudah dan cepat, masyarakat beralih dan memilih untuk meminjam secara online.
Fenomena ketergantungan pada pinjaman, terutama Pindar harus menjadi perhatian serius, terutama bagi kelompok usia muda. Meskipun Pindar menawarkan kecepatan yang menarik saat terjadi defisit keuangan, masyarakat harus mewaspadai risiko jangka panjang dari bunga yang dipersepsikan tinggi.
Perilaku meminjam uang melalui online mampu menciptakan bahaya jebakan utang berkepanjangan. Oleh karena itu, penting bagi anak muda untuk lebih bijak mengelola mismatch antara penghasilan dan pengeluaran, serta menjadikan Pindar sebagai opsi terakhir demi menghindari masalah keuangan yang lebih besar di masa depan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
