Tren Pasar

ETF Emas 2026 Rilis, ETF Hijau Ini Cuan 22 Persen Setahun

  • Menanti ETF Emas 2026, Batavia SRI-KEHATI ETF bisa dilirik berkat cuan 22%. Waspadai risiko di balik imbal hasil tinggi dibanding deposito ataupun pasar uang.
Kehati ESG Award - Panji 1.JPG
Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos saat memberikan sambutan pada malam penganugerahan ESG Award 2025 by KEHATI di Jakarta. Penghargaan tertinggi di bidang ESG ini bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada para pelaku industri keuangan dan pasar modal terbaik yang mengintegrasikan ESG dalam proses bisnis dan investasinya Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan instrumen investasi Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas pada tahun 2026 terus menjadi perbincangan hangat di kalangan para pelaku pasar modal belakangan ini.

Momentum peluncuran instrumen lindung nilai atau hedging yang diyakini kuat akan mempermudah transaksi emas secara instan di bursa tersebut rupanya turut membuka mata para investor ritel terhadap potensi besar ekosistem ETF saham yang sudah lebih dulu melantai.

Di tengah antusiasme menanti kehadiran ETF Emas, investor ritel sejatinya dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk mulai melirik instrumen ETF berbasis investasi hijau atau Environmental, Social, and Governance (ESG). Instrumen reksa dana bursa ini nyatanya secara historis telah membuktikan kinerjanya.

Kinerja Historis Melampaui Deposito

Salah satu produk unggulan yang patut dicermati masyarakat adalah Batavia SRI-KEHATI ETF. Berdasarkan dokumen Ringkasan Informasi Produk yang dipublikasikan 30 Januari 2026, instrumen ETF yang dikelola PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen ini sukses mencatatkan rekam jejak kinerja historis yang sangat impresif.

Dalam kurun waktu 1 tahun terakhir, Batavia SRI-KEHATI ETF nyatanya mampu mencetak tingkat pengembalian investasi hingga sebesar 22,63%. Angka pertumbuhan kinerja portofolio ini terbukti secara signifikan melampaui rata-rata suku bunga deposito perbankan nasional maupun proyeksi laju inflasi tahunan.

Sejak pertama kali diluncurkan di pasar, reksa dana bursa yang bertujuan memberikan hasil setara Indeks SRI-KEHATI ini membukukan kinerja sebesar 14,74%. Saat ini, instrumen tersebut tercatat telah berhasil mengumpulkan Total Nilai Aktiva Bersih hingga menembus angka Rp892,56 miliar.

Pencapaian luar biasa tersebut membuktikan besarnya daya tarik produk yang pengelolaannya dilakukan secara profesional ini di mata publik. Kunci utama lonjakan kinerja reksa dana yang mencapai 2 digit bersumber dari alokasi aset dominan pada berbagai instrumen ekuitas secara konsisten.

Ditopang Saham Raksasa Lintas Sektor

Yang menarik, portofolio ETF Hijau  ini dialokasikan pada instrumen aset saham sebesar 98,90% dan sisanya 1,10% di pasar uang. Dana investor tersebut disebar secara strategis ke berbagai saham berkapitalisasi raksasa lintas sektor demi menjaga keseimbangan fundamental keuangan yang solid.

Berikut rincian bobot porsi 5 kepemilikan instrumen saham terbesar di dalam portofolio ini: Astra International menyumbang 15,07%, Bank Mandiri mencapai 14,90%, Bank Rakyat Indonesia berkontribusi 14,65%, Bank Central Asia menempati 13,46%, dan Bank Negara Indonesia menguasai porsi 8,47%.

Sementara itu, 5 penggerak utama lainnya dari instrumen ini yang juga potensial adalah Aneka Tambang sebesar 4,55%, United Tractors sejumlah 4,40%, Indofood Sukses Makmur sebanyak 3,75%, Perusahaan Gas Negara menyentuh 2,86%, serta saham Kalbe Farma sebesar 2,67%.

Melihat komposisi solid tersebut, investor ritel secara tidak langsung ikut memiliki kepingan kepemilikan di deretan perusahaan pencetak laba triliunan rupiah hanya dengan mengoleksi  instrumen reksa dana bursa. ETF ini secara nyata menghadirkan solusi diversifikasi investasi yang sangat cerdas.

Edukasi Risiko dan Fenomena FOMO

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia mencatat 19 juta investor pasar modal pada akhir 2025. Dari total tersebut, 10 juta jiwa atau sekitar 54% didominasi generasi muda yang saat ini sangat membutuhkan kemudahan akses transaksi melalui satuan perdagangan lot di bursa.

Menjelang peluncuran ETF Emas pada 2026, fenomena FOMO di kalangan Gen Z sering kali mengaburkan rasionalitas dalam mengambil keputusan finansial. Karakteristik investor muda yang reaktif terhadap tren media sosial dikhawatirkan dapat mengabaikan prinsip dasar keamanan modal di dalam pasar saham.

Berbeda dengan reksa dana, investor dapat mulai bertransaksi ETF mulai dari 1 lot atau 100 unit penyertaan saja. Terdapat pula beban biaya manajemen maksimal 3% serta biaya kustodian 0,2% per tahun yang perlu diperhatikan secara saksama demi kalkulasi imbal hasil investasi yang akurat.

Meskipun mampu mencetak imbal hasil potensial hingga 20%, produk reksa dana bursa tetap memiliki risiko tinggi yang wajib dimitigasi melalui riset fundamental. Langkah bijak tersebut akan memastikan aset finansial tetap terlindungi di tengah tingginya volatilitas pasar modal Indonesia saat ini.