Di Tengah Koreksi IHSG, Saham Energi Mana Saja yang Diperhitungkan?
- IHSG anjlok 3,43% ke level 7.325 akibat lonjakan harga minyak di atas US$100. Analis menilai saham energi berpotensi menarik di tengah tekanan pasar.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Indeks Harga Saham Gabungan atau biasa disebut IHSG mengalami koreksi sangat tajam pada awal perdagangan hari Senin, 9 Maret 2026. Indeks tersebut dibuka anjlok sebesar 3,43 persen atau melemah 260,32 poin, membawanya turun drastis menuju level 7.325.
Penurunan drastis bursa saham domestik ini secara langsung dipicu oleh sentimen negatif dari meroketnya harga minyak dunia saat ini. Komoditas energi utama tersebut menembus angka US$100 per barel akibat eskalasi ketegangan geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data resmi dari pihak Bursa Efek Indonesia atau BEI, aktivitas perdagangan harian mencatatkan volume transaksi secara intraday yang cukup tinggi. Pada sesi pembukaan pasar pagi ini, total perpindahan tangan menyentuh angka sebesar 2,78 miliar lembar saham.
Tingginya volume transaksi bursa tersebut juga sejalan dengan frekuensi perdagangan saham yang tercatat sebanyak 150.680 kali oleh para investor. Dari seluruh perputaran tersebut, total nilai perdagangan secara keseluruhan berhasil mencapai angka yang sangat fantastis yakni sekitar Rp1,61 triliun.
Seiring pergerakan indeks tertekan, sejumlah emiten tercatat mengalami penurunan harga saham paling tajam secara intraday. Daftar merah top losers ini dipimpin langsung oleh PT TBSK Energi Utama Tbk, PT Arkora Hydro Tbk, PT Barito Pacific Tbk, serta PT Raharja Energi Cepu Tbk.
Selain itu, tekanan aksi jual juga melanda deretan saham LQ45 yang memiliki likuiditas tertinggi. Menariknya, hanya ada tiga saham komoditas yang mengalami penguatan, yaitu PT Medco Energi Internasional Tbk, PT Indo Tambangraya Megah Tbk, dan PT AKR Corporindo Tbk.
Imbas Melambungnya Harga Minyak Dunia
Pelemahan IHSG utamanya didorong oleh sentimen eskalasi perang di Timur Tengah yang melambungkan harga komoditas energi. Harga minyak jenis Brent tercatat meroket hingga mencapai US$107,97 per barel, melonjak tajam 16,5% dibandingkan posisi penutupan pada Jumat pekan lalu.

Lonjakan ini menyusul kenaikan harga minyak mentah Amerika Serikat sebesar 36% dan lonjakan acuan Brent sebesar 28% sepanjang pekan perdagangan sebelumnya. Yang menarik, Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa sektor energi justru menghadirkan peluang keuntungan di tengah koreksi pasar.
"Di tengah tekanan pasar seperti sekarang, masih terdapat beberapa saham yang justru menarik untuk dicermati karena mendapatkan manfaat langsung dari kenaikan harga energi global," ungkap Hendra kepada TrenAsia.id pada Senin, 9 Maret 2026.
Terkait aksi jual massal yang didorong oleh kepanikan pelaku pasar akibat sentimen geopolitik, Hendra mengimbau agar investor tetap rasional. Menurutnya, dalam kondisi pasar yang sangat volatil, strategi investasi yang paling bijak adalah tidak mengambil keputusan secara emosional.
"Investor sebaiknya fokus pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat, arus kas yang sehat, serta memiliki katalis positif dari kenaikan harga komoditas global," jelasnya.
Lebih lanjut, Hendra memaparkan bahwa saham sektor minyak dan gas serta perkapalan energi berpotensi menjadi defensive play (instrumen pelindung nilai) di tengah ketidakpastian geopolitik. Berikut adalah sejumlah emiten yang diproyeksikan meraup keuntungan dari momentum ini beserta target harganya:

"Meskipun pasar saham Indonesia sedang menghadapi tekanan yang cukup besar akibat kombinasi risiko geopolitik dan fiskal domestik, kondisi ini juga membuka peluang selektif bagi investor yang mampu membaca arah siklus komoditas dan memilih sektor yang tepat," tutup Hendra.

Alvin Bagaskara
Editor
