Dari Kebun ke Cangkir, Siapa Paling Untung dari Kopi Rp20.000-an?
- Harga kopi di kafe mencapai Rp20.000–Rp50.000 per cangkir. Lantas, siapa yang paling banyak mendapat bagian keuntungan dari rantai pasok kopi hingga ke konsumen?

Muhammad Imam Hatami
Author


Pemilik kedai, Eko S Hilam (kiri) menemani pengunjung di kedai kopi “Ngopi di Halaman” di Jalan Pulo Kamboja, Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis, 25 Februari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID – Secangkir kopi yang dijual di kafe dengan harga Rp20.000–Rp50.000 ternyata menyisakan porsi nilai yang jauh berbeda bagi setiap pelaku dalam rantai pasok.
Dari petani yang menanam dan memanen kopi hingga kafe yang menyajikannya kepada konsumen, setiap mata rantai memiliki biaya dan margin masing-masing.
Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Turkish Journal of Agricultural Economics pada 2026, coffee shop menangkap margin terbesar dalam rantai pasok kopi Timor, yakni 60,69%, sementara petani hanya memperoleh 4,14%. Penelitian tersebut menggunakan data dari musim panen 2024 di Kabupaten Kupang.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan besar antara harga kopi di tingkat konsumen dan nilai yang diterima petani. Lantas, ke mana uang dari secangkir kopi Rp20.000–Rp50.000 mengalir dan siapa yang paling banyak mendapatkan keuntungan?
Baca juga : Saham BUMI Terus Menanjak, Bisa Tembus Level 400-an Lagi?
Bagaimana Perjalanan Kopi dari Kebun hingga ke Cangkir?
Sebelum menjadi minuman yang dibeli konsumen, kopi melewati rantai pasok yang cukup panjang. Secara umum, perjalanan kopi dapat melibatkan enam hingga delapan mata rantai, mulai dari petani, pengumpul desa, pedagang kecamatan, eksportir, importir, roaster, kafe hingga konsumen.
Rantai tersebut dapat digambarkan sebagai berikut, Petani → Pengumpul Desa → Pedagang Kecamatan → Eksportir → Importir → Roaster → Kafe → Konsumen
Setiap pelaku memiliki fungsi berbeda sekaligus mengambil margin dari proses tersebut. Semakin panjang rantai pasok, semakin banyak pihak yang memperoleh bagian dari nilai akhir produk.
Akibatnya, harga yang dibayarkan konsumen di kafe tidak seluruhnya kembali kepada petani sebagai produsen kopi.
Berdasarkan studi rantai pasok kopi Timor pada 2024, kafe menjadi pihak dengan porsi nilai terbesar, yakni 60,69% dari total nilai kopi.
Sebaliknya, petani hanya menerima sekitar 4,14% dari nilai akhir tersebut. Perbedaan tersebut tidak berarti seluruh 60,69% yang diterima kafe merupakan keuntungan bersih. Sebagian besar nilai yang ditangkap kafe digunakan untuk membayar berbagai biaya operasional sebelum menjadi laba.
Kenapa Kafe Mendapat Porsi Terbesar?
Kafe memiliki biaya yang jauh lebih besar di sisi hilir karena produk yang dijual bukan lagi sekadar biji kopi, tetapi minuman siap konsumsi sekaligus layanan.
Biaya tersebut antara lain:
- Sewa tempat, terutama di lokasi premium;
- Gaji barista dan pekerja;
- Pembelian serta perawatan mesin espresso;
- Susu, gula, cup dan bahan pendukung lainnya;
- Listrik;
- Biaya operasional harian.
Dengan demikian, harga secangkir kopi mencerminkan bukan hanya harga bahan baku, tetapi juga biaya tempat, tenaga kerja, peralatan, pelayanan dan pengalaman konsumen.
Baca juga : Pilah Sampah dari Rumah, Dosen UMS: Jangan Berhenti di Edukasi
Seberapa Besar Peran Pedagang Perantara?
Pedagang perantara, mulai dari pengumpul hingga eksportir, memainkan peran penting dalam menghubungkan petani dengan pasar. Dikutip dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Perkebunan Kementerian Pertanian, tengkulak dan pedagang perantara menguasai sekitar 70% distribusi kopi di Indonesia.
Kondisi tersebut membuat posisi mereka cukup kuat dalam rantai perdagangan kopi dan disebut dapat memangkas margin keuntungan petani hingga 40–50%. Sebagai gambaran, BRMP Perkebunan menyebut petani kopi Gayo di Aceh Tengah hanya menerima sekitar Rp25.000 per kilogram untuk biji kopi hijau, sementara harga grosir di Medan mencapai Rp60.000 per kilogram.
Namun, besarnya margin di setiap mata rantai perdagangan kopi dapat berbeda-beda karena dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti kualitas kopi, lokasi produksi, volume perdagangan, biaya transportasi, bentuk produk, serta kondisi pasar.

Petani berada di posisi paling awal dalam rantai pasok, tetapi menghadapi risiko produksi terbesar. Lebih dari 90% kopi Indonesia dihasilkan oleh petani rakyat dengan luas lahan rata-rata sekitar 0,5–1 hektare per keluarga.
Pada saat yang sama, sekitar 60% petani kopi disebut masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Harga kopi di tingkat petani juga sangat bervariasi berdasarkan jenis dan kualitas. Green bean di tingkat petani dapat berada pada kisaran Rp25.000–Rp50.000 per kilogram. Untuk robusta komersial, harganya disebut sekitar Rp18.000 per kilogram, sedangkan fine robusta dapat mencapai Rp50.000–Rp60.000 per kilogram.
Perbedaan harga tersebut menunjukkan bahwa kualitas dan bentuk produk sangat menentukan nilai yang diterima petani.
Baca juga : Kembangkan Bus Listrik, Danantara Guyur VKTR Rp2 Triliun
Kenapa Posisi Tawar Petani Lemah?
Ada beberapa alasan mengapa petani tidak selalu memiliki posisi tawar yang kuat dalam menentukan harga.
Rantai Pasok Panjang
Semakin panjang rantai pasok, semakin banyak pihak yang terlibat sebelum kopi sampai kepada konsumen.
Petani dapat menjual kopi kepada pengumpul desa. Pengumpul kemudian menjualnya kepada pedagang kecamatan sebelum akhirnya diteruskan kepada eksportir atau pelaku industri lainnya.
Setiap tahap membutuhkan biaya sekaligus mengambil margin, sehingga nilai yang tersisa di tingkat petani menjadi lebih kecil dibandingkan harga produk di hilir.
Petani Membutuhkan Uang Tunai Setelah Panen
Kopi merupakan komoditas pertanian yang membutuhkan proses produksi panjang.
Petani membutuhkan uang untuk biaya hidup, tenaga kerja, pupuk dan persiapan produksi berikutnya. Kondisi tersebut membuat sebagian petani tidak memiliki banyak ruang untuk menahan hasil panen sambil menunggu harga yang lebih tinggi.
Kebutuhan likuiditas tersebut dapat memperlemah posisi tawar ketika berhadapan dengan pembeli.
Biaya Produksi dan Risiko Ditanggung Petani
Pohon kopi membutuhkan sekitar 3–4 tahun sebelum mulai menghasilkan buah.
Setelah itu, petani masih harus menanggung biaya pupuk, perawatan tanaman dan tenaga kerja untuk memetik buah kopi secara manual.
Risiko produksi juga berada di tingkat hulu, termasuk cuaca ekstrem dan penyakit tanaman yang dapat mengurangi hasil panen.
Ketergantungan pada Tengkulak
Sebagian petani juga memiliki hubungan pembiayaan dengan pedagang atau tengkulak.
Ketika biaya produksi dibiayai melalui pinjaman, hasil panen kemudian digunakan untuk membayar kewajiban tersebut. Kondisi ini dapat membuat petani kehilangan sebagian daya tawarnya dalam menentukan pembeli dan harga.
Pada akhirnya, dari kebun hingga ke cangkir, harga kopi bukan hanya soal biji yang berada di dalam cangkir, tetapi juga soal siapa saja yang mengambil bagian dari nilai di sepanjang perjalanannya.

Chrisna Chanis Cara
Editor
