Tren Inspirasi

Dari Gerobak ke Warung, Kisah Ardi Kembangkan Ketoprak dengan KUR BRI

  • Ardi Yulianto meneruskan usaha ketoprak keluarga di Bengkulu Selatan. KUR BRI Rp25 juta membantunya beralih dari gerobak keliling ke warung.
WhatsApp Image 2026-10-21 at 16.56.32 (1).jpeg
Ardi Yulianto, pelaku usaha mikro asal Kelurahan Ketapang Besar, Kabupaten Bengkulu Selatan, yang meneruskan usaha ketoprak warisan orang tuanya dengan dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). (BRI)

BENGKULU SELATAN, TRENASIA.ID — Usaha kuliner sederhana dapat menjadi sumber penghidupan lintas generasi ketika mampu bertahan dan beradaptasi. 

Hal inilah yang dijalani Ardi Yulianto, pelaku usaha mikro asal Kelurahan Ketapang Besar, Kabupaten Bengkulu Selatan, yang meneruskan usaha ketoprak warisan orang tuanya dengan dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).

Usaha yang dirintis orang tuanya sejak 1990-an itu awalnya dijalankan Ardi menggunakan gerobak keliling selama sekitar 10 tahun. Di tengah perubahan perjalanan usahanya, ia berupaya mempertahankan cita rasa keluarga sekaligus menjaga kepercayaan pelanggan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

“Seiring bertambahnya usia orang tua, saya memutuskan meneruskan usaha ketoprak yang sudah dirintis sejak tahun 1990-an. Selama 10 tahun berjualan dengan gerobak, saya terus menjaga cita rasa khas keluarga. Alhamdulillah, pelanggan tetap setia, dan kepercayaan mereka menjadi semangat bagi saya untuk terus mengembangkan usaha ini,” ujar Ardi.

Peluang untuk mengembangkan usaha mulai terbuka ketika Ardi memperoleh fasilitas KUR BRI sebesar Rp25 juta pada 2017. Pembiayaan tersebut digunakan untuk memperkuat kapasitas usaha, termasuk menyewa warung agar dapat berjualan di lokasi tetap.

Perubahan dari gerobak keliling menjadi warung memberikan kemudahan bagi Ardi dalam melayani pelanggan. Pembeli tidak lagi harus mencari keberadaan gerobaknya karena dapat langsung datang ke tempat usaha.

“Sangat bersyukur sekarang sudah punya tempat berjualan sendiri, jadi pelanggan tidak perlu mencari gerobak saya lagi. Saya juga lebih leluasa melayani pembeli. Bagi saya, yang paling penting usaha peninggalan orang tua ini bisa terus berjalan dan semakin berkembang,” ungkapnya.

Bagi Ardi, keberlanjutan usaha tersebut tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga upaya menjaga hasil kerja keras orang tuanya. Anggota keluarga lainnya turut membantu menjalankan usaha sehingga ketoprak yang dahulu dirintis oleh generasi sebelumnya kini menjadi sumber penghidupan bersama.

Seiring perkembangan usaha, Ardi juga mulai menggunakan pembayaran digital melalui QRIS BRI. Kehadiran metode pembayaran nontunai ini memberikan alternatif transaksi bagi pelanggan sekaligus membantu usaha kuliner tradisional beradaptasi dengan kebiasaan pembayaran yang semakin beragam.

Ardi mengapresiasi dukungan BRI, termasuk pendampingan dari Mantri BRI selama proses pengajuan pembiayaan dan pengembangan usaha.

“Mantri BRI selama ini baik dan banyak membantu saya, mulai dari proses pengajuan KUR sampai memberikan arahan untuk usaha. Alhamdulillah, berkat dukungan tersebut, usaha saya bisa terus berkembang. Dari gerobak keliling hingga memiliki warung sendiri, saya ingin menyampaikan bahwa usaha kecil siapa pun dapat menyimpan harapan besar bagi sebuah keluarga,” katanya.

Riset BRI: 66,2% Debitur Alami Kenaikan Omzet

Kisah usaha Ardi menjadi salah satu gambaran pemanfaatan pembiayaan produktif untuk mendukung keberlanjutan usaha mikro. Namun, dampak pembiayaan terhadap setiap pelaku usaha dapat berbeda, bergantung pada kondisi bisnis dan pemanfaatan modal.

BRI Research Institute melalui riset bertajuk Survei Efektivitas KUR dan Beban Biaya UMKM pada 2025 mencatat, 66,2% dari 2.928 responden penerima pinjaman BRI mengalami peningkatan omzet usaha.

Dari jumlah responden tersebut, sebanyak 45,9% melaporkan kenaikan omzet dalam kisaran 5% hingga 15%. Hasil survei itu menunjukkan adanya peningkatan omzet yang dilaporkan mayoritas responden, meski tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh perubahan tersebut hanya disebabkan oleh pembiayaan KUR.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, penyaluran KUR merupakan bagian dari upaya perseroan mendukung kewirausahaan dan penciptaan lapangan kerja berkualitas, sejalan dengan agenda Asta Cita pemerintah.

“Melalui KUR, BRI membantu UMKM tumbuh lebih tangguh, naik kelas, dan berdaya saing di pasar. Peningkatan omzet yang dicapai para debitur menjadi bukti bahwa inklusi keuangan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput,” ujar Akhmad.

Bagi Ardi, perkembangan usaha ketopraknya memperlihatkan bagaimana usaha keluarga dapat terus berlanjut ketika tradisi, pelanggan, dan kebutuhan untuk beradaptasi berjalan beriringan. Dari gerobak keliling hingga warung dengan dukungan pembayaran digital, usaha tersebut tetap bertumpu pada upaya menjaga cita rasa dan kepercayaan pelanggan.