Tren Pasar

Cuan Ramadan Menanti! Cek Saham ICBP, MYOR hingga UNVR

  • Menjelang Ramadan 2026, sektor konsumer tetap menarik berkat kenaikan UMP. Saham ICBP, MYOR, hingga INDF jadi rekomendasi utama analis.
Perkembangan Ritel - Panji 2.jpg
Nampak pengunjung tengah berbelanja di sebuah gerai Transmart, Senin 14 Februari 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Prospek sektor konsumer pada 2026 dinilai tetap menarik didukung oleh kebijakan fiskal pemerintah dan perbaikan daya beli masyarakat secara bertahap. BRI Danareksa Sekuritas memberikan peringkat overweight terhadap sektor ini seiring momentum Ramadan dan Idulfitri mendatang.

Kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 2026 yang diperkirakan sebesar 5,7% menjadi salah satu katalis positif bagi pertumbuhan konsumsi rumah tangga nasional. Meskipun kenaikan tersebut lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya, kebijakan ini diyakini mampu menjaga stabilitas pengeluaran masyarakat sepanjang tahun.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Christy Halim dan Sabela Nur Amalina, memproyeksikan pertumbuhan pendapatan agregat sektor konsumer mencapai 5,7% pada 2026. Pertumbuhan ini akan didorong oleh pemulihan volume penjualan serta kemampuan emiten besar dalam menyesuaikan harga jual rata-rata.

1. Penopang Daya Beli dan Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal pemerintah menjadi pilar utama dalam menjaga konsumsi masyarakat melalui peningkatan anggaran perlindungan sosial sebesar 8,6% menjadi Rp508,2 triliun. Alokasi ini tetap tumbuh signifikan meskipun pemerintah juga memprioritaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai agenda utama tahun ini.

Selain perlindungan sosial, perluasan insentif pajak penghasilan ditanggung pemerintah (PPh DTP) ke sektor pariwisata turut memberikan fleksibilitas pada kerangka fiskal nasional. Stimulus ini diharapkan mampu mendorong perputaran ekonomi di tingkat akar rumput, yang pada akhirnya memberikan dampak positif bagi emiten.

Pemerintah dinilai memiliki kapasitas untuk merelokasi anggaran guna mendukung program yang berdampak langsung pada daya beli. Analis menyampaikan dalam risetnya, "Kami meyakini bahwa penyesuaian kenaikan upah tetap akan memberikan dukungan bertahap terhadap daya beli rumah tangga, yang mendukung konsumsi secara keseluruhan," dalam risetnya yang dirilis belum lama ini. 

2. Strategi Emiten Hadapi Biaya Input

Emiten dengan pangsa pasar besar seperti ICBP dan MYOR memiliki keunggulan kompetitif dalam menghadapi fluktuasi biaya bahan baku di pasar global. Keduanya memiliki daya tawar harga yang kuat sehingga mampu meneruskan kenaikan biaya input kepada konsumen tanpa menggerus margin keuntungan.

Pemulihan volume penjualan diperkirakan akan terjadi secara bertahap seiring dengan stabilnya inflasi dan membaiknya kepercayaan konsumen di sektor ritel. Strategi inovasi produk dan efisiensi rantai pasok menjadi kunci bagi perusahaan konsumer untuk mempertahankan dominasi pasar mereka di tengah persaingan.

Kemampuan penetapan harga atau pricing power menjadi faktor pembeda utama dalam menentukan kinerja laba bersih emiten tahun ini. Analis menilai, "Emiten dengan pangsa pasar besar memiliki daya tawar harga yang lebih kuat untuk meneruskan kenaikan biaya input kepada konsumen di masa depan."

3. Target Harga Saham Pilihan

BRI Danareksa Sekuritas menetapkan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) sebagai pilihan utama (top pick) dengan target harga Rp11.500 per saham. Disusul kemudian oleh PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) yang dipatok pada target harga Rp2.700 per lembar saham.

Emiten induk, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), juga masuk dalam rekomendasi dengan target harga sebesar Rp9.400. Sementara itu, untuk raksasa konsumer PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), analis menetapkan target harga pada level Rp3.200 seiring dengan upaya pemulihan kinerjanya.

Valuasi sektor konsumer saat ini berada pada level 13,6 kali PE untuk estimasi tahun 2026, yang dinilai masih cukup atraktif bagi investor. Analis menegaskan optimisme mereka terhadap sektor ini, "Kami mempertahankan peringkat overweight pada sektor konsumer karena valuasi sektor berada pada level yang menarik."

4. Dampak Suku Bunga ke Konsumer

Sektor konsumer sangat sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga acuan karena berpengaruh langsung pada biaya pendanaan korporasi dan cicilan konsumsi masyarakat. Jika suku bunga tetap stabil atau cenderung turun, beban bunga perusahaan akan mengecil sehingga laba bersih berpotensi tumbuh lebih maksimal.

Bagi masyarakat, suku bunga yang terjaga akan memberikan ruang lebih besar pada pendapatan disposabel untuk dialokasikan ke belanja barang konsumsi harian. Hal ini menciptakan efek berganda yang menguntungkan emiten karena volume penjualan produk fast-moving consumer goods (FMCG) cenderung meningkat secara stabil.

Investor perlu mencermati rotasi sektor yang biasanya masuk ke saham konsumer saat kondisi ekonomi memasuki fase pemulihan daya beli. Sektor ini sering dianggap sebagai safe haven karena produk yang dijual merupakan kebutuhan pokok yang tetap dibeli masyarakat dalam kondisi ekonomi apapun.