CEO JPMorgan Sebut AI Dapat Wujudkan 4 Hari Kerja Sepekan
- Empat hari kerja sepekan bukan lagi sekadar impian. CEO JPMorgan Jamie Dimon meyakini AI bisa memangkas jam kerja tanpa mengorbankan produktivitas karyawan.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID—Dunia kerja tengah bergeser. Seiring mesin yang kian mampu berpikir layaknya manusia, rutinitas kerja di kantor pun mulai mengalami perubahan mendasar. Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase, membayangkan masa depan di mana karyawan bisa menikmati satu hari libur ekstra setiap pekannya.
Hal ini bukan karena kebijakan perusahaan, melainkan karena perangkat lunak cerdas yang mengambil alih tugas-tugas rutin. Lima hari kerja yang selama ini menjadi pakem, menurut Dimon, berpotensi menyusut.
Algoritma dapat menyelesaikan pekerjaan berulang dengan jauh lebih cepat, sementara mesin yang mampu belajar sendiri memungkinkan perusahaan memangkas jam kerja tanpa harus mengorbankan produktivitas.
Pernyataan itu disampaikan Dimon dalam wawancara terbaru bersama Bloomberg TV, dikutip dari Financial Express, Selasa, 10 Maret 2026 . Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengungkapkan JPMorgan kini telah memanfaatkan AI di ratusan aplikasi untuk merampingkan operasional perusahaan.

Dimon meyakini, suatu saat nanti mesin akan mampu menyelesaikan berbagai pekerjaan lebih cepat dari yang pernah bisa dilakukan manusia. Seiring kemampuan AI yang terus berkembang, jam kerja mingguan bisa terus menyusut. Jam yang dihemat itu berpotensi berubah menjadi hari libur tambahan.
Ia memandang pergeseran ini sebagai kabar baik bagi para pekerja. Dengan AI yang menyelesaikan tugas secara efisien, perusahaan bisa meningkatkan output sekaligus mengurangi beban waktu karyawan.
Di luar tembok kantor, teknologi yang semakin cerdas ini diyakini mampu meningkatkan kualitas hidup, menekan angka kecelakaan, hingga memperkuat perekonomian secara keseluruhan.
JPMorgan Tancap Gas dengan AI
JPMorgan sendiri telah mengintegrasikan AI ke berbagai lini bisnisnya. Teknologi ini digunakan untuk menangani tugas-tugas rutin lintas divisi, mendeteksi kesalahan sejak dini, mengelola risiko, hingga mempercepat layanan nasabah. Deteksi penipuan, kampanye pemasaran, bahkan notulensi rapat kini dikerjakan lebih cepat dan akurat berkat AI.
Hasilnya pun sudah terasa. Para karyawan melaporkan peningkatan kecepatan kerja sekaligus berkurangnya kesalahan operasional. Dari sekitar 600 alat AI yang diuji coba di bank tersebut, kurang lebih 50 di antaranya dinilai berdampak signifikan terhadap operasional sehari-hari.
Baca Juga: AI Dorong Revolusi 4 Hari Kerja, Dunia Bergerak ke Arah Baru
Sikap Dimon ini menarik untuk dicermati, mengingat sebelumnya ia dikenal skeptis terhadap sejumlah tren kerja modern. Ia pernah mengkritik keras maraknya praktik kerja dari rumah, dengan alasan hal tersebut berpotensi menghambat produktivitas.
Kini, ia justru mengakui bahwa teknologi seperti AI mampu mengubah rutinitas kerja dengan cara yang dulu dianggap mustahil. "Apa yang sekarang tampak mungkin, beberapa tahun lalu akan terdengar tidak realistis," ujarnya.
Tantangan di Balik Adopsi AI
Dimon tak menutup mata terhadap sisi lain dari perubahan ini. Ia mengingatkan adopsi AI yang terlalu cepat bisa membawa sejumlah tantangan, mulai dari pergeseran peran pekerjaan hingga kebutuhan pelatihan ulang bagi karyawan. Dukungan dari perusahaan maupun pembuat kebijakan, tegasnya, menjadi kunci agar transisi ini berjalan mulus.
Dia meyakini AI punya potensi besar untuk menyederhanakan pekerjaan, mempersingkat jam kerja mingguan, dan secara perlahan mengubah cara kerja diorganisasikan di masa depan. Tatanan yang ada hari ini mungkin tidak akan bertahan lama. AI sudah bersiap mendefinisikan ulang dunia kerja dalam beberapa tahun ke depan.

Chrisna Chanis Cara
Editor
