Tren Pasar

Bukan Spekulasi Kripto, Ini Alasan Saham COIN Menarik

  • Di tengah maraknya investasi kripto, ada satu saham yang justru menjadi tulang punggung seluruh transaksi kripto resmi di Indonesia.
Indokripto Koin Semesta (COIN).jpg
Ilustrasi Indokripto Koin Semesta (COIN). (CFX)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Ketika minat masyarakat terhadap aset kripto terus meningkat, perhatian publik umumnya tertuju pada aplikasi trading dan pergerakan harga koin digital. Namun, di balik riuhnya transaksi kripto di Indonesia, ada satu entitas yang jarang disorot, tetapi perannya krusial dalam menjaga roda pasar tetap berputar. Perusahaan itu adalah PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN).

COIN bukan aplikasi jual beli kripto. Perusahaan ini justru berada di lapisan paling dasar ekosistem kripto nasional, sebagai pengelola infrastruktur pasar. Melalui dua anak usahanya, CFX sebagai bursa kripto resmi dan ICC sebagai lembaga penitipan aset kripto, setiap transaksi kripto yang dilakukan secara legal di Indonesia wajib tercatat dalam sistem yang mereka kelola. Artinya, apa pun aplikasinya dan ke mana pun arah harga kripto bergerak, COIN tetap mendapatkan bagian dari aktivitas tersebut.

Model bisnis inilah yang membuat COIN menarik bagi investor saham. Sumber pendapatan perusahaan bukan berasal dari spekulasi harga kripto, melainkan dari biaya transaksi. Sekitar 85% pendapatan COIN ditopang oleh fee, sementara struktur operasionalnya sudah berbasis digital dengan biaya relatif tetap. 

Ketika volume transaksi meningkat, potensi kenaikan laba pun bisa terjadi tanpa lonjakan biaya yang signifikan. Analogi sederhananya, COIN bekerja layaknya pengelola jalan tol: tidak peduli kendaraan apa yang melintas, selama lalu lintas padat, pendapatan tetap mengalir.

Prospek pertumbuhan COIN juga ditopang oleh dinamika pasar kripto domestik. Jumlah pengguna kripto di Indonesia terus bertambah, seluruh transaksi wajib tercatat di bursa, dan segmen derivatif kripto mulai berkembang. Di pasar global, instrumen derivatif menyumbang sekitar 70% transaksi kripto. Sementara di Indonesia, porsi ini masih sangat kecil, menandakan ruang pertumbuhan yang masih lebar. Ketika aktivitas perdagangan semakin ramai, COIN berada di posisi yang diuntungkan.

Dari sisi investor, kepemilikan saham COIN menawarkan eksposur berbeda dibanding membeli aset kripto secara langsung. Jika harga kripto dikenal sangat fluktuatif, saham COIN justru berpotensi diuntungkan dari ramainya aktivitas pasar, terlepas dari arah naik atau turunnya harga koin. Pendekatan ini dinilai lebih sesuai bagi investor yang ingin menangkap tema ekonomi kripto tanpa harus berhadapan langsung dengan volatilitas ekstrem.

Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas Asia yang dirilis pada 20 Januari 2026, saham COIN direkomendasikan beli dengan target harga Rp4.870 per saham. Proyeksi tersebut didasarkan pada potensi pertumbuhan laba yang tinggi, posisi bisnis yang sulit ditiru karena regulasi dan perizinan ketat, serta peluang katalis tambahan seperti masuknya saham ke dalam indeks global.

Meski demikian, risiko tetap perlu dicermati. Ancaman keamanan siber, potensi perubahan regulasi, hingga perlambatan aktivitas pasar kripto dapat memengaruhi kinerja perusahaan. Namun, dibandingkan pelaku aplikasi trading, posisi COIN sebagai pengelola pasar dinilai memiliki risiko yang relatif lebih terkendali.

Dengan karakter tersebut, COIN lebih tepat dipandang bukan sebagai saham spekulasi kripto, melainkan sebagai saham infrastruktur keuangan digital Indonesia yang memiliki prospek jangka menengah hingga panjang, seiring berkembangnya ekosistem kripto nasional.