Boikot Piala Dunia 2026 Menguat, Apa Sebab dan Dampaknya?
- Wacana boikot Piala Dunia 2026 menguat seiring memanasnya ketegangan geopolitik, apa dampaknya bagi ekonomi dan olahraga?

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Wacana boikot Piala Dunia 2026 kian menguat seiring meningkatnya ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa.
Diskusi serius mengenai kemungkinan boikot dilaporkan berlangsung di Jerman, Spanyol, Inggris, dan Skotlandia, menyusul kebijakan luar negeri dan dalam negeri Amerika Serikat yang dinilai kontroversial.
Turnamen yang semestinya menjadi simbol persatuan global ini kini berisiko terseret ke pusaran konflik geopolitik internasional.
Piala Dunia 2026 akan menjadi sejarah baru karena digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan AS sebagai tuan rumah utama.
Alih-alih dipandang sebagai pesta olahraga dunia, status AS sebagai host justru memicu perdebatan tajam terkait prinsip inklusivitas, keamanan, dan netralitas olahraga internasional.
Baca juga : IndiHome dan Telkomsel Down, Begini Respons Perusahaan
Pemicu Boikot
Dikutip TrenAsia dari berbagai sumber, Kamis, 22 Januari 2026, pada dasarnya pemicu boikot piala dunia bersumber dari kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang kontroversial diantaranya sebagai berikut,
Ambisi Teritorial AS dan Ketegangan dengan Eropa
Salah satu pemicu utama munculnya wacana boikot adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyampaikan keinginan untuk mengakuisisi Greenland, wilayah otonom milik Denmark.
Pernyataan tersebut memicu kemarahan luas di Eropa karena dinilai melanggar norma hubungan internasional. Ketegangan semakin meningkat setelah Trump mengaitkan rencana tersebut dengan ancaman tarif perdagangan terhadap negara-negara yang menolak gagasannya.
Situasi ini memunculkan tekanan politik di dalam negeri negara-negara Eropa agar keterlibatan mereka dalam ajang global yang dipimpin AS dievaluasi ulang.
Kebijakan Imigrasi Ketat dan Deportasi Massal
Faktor lain yang memperkuat wacana boikot adalah kebijakan imigrasi Amerika Serikat yang semakin ketat, termasuk pelaksanaan deportasi massal oleh Badan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE).
Kebijakan tersebut menimbulkan kekhawatiran serius terkait keselamatan, kenyamanan, dan akses para suporter serta delegasi internasional yang ingin menghadiri Piala Dunia.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia di Eropa menilai atmosfer ini berpotensi bertentangan dengan nilai inklusivitas dan keterbukaan yang selama ini dikampanyekan FIFA.
Pembatasan Visa terhadap Puluhan Negara
Amerika Serikat juga memberlakukan pembatasan visa terhadap warga dari sekitar 75 negara, termasuk beberapa negara dengan tradisi sepak bola kuat seperti Brasil, Uruguay, dan Maroko.
Meski pengecualian diberikan bagi pemain, ofisial, dan staf resmi tim, larangan terhadap suporter dinilai diskriminatif dan mencederai prinsip universalitas sepak bola.
Kebijakan ini dianggap dapat merusak esensi Piala Dunia sebagai perayaan global lintas bangsa dan budaya.
Dampak Jika Boikot Terjadi
Dikutip laman Sky Sports, Jika boikot benar-benar terjadi, FIFA dan penyelenggara turnamen akan menghadapi konsekuensi serius. Absennya tim-tim besar seperti Jerman, Spanyol, dan Inggris berpotensi menurunkan kualitas kompetisi sekaligus daya tarik global turnamen.
Situasi tersebut dapat memicu krisis legitimasi bagi FIFA yang dinilai gagal menjaga netralitas olahraga, serta menimbulkan kerugian finansial besar dari sektor hak siar, sponsor, dan penjualan tiket.
Bagi Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama, dampak ekonomi langsung diperkirakan signifikan, terutama dari hilangnya jutaan wisatawan yang batal datang.
Investasi besar dalam pembangunan dan renovasi stadion berisiko tidak memberikan imbal hasil optimal. Secara politik dan reputasi, AS dapat dipersepsikan gagal menghadirkan Piala Dunia yang inklusif, bahkan memunculkan wacana pengalihan sebagian pertandingan ke Kanada dan Meksiko.
Dari sisi peserta, tim dan pemain yang memutuskan tidak ambil bagian harus mengorbankan kesempatan tampil di panggung paling prestisius sepak bola dunia.
Bagi sebagian pemain, Piala Dunia mungkin merupakan kesempatan sekali seumur hidup. Kondisi ini berpotensi memperlebar jurang antara kepentingan olahraga dan tekanan politik, serta memicu ketegangan di dalam organisasi sepak bola internasional.
Baca juga : Bingung Beli Emas Digital? Ini 4 Platform dan Tips Cuan
Sementara itu, penggemar di seluruh dunia diperkirakan akan menjadi pihak yang paling dirugikan secara emosional. Kekecewaan besar dapat muncul di tengah antusiasme yang telah dibangun bertahun-tahun.
Ketidakpuasan terhadap harga tiket yang sebelumnya sudah dinilai mahal juga berpotensi meningkat, disertai menurunnya kepercayaan publik terhadap integritas dan independensi sepak bola global.
Meski wacana boikot menguat, sikap negara-negara Eropa tidak sepenuhnya seragam. Prancis, melalui Menteri Olahraganya, menyatakan belum ada keinginan untuk memboikot dan menegaskan pentingnya memisahkan olahraga dari politik.
Namun demikian, diskusi terkait kemungkinan boikot tetap muncul di parlemen Prancis, mencerminkan adanya tekanan politik internal.
Di Jerman, pemerintah federal menegaskan bahwa keputusan akhir terkait boikot berada di tangan Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB), bukan politisi.
Jika boikot Piala Dunia 2026 benar-benar terwujud, dampaknya akan jauh melampaui lapangan sepak bola. Kondisi tersebut bukan sekadar persoalan absennya beberapa tim elite, melainkan ujian besar bagi prestise FIFA, legitimasi Amerika Serikat sebagai tuan rumah, serta makna Piala Dunia sebagai perayaan olahraga yang menyatukan bangsa-bangsa.
Lebih jauh, situasi ini berpotensi menciptakan preseden baru di mana ajang olahraga internasional semakin rentan dijadikan instrumen dalam tarik-menarik kepentingan politik global.

Amirudin Zuhri
Editor
