Tren Ekbis

BMKS dan Ambisi RI Jadi Pengatur Harga Komoditas Global

  • Bagaimana BMKS bisa membuat Indonesia menjadi price maker? Simak manfaat bursa komoditas, tantangan likuiditas, regulasi, dan peluang Indonesia Reference Price.
IMG_3669.jpeg
Indo Tambang (Dok/Ajaib)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pada artikel sebelumnya, TrenAsia telah membahas apa itu Commodity Exchange, posisi Indonesia sebagai price taker dalam perdagangan komoditas global, serta alasan pemerintah ingin mengubah posisi tersebut menjadi price maker melalui Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS).

Pada artikel pertama, dibahas pula bagaimana bursa komoditas dapat membentuk harga melalui mekanisme permintaan dan penawaran, serta pentingnya Indonesia Reference Price bagi Indonesia sebagai salah satu produsen komoditas strategis dunia.

Kali ini, TrenAsia mengulas lebih jauh manfaat BMKS bagi Indonesia,

Apa Manfaat Bursa Komoditas bagi Indonesia?

Bursa komoditas strategis dapat memberikan sejumlah manfaat bagi Indonesia, mulai dari meningkatkan transparansi harga, memperkuat posisi tawar dalam perdagangan global, hingga membantu pemerintah mengawasi transaksi dan penerimaan negara.

Kehadiran BMKS diharapkan tidak hanya menjadi tempat transaksi komoditas, tetapi juga membangun ekosistem perdagangan yang menghasilkan data harga yang kredibel dan dapat digunakan sebagai referensi.

1. Meningkatkan Transparansi Harga

Transaksi melalui sistem bursa dapat menghasilkan data mengenai harga dan volume perdagangan secara lebih transparan. Data tersebut dapat membantu produsen, eksportir, pembeli, investor, dan pemerintah mengetahui kondisi pasar berdasarkan transaksi yang terjadi.

Semakin banyak transaksi yang tercatat, semakin besar pula basis data yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan harga komoditas secara lebih objektif.

Bagi pemerintah, transparansi tersebut juga penting untuk meningkatkan kualitas pengawasan terhadap perdagangan komoditas strategis.

2. Meningkatkan Posisi Tawar Indonesia

Jika BMKS mampu menarik volume perdagangan yang besar, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan posisi tawar dalam perdagangan komoditas internasional.

Posisi tersebut menjadi penting karena Indonesia merupakan salah satu produsen utama berbagai komoditas dunia. Namun, kekuatan sebagai produsen tidak otomatis membuat Indonesia mampu menentukan harga.

Dengan memiliki pasar domestik yang besar dan likuid, Indonesia berupaya meningkatkan pengaruhnya dalam proses pembentukan harga komoditas.

3. Meningkatkan Penerimaan Negara

Harga transaksi yang lebih transparan juga dapat membantu pemerintah mengawasi nilai perdagangan komoditas dan potensi penerimaan negara. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kemungkinan adanya perbedaan antara nilai transaksi sebenarnya dengan nilai yang dilaporkan.

Dengan tersedianya data transaksi yang lebih terstruktur, pemerintah memiliki basis informasi yang lebih kuat untuk melakukan pengawasan terhadap perdagangan komoditas.

4. Membantu Pengawasan Ekspor

Bursa juga dapat membantu pemerintah memperoleh data yang lebih lengkap mengenai volume, harga, dan nilai ekspor komoditas. Data tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas perdagangan dan mengidentifikasi potensi penyimpangan.

Salah satunya adalah praktik under-invoicing, yaitu pelaporan nilai transaksi ekspor lebih rendah dibandingkan nilai sebenarnya. Dengan harga referensi dan data transaksi yang lebih transparan, ruang untuk melakukan manipulasi nilai transaksi diharapkan dapat semakin sempit.

Komoditas Apa Saja yang Akan Diperdagangkan di BMKS? Pemerintah mempertimbangkan sejumlah komoditas strategis dan unggulan Indonesia untuk masuk dalam ekosistem BMKS.

Komoditas yang dipertimbangkan antara lain,

  • CPO atau minyak sawit mentah
  • Nikel
  • Batu bara
  • Timah
  • Emas
  • Gas alam
  • Minyak bumi

Apakah BMKS Akan Menggantikan ICDX?

Indonesia saat ini sudah memiliki bursa komoditas dan perdagangan berjangka, termasuk Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) dan Jakarta Futures Exchange (JFX).

Karena itu, pembentukan BMKS menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana posisi bursa baru tersebut terhadap ekosistem perdagangan komoditas yang sudah berjalan.

Pemerintah masih mengkaji apakah bursa yang sudah ada akan diintegrasikan dengan ekosistem BMKS atau tetap berjalan secara terpisah. Keputusan tersebut penting karena akan menentukan struktur industri perdagangan komoditas Indonesia ke depan.

Dengan demikian, tantangan pemerintah bukan sekadar membuat platform perdagangan baru. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem pasar komoditas yang terintegrasi, dalam, transparan, dan likuid.

Apa Tantangan Terbesar BMKS?

Membangun bursa komoditas tidak otomatis membuat Indonesia menjadi price maker. Sebuah bursa baru dapat menghasilkan harga referensi yang dipercaya jika memiliki transaksi yang cukup besar, pelaku pasar yang beragam, likuiditas yang tinggi, serta mekanisme perdagangan yang kredibel.

Setidaknya terdapat empat tantangan utama yang perlu diperhatikan.

1. Likuiditas Pasar

Likuiditas merupakan salah satu faktor terpenting dalam menentukan kredibilitas sebuah bursa.

Likuiditas menggambarkan kemampuan pasar untuk mempertemukan pembeli dan penjual dalam jumlah besar tanpa menyebabkan perubahan harga yang terlalu ekstrem.

Semakin banyak pembeli dan penjual yang aktif, semakin dalam pasar tersebut. Pasar yang likuid juga membuat harga lebih sulit dipengaruhi oleh satu atau beberapa pelaku.

Sebaliknya, jika volume transaksi terlalu kecil, harga yang terbentuk di bursa akan sulit digunakan sebagai benchmark global.

Karena itu, tantangan BMKS bukan hanya membangun sistem perdagangan, tetapi memastikan pelaku pasar benar-benar mau dan membutuhkan transaksi di dalam bursa tersebut.

2. Kepercayaan Pelaku Pasar Internasional

Agar Indonesia Reference Price dapat digunakan secara global, pembeli dan penjual internasional harus mempercayai harga yang terbentuk di Indonesia. Kepercayaan tersebut tidak dapat dibangun hanya melalui regulasi.

Diperlukan sejumlah faktor pendukung, antara lain:

  • Transparansi transaksi.
  • Kepastian hukum.
  • Infrastruktur perdagangan yang kuat.
  • Mekanisme penyelesaian transaksi yang terpercaya.
  • Data harga yang konsisten.
  • Partisipasi pelaku pasar yang luas.
  • Keterlibatan pelaku perdagangan internasional.

Tanpa faktor tersebut, harga yang terbentuk di BMKS akan sulit berkembang menjadi benchmark yang digunakan secara luas di pasar global.

3. Regulasi Jangan Terlalu Membebani Pasar

Tantangan berikutnya adalah menemukan keseimbangan antara pengawasan pemerintah dan fleksibilitas pasar. Regulasi yang terlalu longgar dapat meningkatkan risiko manipulasi dan mengurangi transparansi.

Namun, regulasi yang terlalu ketat juga dapat meningkatkan biaya transaksi dan membuat pelaku usaha memilih menggunakan pasar lain. Karena itu, desain regulasi akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan daya saing BMKS.

Bursa harus cukup kuat untuk memberikan kepastian dan perlindungan kepada pelaku pasar, tetapi tetap efisien sehingga tidak membuat perdagangan menjadi terlalu mahal atau rumit.

4. Pengalaman Bursa CPO

Indonesia sebelumnya telah mengembangkan perdagangan CPO melalui bursa domestik. Namun, keberadaan bursa CPO tersebut belum membuat pusat pembentukan harga CPO global berpindah dari pasar yang sudah lebih dulu dominan, khususnya Malaysia.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bagi BMKS, membangun bursa tidak sama dengan membangun benchmark global.

Agar harga yang terbentuk di Indonesia dipercaya secara internasional, diperlukan volume perdagangan besar, likuiditas tinggi, partisipasi internasional, transparansi, dan konsistensi harga.

Lantas, apakah BMKS bisa membuat Indonesia menjadi Price Maker? bisa, tetapi tidak otomatis. Keberhasilan BMKS akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia membangun pasar komoditas yang memiliki volume transaksi besar, likuid, transparan, dan dipercaya oleh pelaku pasar global.

Setidaknya ada tiga indikator utama yang dapat digunakan untuk melihat apakah BMKS berhasil menjalankan fungsi tersebut.

1. Volume Transaksi

Semakin besar transaksi yang terjadi di BMKS, semakin besar pula bobot pasar Indonesia dalam perdagangan komoditas. Volume transaksi juga menunjukkan seberapa banyak pelaku pasar menggunakan bursa tersebut untuk melakukan aktivitas perdagangan.

2. Likuiditas

Pasar harus memiliki cukup banyak pembeli dan penjual sehingga harga terbentuk melalui persaingan permintaan dan penawaran. Likuiditas yang tinggi membuat harga lebih representatif dan mengurangi risiko harga dipengaruhi oleh transaksi dalam jumlah kecil.

3. Kredibilitas Harga

Harga yang terbentuk di BMKS harus dianggap representatif oleh pelaku pasar domestik maupun internasional. Jika ketiga indikator tersebut terpenuhi, Indonesia Reference Price memiliki peluang menjadi salah satu benchmark yang diperhitungkan dalam perdagangan komoditas global.

Apa Hubungan BMKS dengan Hilirisasi?

BMKS dapat menjadi tahap lanjutan dari strategi hilirisasi Indonesia. Selama ini pemerintah mendorong agar komoditas tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga diproses di dalam negeri sehingga menghasilkan nilai tambah.

Namun, rantai nilai komoditas tidak berhenti pada produksi dan pengolahan. Terdapat tahap lain yang juga sangat penting, yaitu,

produksi → pengolahan → perdagangan → pembiayaan → penentuan harga

Jika Indonesia hanya menguasai produksi dan pengolahan tetapi tidak memiliki pengaruh yang besar dalam perdagangan dan pembentukan harga, sebagian nilai ekonomi dari rantai komoditas masih berpotensi berada di luar negeri.

Karena itu, BMKS dapat dipandang sebagai bagian dari strategi untuk memperluas penguasaan Indonesia terhadap rantai nilai komoditas, dari produksi hingga pembentukan harga.

Apa yang Harus Dilakukan Agar BMKS Berhasil?

Agar BMKS tidak hanya menjadi bursa secara administratif, pemerintah perlu memastikan beberapa hal.

  • Pertama, pelaku domestik harus memiliki alasan ekonomi untuk bertransaksi di BMKS.
  • Kedua, bursa perlu mampu menarik pelaku internasional sehingga harga yang terbentuk tidak hanya mencerminkan pasar domestik.
  • Ketiga, data harga dan transaksi harus memiliki transparansi serta kredibilitas tinggi.
  • Keempat, sistem perdagangan harus didukung infrastruktur teknologi, penyelesaian transaksi, dan manajemen risiko yang kuat.
  • Kelima, regulasi perlu memberikan kepastian tanpa menciptakan biaya transaksi yang terlalu tinggi.

Dengan kombinasi aksi diatas, BMKS memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan harga referensi yang dipercaya pasar.