Tren Pasar

Bitcoin Ambrol, Ini Pemicu dan Rekomendasi Jual-Belinya

  • Harga Bitcoin anjlok di bawah US$70.000 pada 5 Februari 2026 dan kembali turun ke bawah US$65.000 sehari kemudian akibat tekanan jual yang kian intensif.
Bitcoin
Ilustrasi Bitcoin. Sumber: Pixabay.com (Pixabay.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Bitcoin (BTC), mata uang kripto terbesar di dunia, mengalami penurunan harga yang tajam dalam beberapa hari terakhir. Penurunan kali ini mencatat nilai terendah dalam lebih dari setahun dan mengguncang pasar kripto global serta investor institusional. 

Penurunan harga tersebut menjadi salah satu momentum laju turun terbesar sejak beberapa tahun terakhir dan menghapus hampir semua keuntungan sejak puncaknya pada akhir 2025.

Pada 5 Februari 2026, harga Bitcoin turun di bawah US$70.000 untuk pertama kalinya sejak awal 2024, kemudian mempercepat penurunan hingga di bawah US$65.000 setelah tekanan jual yang semakin intensif pada tanggal 6 Februari 2026. 

Pergerakan tersebut menyebabkan BTC kehilangan hampir 50% nilainya dari rekor tertinggi sekitar US$126.000 yang dicapai pada Oktober 2025. Beberapa sumber juga melaporkan harga bahkan sempat menyentuh sekitar US$60.000–US$62.000 pada puncak tekanan jual, sebuah level yang belum terlihat sejak Oktober 2024.

Baca juga : IHSG Konsolidasi, Pilih Saham ACES, CPIN, EXCL, dan PGEO

Faktor Pemicu Penurunan

Dilansir TrenAsia dari laman Forbes, Jumat, 6 Februari 2026, penurunan tajam tersebut tidak hanya dipengaruhi satu faktor tunggal, melainkan kombinasi kondisi makro, teknikal, dan sentimen pasar diantaranya sebagai berikut,

1. Sentimen Pasar Risk-Off
Pergerakan harga Bitcoin sangat dipengaruhi oleh risiko di pasar saham global dan aset berisiko lain, di mana investor bergerak ke aset safe-haven seperti emas dan obligasi. Hal ini mendorong arus keluar dari aset kripto secara umum.

2. Likuidasi dan Penjualan Leveraged
Data pasar menunjukkan terjadi likuidasi besar di posisi berjangka (futures) dan penjualan terpaksa (forced selling), meningkatkan dinamika penurunan harga.

3. Arus Keluar ETF dan Institusi
Investor institusional dilaporkan melakukan penarikan modal signifikan dari ETF Bitcoin dan produk kripto lainnya, mengurangi dukungan likuiditas di pasar spot.

4. Tekanan Regulasi dan Politik
Selain faktor ekonomi, tekanan dari regulator serta perubahan sikap terhadap kebijakan kripto di beberapa negara juga turut memperberat sentimen investor.

Dampak jatuhnya harga Bitcoin terasa bukan hanya di pasar harga aset itu sendiri, tetapi juga pada saham dan prospek perusahaan yang sangat bergantung pada kinerja kripto.

Perusahaan yang menyimpan Bitcoin sebagai bagian dari treasury mengalami kerugian besar pada laporan keuangan. Exchange kripto besar, termasuk Gemini, melaporkan pemangkasan tenaga kerja dan pengurangan operasi di pasar global untuk menyesuaikan tekanan pasar.

Baca juga : BMRI Rajai Green Banking, Kucurkan Rp316 T untuk ESG

Rekomendasi Jual/Beli

Pasar saat ini terbagi antara investor yang melihat penurunan sebagai peluang buy-the-dip dan mereka yang khawatir akan tren menurun berlanjut. Komunitas kripto juga ramai mendiskusikan kemungkinan Bitcoin kembali ke level support psikologis yang lebih rendah (mis. US$60.000) sebelum stabil terpadu.

Namun analis pasar memperingatkan bahwa masih belum ada tanda pasti pembalikan tren, dan volatilitas tinggi bisa berlanjut dalam jangka pendek, tergantung data ekonomi global, keputusan suku bunga bank sentral, serta arus modal institusional di pasar kripto secara keseluruhan.

Dikutip laman Market Watch, Analis JPMorgan, Nikolaos Panigirtzoglou, mengeluarkan pandangan kontrarian dengan menilai Bitcoin kini lebih menarik dibanding emas untuk jangka panjang, di tengah lonjakan harga emas dan pelemahan tajam Bitcoin. 

Pandangan ini muncul saat minat investor global cenderung beralih ke emas sebagai aset lindung nilai, sementara Bitcoin justru mengalami tekanan jual signifikan.

Harga Bitcoin yang telah terkoreksi lebih dari 40–50 persen dari puncaknya pada Oktober 2025 membuat aset kripto tersebut dinilai mulai memasuki zona akumulasi bagi investor jangka menengah hingga panjang. 

Tekanan jual besar sudah banyak terserap pasar, sehingga risiko penurunan lanjutan dinilai mulai terbatas, meskipun volatilitas harga masih tergolong tinggi.

Dalam kondisi tersebut, rekomendasi yang mengemuka adalah beli bertahap (buy on weakness), bukan pembelian agresif sekaligus. Strategi ini dinilai lebih aman untuk meredam risiko kesalahan waktu masuk pasar, terutama di tengah ketidakpastian global dan sentimen risk-off yang masih membayangi pasar aset berisiko.

Di sisi lain, rekomendasi jual lebih relevan bagi trader jangka pendek atau investor yang menggunakan leverage tinggi. Jika Bitcoin menembus level support kuat di bawah US$60.000 dengan volume besar, tekanan jual lanjutan masih berpotensi terjadi. 

Dalam situasi tersebut, langkah cut loss terukur dinilai lebih bijak dibanding menahan posisi dengan risiko kerugian yang semakin besar.

Secara keseluruhan, Bitcoin saat ini lebih tepat diposisikan sebagai aset investasi jangka menengah–panjang dengan pendekatan selektif. Analis menekankan pentingnya manajemen risiko, disiplin strategi, serta menghindari keputusan emosional. 

Selama tidak terjadi perubahan fundamental yang signifikan, fase koreksi ini dinilai sebagai periode konsolidasi sebelum pasar kembali mencari arah pergerakan baru.