Biodiesel Jadi Andalan Capai Target Bauran EBT
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengungkapkan, dalam lima tahun terakhir penggunaan EBT sudah menunjukan perkembangan.

Aprilia Ciptaning
Author


Ilustrasi/Indonesia.go.id
(Istimewa)JAKARTA – Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengungkapkan, dalam lima tahun terakhir penggunaan EBT sudah menunjukan perkembangan.
“Subtitusi bahan bakar fosil, misalnya, tercatat pemanfaatan biodiesel meningkat setelah kami memperkenalkan produk campuran biodiesel sebesar 10% (B10),” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 27 April 2021.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
Adapun realisasi produksi biodiesel pada 2015 sebesar 3,01 juta kiloliter (kl), kemudian meningkat menjadi 8,46 juta kl pada tahun lalu.
Dadan bilang, pencapaian ini telah menempatkan Indonesia sebagai negara yang diperhitungkan dalam pasar biodiesel dunia. Posisinya bahkan melampau Amerika Serikat, Brazil, dan Jerman. Hal ini, kata dia, berdampak pada penghematan devisa sebesar Rp38,31 triliun pada 2020.
Selanjutnya dari sisi bauran pembangkit listrik, Dadan menyampaikan EBT mampu menambah kapasitas pembangkit sebesar 2 Giga Watt (GW). Kendati angkanya tidak terlalu besar, katanya, ia optimistis dapat terus ditingkatkan setiap tahun.
“Melihat realisasi tersebut, kami yakin mampu menjawab tantangan agar mencapai target bauran EBT sebesar 23 persen pada 2025,” ungkapnya.
Seperti diketahui, percepatan transisi energi dari fosil ke EBT diyakini bisa membantu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030, serta mampu menekan kenaikan suhu agar tidak lebih dari 2 derajat celcius.
Upaya keluar dari energi fosil dan mulai masuk ke EBT sendiri telah diimplementasikan, salah satunya dengan memproduksi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).
Pada tahun lalu, produksi kendaraan listrik mencapai 600.000 unit untuk roda empat atau lebih. Sementara untuk roda dua, jumlahnya sebesar 2,45 juta unit. Pada 2025, produksi KBLBB di Indonesia ditargetkan mencapai dua juta unit.
Melalui penggunaan KBLBB, diharapkan bisa mengurangi emisi karbon dioksida atau CO2 hingga 2,7 juta ton.
