Tren Pasar

BEI Bidik 6 Emiten Lighthouse, Sektor Swasta Pimpin IPO 2026

  • Bursa Efek Indonesia mencatat 7 perusahaan dalam pipeline IPO per Januari 2026. Sektor keuangan dominan dan pemain aset besar memimpin antrean tanpa nama BUMN.
IPO Sinar Terang Mandiri - Panji 3.jpg
Direktur Utama PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) Ivo Wangarry memberikan sambutan pada acara Seremonial Pencatatan Perdana Saham MINE yang berlangsung di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Senin 10 Maret 2025. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan sebanyak tujuh perusahaan telah masuk dalam daftar antrean atau pipeline pencatatan saham perdana (IPO) hingga pertengahan Januari 2026. Meskipun belum ada emiten yang resmi melantai, proses evaluasi calon emiten baru terus berjalan intensif.

Data bursa per 15 Januari 2026 menunjukkan geliat pasar perdana tahun ini akan didominasi oleh perusahaan berskala besar. Otoritas bursa mencatat mayoritas calon emiten dalam antrean memiliki aset di atas Rp250 miliar, yang menandakan kepercayaan korporasi besar terhadap pasar modal.

Tahun ini, BEI membidik sedikitnya enam perusahaan berskala besar atau lighthouse untuk memperdalam likuiditas pasar dan menarik minat investor institusi global. Kehadiran emiten mercusuar ini menjadi kunci penting bagi pencapaian target total 555 pencatatan efek sepanjang tahun 2026.

1. Dominasi Pemain Aset Jumbo

Merujuk pada klasifikasi POJK Nomor 53/POJK.04/2017, daftar antrean IPO saat ini menunjukkan dominasi perusahaan dengan aset skala besar. Sebanyak lima perusahaan tercatat memiliki nilai aset di atas Rp250 miliar, sementara kategori aset menengah dan kecil masing-masing hanya menyumbang satu perusahaan saja.

Kehadiran pemain besar dalam pipeline ini memberikan sinyal positif bagi stabilitas dan kualitas emiten baru yang akan melantai di bursa. Investor cenderung lebih melirik perusahaan dengan fundamental aset yang kuat karena dinilai memiliki ketahanan lebih baik dalam menghadapi fluktuasi ekonomi global.

Otoritas bursa berkomitmen menjaga proses evaluasi secara ketat guna memastikan profil risiko calon emiten tetap terjaga dengan baik. Dominasi aset jumbo ini diharapkan dapat meningkatkan kapitalisasi pasar modal Indonesia secara signifikan saat seluruh calon emiten tersebut resmi melakukan pencatatan saham.

2. Sektor Keuangan Pimpin Antrean

Dilihat dari sisi sektoral, industri keuangan memimpin antrean IPO awal tahun ini dengan menempatkan dua perusahaan dalam daftar evaluasi bursa. Lima sektor lainnya, yakni basic materials, energi, industri, teknologi, serta transportasi dan logistik, masing-masing menyumbang satu calon emiten potensial bagi para investor.

Keberagaman sektor dalam pipeline IPO memberikan pilihan portofolio yang bervariasi bagi pelaku pasar dalam menyusun strategi investasi tahun ini. Sektor teknologi dan transportasi logistik tetap menarik perhatian seiring dengan akselerasi ekonomi digital yang terus berkembang pesat di berbagai wilayah Indonesia.

Masuknya perusahaan keuangan dalam daftar antrean juga mencerminkan kebutuhan ekspansi modal di tengah pemulihan aktivitas penyaluran kredit nasional. Rotasi sektoral ini diharapkan mampu menjaga gairah perdagangan di pasar perdana tetap tinggi sepanjang semester pertama tahun 2026 mendatang.

3. Swasta Dominasi Proyek Lighthouse

BEI secara khusus membidik setidaknya enam emiten lighthouse untuk melantai tahun ini, namun sejauh ini belum terdapat nama dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal ini mengindikasikan bahwa geliat pencatatan saham skala besar pada tahun ini akan murni didominasi oleh sektor swasta.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengungkapkan bahwa perusahaan mercusuar tersebut saat ini masih dalam tahap persiapan teknis yang sangat mendalam. Absennya BUMN dalam proses evaluasi awal tahun menandakan peran swasta menjadi motor utama penggerak kapitalisasi pasar modal nasional.

Kehadiran emiten lighthouse dinilai sangat krusial untuk menarik kembali aliran dana asing melalui minat investor institusi global berskala besar. Iman menegaskan kondisi tersebut saat ditemui di Gedung BEI, “Seharusnya dari BUMN belum ada, sejauh ini belum ada proses teknis yang berjalan,” dalam keterangannya pada Kamis, 15 Januari 2026. 

4. Target 50 Emiten Baru di 2026

Otoritas bursa menetapkan target ambisius dengan membidik sebanyak 50 pencatatan saham baru melalui skema IPO sepanjang tahun anggaran 2026. Target ini merupakan bagian dari sasaran yang lebih luas, yakni mencapai total 555 pencatatan efek di berbagai instrumen pasar modal.

Pencapaian target ini memerlukan sinergi yang kuat antara otoritas, penjamin emisi, dan pelaku usaha dalam mempersiapkan dokumen persyaratan pencatatan. Likuiditas pasar yang terjaga menjadi modal utama bagi BEI untuk meyakinkan korporasi agar berani mencari pendanaan melalui jalur pasar modal.

Dengan pipeline yang sudah mulai terisi sejak Januari, bursa optimistis tren IPO akan semakin meningkat memasuki kuartal kedua tahun ini. Pertumbuhan jumlah emiten baru akan memperkuat posisi pasar modal Indonesia sebagai pusat investasi strategis di kawasan Asia Tenggara bagi investor global.