Bank Sentral Borong Emas, Dunia Tinggalkan Dolar?
- Pembelian emas bank sentral tembus 1.100 ton pada 2025. Ray Dalio rekomendasikan emas sebagai lindung nilai di tengah tekanan global.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Tren global menunjukkan lonjakan signifikan pembelian emas oleh bank sentral di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Sepanjang 2025, bank sentral dunia tercatat membeli lebih dari 1.100 ton emas, menjadikan kondisi tersebut salah satu periode akumulasi emas terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Fenomena ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas mata uang fiat serta ketahanan sistem keuangan global yang selama ini didominasi dolar Amerika Serikat (AS).
Di tengah kondisi tersebut, pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio kembali menegaskan pentingnya emas sebagai aset lindung nilai. Dalio merekomendasikan investor untuk mengalokasikan sekitar 10–15% portofolio ke emas guna melindungi nilai kekayaan dari risiko inflasi, pelemahan mata uang, serta gejolak sistemik di pasar keuangan.
“Kebanyakan orang biasanya tidak memiliki jumlah emas yang memadai dalam portofolionya,” ujar Dalio dikutip Watcher Guru, Senin, 2 Februari 2026.
Rekomendasi tersebut berangkat dari peran historis emas sebagai penyimpan nilai yang relatif stabil dalam berbagai fase krisis ekonomi. Ketika utang pemerintah meningkat, suku bunga berfluktuasi, dan kepercayaan terhadap mata uang fiat melemah, emas kerap menjadi aset pelarian utama bagi investor maupun bank sentral.
Baca juga : Harga Emas Ambruk 15 Persen, Saham Tambang Ikut Tertekan
Proyeksi Harga Emas
Sejalan dengan meningkatnya permintaan, prospek harga emas pun terus menguat. Sejumlah analis memproyeksikan harga emas dapat mendekati US$6.000 per ons pada pertengahan 2026.
Proyeksi tersebut didukung oleh kinerja emas sepanjang 2025 yang tercatat mengungguli indeks S&P 500 sekitar 65%, sebuah capaian yang mempertegas daya tarik emas di tengah volatilitas pasar saham global.
Kinerja impresif tersebut semakin memperkuat posisi emas sebagai aset defensif utama dalam portofolio global. Tidak hanya investor swasta dan institusi keuangan, bank sentral di berbagai negara juga semakin agresif menjadikan emas sebagai penopang cadangan devisa.
Strategi ini dipandang penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi nasional terhadap guncangan eksternal. Meski menghadapi tekanan, dolar AS hingga kini masih mendominasi sistem keuangan global. Sekitar 89% transaksi valuta asing dunia masih melibatkan dolar.
Namun, porsinya dalam cadangan devisa bank sentral global terus menurun, dari 65,3% pada 2016 menjadi sekitar 59,3% pada akhir 2024. Penurunan ini dinilai sebagai sinyal awal terjadinya diversifikasi cadangan devisa secara global, seiring meningkatnya kesadaran akan risiko konsentrasi pada satu mata uang.
Baca juga : Harga Emas Ambruk 15 Persen, Saham Tambang Ikut Tertekan
Kombinasi lonjakan utang AS, peringatan Ray Dalio terkait risiko runtuhnya tatanan moneter, percepatan dedolarisasi oleh negara-negara berkembang, serta masifnya akumulasi emas oleh bank sentral dinilai menandai pergeseran fundamental dalam sistem moneter dunia.
Meski prosesnya berlangsung bertahap, arah perubahan menuju arsitektur keuangan global yang lebih multipolar semakin jelas.
Bagi investor maupun pembuat kebijakan, dinamika ini menjadi pengingat era stabilitas moneter global pasca-Perang Dunia II tengah menghadapi ujian terbesarnya, dengan implikasi jangka panjang terhadap pasar keuangan, perdagangan internasional, dan kebijakan ekonomi di masa depan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
