Tren Pasar

Harga Emas Ambruk 15 Persen, Saham Tambang Ikut Tertekan

  • Harga emas turun hingga 15% dalam dua hari perdagangan terakhir akibat profit taking dan penguatan dolar AS. Saham emiten tambang emas berpotensi terdampak.
<p>Nampak antrian pembelian logam mulia ANTAM di sebuah pusat perbelanjaan kawasan Tangerang Selatan, Sabtu 19 Juni 2021. Anjloknya harga emas selama sepekan membuat masyarakat berlomba untuk membeli. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia</p>

Nampak antrian pembelian logam mulia ANTAM di sebuah pusat perbelanjaan kawasan Tangerang Selatan, Sabtu 19 Juni 2021. Anjloknya harga emas selama sepekan membuat masyarakat berlomba untuk membeli. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Harga emas dunia mengalami penurunan tajam dalam dua hari perdagangan terakhir. Di pasar spot, harga emas tercatat turun sekitar 15% dari level US$5.375 per ons pada pembukaan perdagangan Jumat (30/1/2026) menjadi US$4.586 per ons pada Senin (2/2/2026) pagi.

Setelah mengalami koreksi dalam, harga emas kemudian bergerak stabil di kisaran US$4.600 hingga US$4.700 per ons.

Berdasarkan laporan Bloomberg, penurunan harga emas tersebut dipicu oleh efek squeeze akibat aksi ambil untung (profit taking) investor, di tengah penguatan dolar Amerika Serikat.

Penguatan dolar terjadi seiring penunjukan mantan anggota Dewan Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, sebagai calon Ketua The Fed menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei 2026.

Warsh dikenal sebagai sosok yang kritis terhadap neraca The Fed yang dinilai terlalu besar. Hal ini mendorong pasar mulai mengantisipasi kebijakan pengetatan neraca (quantitative tightening/QT) serta berkurangnya intervensi bank sentral dalam pasar keuangan guna memulihkan kredibilitas kebijakan moneter.

Kondisi tersebut turut memengaruhi minat investor terhadap aset lindung nilai seperti emas, sehingga menekan harga dalam jangka pendek.

Berpotensi Tekan Saham Emiten Emas

Analis Stockbit, Theodorus Melvin, menilai penurunan harga emas berpotensi memberikan sentimen negatif jangka pendek bagi emiten di sektor pertambangan emas.

Beberapa saham yang berpotensi terdampak antara lain PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), serta PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMAS).

Menurutnya, pelemahan harga emas dapat menekan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan volume transaksi perusahaan, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kinerja keuangan emiten.

Meski demikian, pergerakan harga emas ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta dinamika nilai tukar dolar AS.