Badai Salju Sapu AS dan Eropa, Trump Ragukan Global Warming
- Para ilmuwan menegaskan cuaca dingin ekstrem justru tidak bertentangan dengan perubahan iklim, bahkan dapat menjadi salah satu dampaknya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Gelombang badai salju ekstrem melanda Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa akhir Januari 2026, melumpuhkan transportasi udara dan darat, menelan korban jiwa, serta memicu perdebatan publik setelah mantan Presiden AS Donald Trump kembali mempertanyakan keberadaan pemanasan global.
Para ilmuwan menegaskan cuaca dingin ekstrem justru tidak bertentangan dengan perubahan iklim, bahkan dapat menjadi salah satu dampaknya.
Di Amerika Serikat, Badai Fern yang menerjang pada Minggu, 25 Januari 2026, menyebabkan gangguan besar pada sektor transportasi.
Lebih dari 11.000 penerbangan dibatalkan dalam satu hari, mendekati rekor pembatalan saat pandemi COVID-19. Bandara-bandara utama seperti LaGuardia, JFK, Newark, Charlotte Douglas, dan Reagan National mengalami pembatalan massal, membuat ratusan ribu penumpang terlantar.
Badai ini membawa salju lebat disertai hujan es dan angin kencang. Di New York City, ketebalan salju diperkirakan mencapai 14 inci, tertinggi sejak musim dingin 2021, memaksa otoritas setempat menutup sekolah, menghentikan sebagian layanan publik, serta mengimbau warga untuk tidak bepergian kecuali dalam keadaan darurat.
Baca juga : Airlangga Hartarto: SRC Serap 1 Juta Tenaga Kerja dan UMKM
Fenomena serupa terjadi di Eropa pada pekan pertama Januari 2026, dengan puncaknya pada 7 Januari, saat Badai Goretti menyapu kawasan Eropa Barat dan Utara.
Bandara Schiphol Amsterdam membatalkan sedikitnya 718 penerbangan, sementara Bandara Charles de Gaulle dan Orly di Paris membatalkan sekitar 110 penerbangan. Gangguan juga meluas ke bandara di Inggris, Jerman, Irlandia, dan Denmark.
Tak hanya penerbangan, transportasi kereta dan jalan raya turut lumpuh akibat salju tebal dan lapisan es berbahaya. Otoritas setempat melaporkan setidaknya enam korban jiwa, sebagian besar akibat kecelakaan lalu lintas dan hipotermia.
Trump: “Ke Mana Global Warming?”
Di tengah situasi tersebut, Donald Trump memicu kontroversi lewat unggahan di platform Truth Social pada 24 Januari 2026. Dalam unggahannya Trump mempertanyakan adanya pemanasan Global.
“Gelombang dingin yang mencetak rekor diperkirakan akan menghantam 40 negara bagian. Jarang sekali terlihat hal seperti ini sebelumnya. Bisakah para Environmental Insurrectionists menjelaskan APA YANG TERJADI DENGAN PEMANASAN GLOBAL???”, tulis Trump dalam unggahannya.
Pernyataan ini kembali menghidupkan narasi lama Trump yang meragukan pemanasan global, dengan menjadikan cuaca dingin ekstrem sebagai argumen bahwa dunia tidak sedang memanas.
Disisi lain, para ilmuwan iklim menegaskan cuaca ekstrem jangka pendek tidak dapat digunakan untuk menyangkal tren pemanasan global. Cuaca bersifat lokal dan temporer, sementara iklim adalah pola jangka panjang yang diukur dalam dekade hingga abad.
Data ilmiah menunjukkan selama tahun 2023 hingga 2025 tercatat sebagai periode terpanas dalam sejarah pengukuran modern, suhu global rata-rata terus meningkat akibat emisi gas rumah kaca. Fakta ini tetap berlaku meskipun beberapa wilayah mengalami musim dingin yang ekstrem.
Lebih lanjut, para peneliti menjelaskan bahwa atmosfer yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air, sekitar 7% tambahan kelembapan untuk setiap kenaikan 1 derajat Celsius.
Baca juga : Omzet SRC Tembus Rp236 T, Toko Kelontong Kian Berdaya
Kondisi ini justru dapat meningkatkan intensitas presipitasi, termasuk hujan lebat dan badai salju, ketika suhu di suatu wilayah cukup dingin untuk membekukan kelembapan tersebut menjadi salju.
Fenomena ini menciptakan apa yang disebut ilmuwan sebagai “paradoks iklim”, dunia secara keseluruhan semakin hangat, tetapi cuaca ekstrem, baik panas maupun dingin menjadi lebih intens dan tidak terduga.
Musim dingin tidak hilang akibat pemanasan global, namun pola dan dampaknya berubah, sering kali menjadi lebih merusak.

Amirudin Zuhri
Editor
