Tren Pasar

APBN Defisit Rp135 T, Kenapa Asing Rebutan SBN RI?

  • Perang picu defisit APBN 2026 tembus Rp135,7 T. Anehnya, asing justru asyik borong SBN RI untuk tambal utang tersebut. Kok bisa?
tempImageeGqCWH.jpg
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan kepada awak media usai Konferensi Pers Realisasi APBN 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). Di tengah isu ketidakpastian global, Menkeu menegaskan optimisme pasar keuangan Indonesia yang ditandai dengan kembalinya arus modal asing (capital inflow) sebesar Rp46,8 triliun pada akhir tahun lalu dan IHSG yang sempat menembus level psikologis 9.000. (Alvin Pasza/TrenAsia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Eskalasi konflik di Timur Tengah pada awal 2026 memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas perekonomian domestik. Merespons tekanan eksternal tersebut, pemerintah melebarkan defisit APBN hingga menyentuh Rp135,7 triliun atau 0,53% dari target. Langkah ini diambil guna meredam kejut ekonomi di masyarakat.

Untuk menambal defisit yang melebar tersebut, pemerintah mengandalkan penerbitan instrumen Surat Berharga Negara (SBN). Meski dibayangi risiko geopolitik dan pelebaran postur fiskal, pasar masih merespons pencarian dana ini. Minat investor asing terhadap instrumen utang Indonesia terpantau belum surut.

Arus modal asing masih mencatatkan masuknya likuiditas ke dalam instrumen surat utang pemerintah di awal tahun. Terjadinya kelebihan permintaan atau oversubscribed pada lelang SBN menjadi indikator utamanya. Pasar global tampaknya masih menakar bahwa risiko pembiayaan fiskal Indonesia cukup terukur.

Pertahanan SBN Hadapi Dinamika Global

Menteri Keuangan Purbaya mengakui dinamika pasar keuangan global saat ini memang memberikan tekanan pada instrumen domestik. Namun, ia mengklaim posisi pertahanan ekonomi Indonesia masih cukup kuat menghadapi guncangan tersebut. Kenaikan Credit Default Swap (CDS) lima tahun dinilai masih berada pada level aman.

"Di pasar keuangan, tentu tercermin ada kenaikan sedikit. CDS lima tahun perlu naik sedikit, tapi masih aman. Segala perubahan ini mencerminkan pertahanan pada SBN kita yang tetap lebih menarik di mata global," jelas Menkeu Purbaya, Rabu, 11 Maret 2026.

Lebih lanjut, Purbaya menyoroti pelebaran spread atau selisih imbal hasil antara SBN dan US Treasury. Saat ini, spreadSBN bergerak dari kisaran 2,40 naik ke angka 2,43. Meski ada pelebaran selisih, pemerintah meyakini instrumen SBN masih mampu memberikan imbal hasil yang kompetitif.

Minat Tinggi di Pasar Domestik

Klaim ketahanan ekonomi tersebut sejalan dengan realisasi data lelang obligasi pemerintah di awal tahun. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut tingkat kepercayaan investor global terhadap Indonesia masih terjaga. Hal ini merujuk pada capaian lelang SBN yang terus mencatatkan kelebihan permintaan.

Pada lelang Surat Utang Negara (SUN), bid to cover ratio tercatat mencapai angka 2,4 kali. Sementara itu, untuk lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), rasionya menembus level 2,8 kali. Realisasi ini mencerminkan ketersediaan likuiditas pasar yang masih memadai untuk menyerap surat utang.

“Partisipasi dan minat dari investor asing juga masih terjaga dengan baik. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan tahun yang lalu,” ungkap Wamenkeu Juda Agung.

Penerbitan Lewat Dual Currency

Selain di pasar domestik, pemerintah juga menarik utang baru dari pasar global pada Februari lalu. Penerbitan SBN ini menggunakan skema dual currency offshore guna mendiversifikasi risiko. Instrumen ini tidak menggunakan dolar AS, melainkan denominasi Renminbi Tiongkok (CNH) dan Euro.

Penawaran instrumen tersebut diklaim terserap pasar dengan yield yang cukup kompetitif. Untuk denominasi CNH, pemerintah menarik utang 9,25 miliar CNH dengan yield 2 hingga 3%. Sedangkan untuk Euro, pendanaan mencapai 2,7 miliar Euro dengan tingkat yield antara 4 hingga 5%.

"Keberhasilan di pasar global dengan yield yang cukup baik ini menjadi bukti nyata bahwa investor global sangat percaya dengan fundamental ekonomi kita yang masih terjaga dengan baik," kata Wamenkeu Juda Agung.

Kendati sentimen global masih fluktuatif, pemerintah menilai spread yield Indonesia secara keseluruhan masih berada di level aman. Angka ini diklaim lebih positif jika dibandingkan negara-negara berkembang setara (peer countries). Pemerintah dan otoritas moneter menyatakan akan terus memantau volatilitas pasar ke depan.