Apa Itu Green Bond? Sinergi Elegan Antara Profit dan Planet
- Apa itu Green Bond? Instrumen ini tawarkan cuan sekaligus dampak lingkungan positif. Simak cara kerja, contoh emiten, dan peran Taksonomi Hijau OJK.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Dulu dunia investasi dan aktivisme lingkungan seolah berdiri di dua kutub yang berlawanan di mana investor hanya mengejar profit semata. Namun narasi itu kini telah berubah drastis dengan hadirnya instrumen Green Bonds atau Obligasi Hijau di pasar modal.
Instrumen ini membuktikan bahwa upaya menyelamatkan bumi tidak harus berarti mengorbankan keuntungan finansial bagi para investor masa kini. Berbeda dengan surat utang biasa, dana dari Green Bonds wajib dan eksklusif digunakan untuk membiayai proyek yang berdampak positif nyata.
Pergeseran psikologi investor terutama di kalangan generasi muda telah mendorong popularitas instrumen ini secara global dalam beberapa tahun terakhir. Transparansi pelaporan dampak dan manajemen risiko yang lebih baik menjadikan obligasi hijau pilihan seksi untuk diversifikasi portofolio aset masa depan.
1. Mekanisme Penggunaan Dana
Secara mekanisme pasar instrumen ini memang mirip surat utang biasa namun ada satu syarat mutlak yang membedakannya secara fundamental. Perbedaan utama tersebut terletak pada penggunaan dana atau use of proceeds yang diatur secara ketat dalam prospektus penerbitan obligasi.
Jika obligasi konvensional dananya bisa dipakai bebas untuk gaji direksi atau refinancing utang lama maka Green Bond sangat berbeda. Dana yang terkumpul dari investor wajib dan eksklusif digunakan untuk membiayai proyek yang berdampak positif nyata bagi lingkungan hidup.
Ketentuan ini memberikan jaminan moral bagi investor bahwa uang mereka tidak digunakan untuk aktivitas yang merusak alam atau polutif. Hal ini menjadikan Green Bond jembatan elegan yang menghubungkan pragmatisme finansial dengan idealisme pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
2. Inisiatif Negara
Indonesia patut berbangga karena tercatat sebagai negara pertama di dunia yang menerbitkan Sovereign Green Sukuk di pasar global internasional. Bagi investor ritel instrumen ini bisa ditemukan pada seri Sukuk Tabungan atau ST yang rutin ditawarkan oleh pemerintah setiap tahun.
Dana yang Anda masukkan ke seri seperti ST013 tidak sekadar disimpan di kas negara tetapi dipinjam untuk proyek spesifik. Salah satu contoh nyata adalah pembangunan jalur kereta api ganda di Selatan Jawa untuk kurangi emisi gas buang transportasi.
Selain itu dana hijau ini juga mengalir ke proyek ketahanan sumber daya air seperti pembangunan bendungan dan sistem irigasi. Pemasangan panel surya di berbagai gedung pemerintahan juga menjadi bukti nyata kontribusi investor ritel dalam mendukung transisi energi nasional.
3. Terobosan Korporasi
Sektor perbankan pelat merah seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk turut agresif menerbitkan obligasi berwawasan lingkungan bernilai triliunan rupiah. Dana segar ini kemudian disalurkan kembali dalam bentuk kredit hijau untuk sektor kendaraan listrik dan berbagai proyek energi terbarukan.
Sebagai ujung tombak kelistrikan nasional PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) juga menerbitkan Green Bond untuk membiayai infrastruktur transmisi krusial. Jaringan ini menghubungkan sumber energi terbarukan yang tersebar ke pusat beban guna kurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar fosil.
Dari sektor swasta langkah progresif ditunjukkan oleh PT OKI Pulp and Paper Mills yang menerbitkan obligasi hijau untuk pengelolaan limbah. Ini membuktikan bahwa industri manufaktur pun bisa berpartisipasi aktif dalam ekonomi hijau melalui penerapan efisiensi energi yang jauh lebih canggih.
4. Skala Global
Di panggung internasional raksasa teknologi Apple Inc tercatat sebagai salah satu penerbit obligasi hijau korporasi terbesar di dunia saat ini. Langkah ini menunjukkan komitmen perusahaan global untuk menggunakan kekuatan pasar modal dalam membiayai inisiatif keberlanjutan mereka yang sangat ambisius.
Mereka menggunakan dana miliaran dolar dari investor untuk membangun ladang panel surya dan kincir angin berskala sangat masif. Energi bersih ini digunakan untuk mentenagai seluruh data center dan kantor pusat mereka demi mencapai target operasional nol karbon perusahaan.
Tidak hanya energi dana tersebut juga dialokasikan untuk membiayai riset material daur ulang canggih bagi produk iPhone buatan mereka. Strategi ini membuktikan bahwa inovasi teknologi dan tanggung jawab lingkungan bisa berjalan beriringan dengan dukungan pendanaan yang tepat sasaran.
5. Tantangan dan Taksonomi
Meski menawarkan tujuan mulia pasar ini bukan tanpa celah dengan isu terbesar adalah praktik Greenwashing oleh para penerbit nakal. Hal ini terjadi ketika perusahaan melabeli obligasinya hijau namun menggunakan standar rendah atau untuk tujuan yang sebenarnya tidak ramah lingkungan.
Di sinilah peran Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia atau TKBI yang dirilis OJK menjadi sangat krusial sebagai kamus standar investasi. Tanpa panduan validasi ini definisi hijau akan menjadi kacau balau dan membingungkan investor yang ingin berkontribusi pada pelestarian alam semesta.
OJK menetapkan kategori ketat mulai dari aktivitas hijau murni hingga transisi seperti pemensiunan dini pembangkit listrik tenaga uap. Bagi investor taksonomi ini adalah panduan validasi agar tidak tertipu oleh klaim palsu produk investasi yang hanya sekadar pencitraan semata.

Ananda Astri Dianka
Editor
