Tren Ekbis

Apa Bedanya Krisis 1998 dan Tekanan Ekonomi Indonesia Saat Ini?

  • Rupiah melemah, IHSG tertekan, dan harga BBM naik. Apakah Indonesia sedang menuju krisis seperti 1998? Simak perbedaan dan dampaknya bagi masyarakat.
Hitung mundur 8 hari menuju "Hari Penghakiman" MSCI 29 Mei 2026! TrenAsia membongkar mekanisme forced sell triliunan rupiah dana asing dan taktik cerdas memanfaatkan fenomena "salah harga" saham Blue Chip untuk raih cuan kilat.
Hitung mundur 8 hari menuju "Hari Penghakiman" MSCI 29 Mei 2026! TrenAsia membongkar mekanisme forced sell triliunan rupiah dana asing dan taktik cerdas memanfaatkan fenomena "salah harga" saham Blue Chip untuk raih cuan kilat. (Diolah)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pelemahan rupiah, tekanan di pasar saham, hingga kenaikan harga BBM membuat sebagian masyarakat mulai mengingat kembali krisis moneter 1998. Tidak sedikit yang bertanya-tanya apakah kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang mengarah ke krisis yang sama seperti hampir tiga dekade lalu.

Sekilas, sejumlah gejalanya memang terlihat mirip. Rupiah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah mencapai Rp18.100, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hingga sempat ambrol ke level 5500.

Disektor energi, harga Pertamax mengalami kenaikan signifikan menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 juga naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.

Perbedaan paling mendasar terletak pada fundamental ekonomi yang masih relatif kuat, sistem perbankan yang lebih sehat, serta inflasi yang masih berada dalam rentang terkendali.

“Dari pertemuan APBN KiTa kemarin sudah kelihatan fundamental ekonomi kita baik, fiskal juga dalam keadaan baik, amat baik malah kalau kita lihat dari acuan-acuan yang ada,” ujar Purbaya kala memberikan keterangan resminya, dikutip Jumat, 12 Juni 2026.

Baca juga : Studi Resiliensi Finansial: 80 Persen Warga Tertekan Biaya Hidup

Ekonomi Masih Tumbuh, Bukan Terpuruk

Salah satu pembeda terbesar antara kondisi saat ini dan krisis 1998 adalah pertumbuhan ekonomi.

Pada masa krisis moneter 1998, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi hingga sekitar 13%. Aktivitas ekonomi terhenti, banyak perusahaan gulung tikar, dan jutaan pekerja kehilangan pekerjaan. Kontraksi ekonomi bahkan berlangsung selama dua tahun berturut-turut.

Sebaliknya, pada 2026 ekonomi Indonesia masih mencatat pertumbuhan positif sekitar 5,61% pada kuartal pertama. Meskipun menghadapi tekanan global, aktivitas ekonomi nasional masih berjalan dan konsumsi masyarakat tetap menjadi penopang utama pertumbuhan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi perlambatan dan tekanan ekonomi, bukan keruntuhan ekonomi seperti yang terjadi pada akhir 1990-an.

Inflasi Masih Terkendali

Pada 1998, masyarakat menghadapi lonjakan harga yang sangat ekstrem. Inflasi tahunan sempat menembus lebih dari 77%, menyebabkan harga kebutuhan pokok naik hampir setiap hari.

Dampaknya sangat terasa bagi masyarakat. Daya beli anjlok, tabungan kehilangan nilai, dan banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Situasi saat ini berbeda. Meski sejumlah harga mengalami kenaikan akibat pelemahan rupiah dan faktor global, inflasi Indonesia pada Mei 2026 masih berada di kisaran 3,08%.

Artinya, kenaikan harga masih relatif terkendali dan belum menyebabkan penurunan daya beli secara drastis seperti yang terjadi pada masa krisis moneter.

Baca juga : Ketika Kelas Menengah Makin Terengah-engah

Sistem Perbankan Jauh Lebih Kuat

Krisis 1998 juga ditandai dengan runtuhnya sistem perbankan nasional. Banyak bank mengalami kesulitan likuiditas akibat kredit macet dan utang luar negeri yang membengkak karena pelemahan rupiah.

Kepanikan masyarakat memicu fenomena bank rush atau penarikan dana besar-besaran dari perbankan. Pemerintah saat itu terpaksa melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap sektor keuangan.

Saat ini kondisi tersebut belum terlihat. Perbankan Indonesia memiliki tingkat permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) yang berada di atas 25%, jauh di atas batas minimum yang ditetapkan regulator.

Likuiditas perbankan juga masih terjaga sehingga risiko krisis perbankan seperti 1998 dinilai jauh lebih kecil.

Utang Dolar Tidak Lagi Menjadi Bom Waktu

Salah satu pemicu utama krisis 1998 adalah tingginya utang luar negeri swasta yang tidak dilindungi dengan mekanisme lindung nilai (hedging).

Ketika rupiah anjlok, beban utang perusahaan melonjak berkali-kali lipat dalam waktu singkat. Banyak perusahaan akhirnya tidak mampu membayar kewajibannya dan mengalami kebangkrutan.

Kini, pelaku usaha relatif lebih siap menghadapi gejolak nilai tukar. Regulasi yang lebih ketat dan penggunaan instrumen lindung nilai membuat risiko akibat pelemahan rupiah dapat dikelola dengan lebih baik. Meski tekanan kurs tetap meningkatkan biaya usaha, dampaknya tidak sebesar yang terjadi pada 1998.

Mengapa Rupiah Melemah tetapi Tidak Menimbulkan Krisis?

Perbedaan lain terletak pada sistem nilai tukar yang digunakan Indonesia.

Pada 1998, Indonesia masih menerapkan sistem managed float atau kurs mengambang terkendali. Bank Indonesia berupaya mempertahankan nilai tukar pada level tertentu hingga akhirnya tekanan pasar menjadi terlalu besar dan rupiah jatuh bebas.

Saat ini Indonesia menggunakan sistem flexible exchange rate atau kurs mengambang bebas. Dalam sistem ini, nilai tukar bergerak mengikuti mekanisme pasar sehingga penyesuaian terjadi secara bertahap.

Akibatnya, meskipun rupiah sempat menyentuh level terlemah secara historis, dampaknya tidak langsung memicu krisis sistemik karena pelaku ekonomi telah beradaptasi dengan fluktuasi nilai tukar.

Baca juga : Melanggengkan Ketergantungan dari BLT Rp5,4 Juta per Tahun

Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Meski tidak sama dengan krisis 1998, tekanan ekonomi tetap dirasakan masyarakat. Pelemahan rupiah membuat harga barang impor menjadi lebih mahal. 

Produk elektronik seperti smartphone dan laptop berpotensi mengalami kenaikan harga. Biaya perjalanan ke luar negeri, pendidikan internasional, hingga ibadah umrah juga menjadi lebih mahal karena bergantung pada mata uang asing.

Di sektor otomotif, harga kendaraan baru dapat mengalami penyesuaian karena masih menggunakan komponen impor. Sementara itu, kenaikan harga BBM berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang.

Masyarakat juga menghadapi tantangan berupa biaya hidup yang lebih tinggi dan meningkatnya kehati-hatian dalam mengelola keuangan rumah tangga.

Namun berbeda dengan 1998, kondisi saat ini belum menyebabkan lonjakan harga yang tidak terkendali, kelangkaan barang, maupun kepanikan massal di sektor keuangan.

Meskipun tekanan ekonomi saat ini tidak bisa dianggap ringan, mayoritas ekonom menilai kondisi Indonesia masih jauh dari krisis sistemik seperti yang terjadi pada 1998.

Pelemahan rupiah, koreksi pasar saham, dan kenaikan harga energi memang menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun fondasi ekonomi yang lebih kuat, perbankan yang sehat, inflasi yang terkendali, serta sistem nilai tukar yang lebih fleksibel membuat Indonesia memiliki daya tahan yang jauh lebih baik dibandingkan hampir tiga dekade lalu.

Bagi masyarakat, dampaknya tetap terasa melalui kenaikan biaya hidup dan harga sejumlah barang. Namun hingga saat ini, tekanan tersebut lebih mencerminkan gejolak ekonomi global dan penyesuaian pasar dibandingkan tanda-tanda terjadinya krisis ekonomi nasional seperti tahun 1998.