Tren Inspirasi

Anak Muda Solo Diajak Jadi Inspirator Keselamatan Jalan

  • AI&Me Solo Road Safety Festival mengajak anak muda menjadi penggerak keselamatan jalan melalui pemetaan risiko, edukasi, riset, dan advokasi infrastruktur.
WhatsApp Image 2026-10-06 at 15.36.08.jpeg
Poster AI&Me Solo Road Safety Festival yang akan digelar di SMP Khusus Olahraga (SKO) Kota Solo, Sabtu, 10 Oktober 2026. (Transportologi)

SOLO, TRENASIA.ID — Anak muda didorong tidak lagi sekadar menjadi sasaran kampanye keselamatan jalan, tetapi ikut menjadi penggerak perubahan. Gagasan itu menjadi salah satu fokus AI&Me Solo Road Safety Festival yang akan digelar di SMP Khusus Olahraga (SKO) Kota Solo, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Direktur Transportologi Sukma Larastiti mengatakan pelibatan anak muda penting karena keselamatan jalan merupakan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Melalui festival tersebut, anak muda diharapkan berani menyuarakan persoalan keselamatan jalan sekaligus mendorong perbaikan yang lebih konkret.

“Harapannya, anak muda tidak hanya berbicara, tetapi juga mendorong peningkatan keselamatan jalan, baik melalui gerakan bersama maupun perbaikan infrastruktur,” kata Lala, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers menjelang pelaksanaan festival di SKO, Selasa, 6 Oktober 2026.

Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi bagian dari program AI&Me: Empowering Youth for Livable Cities yang telah dijalankan Transportologi di Kota Solo selama sekitar satu tahun.

Program AI&Me dirancang untuk menempatkan anak muda sebagai aktor aktif dalam keselamatan jalan. Sebelumnya, Transportologi telah melatih 15 guru dari tiga sekolah di Solo untuk mengembangkan keterlibatan siswa dalam pemetaan risiko keselamatan jalan menggunakan Youth Engagement Application (YEA).

Anak Muda Ikut Petakan Jalan yang Tidak Aman

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah mengajak siswa memetakan sendiri lokasi yang menurut mereka aman, tidak aman, hingga sangat tidak aman di sekitar sekolah.

Data dari pemetaan tersebut kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi persoalan keselamatan jalan, termasuk aspek infrastruktur. Hasil analisis selanjutnya diharapkan menjadi rekomendasi bagi pemerintah dalam menentukan intervensi peningkatan keselamatan jalan.

Tiga sekolah menjadi bagian dari intervensi AI&Me di Solo, yakni SMAN 4 Solo, SMA Regina Pacis Solo, dan SMPN 12 Solo. Ketiganya dipilih melalui analisis terhadap ratusan sekolah untuk melihat lokasi dengan risiko keselamatan jalan yang tinggi sekaligus mempertimbangkan keterlibatan pemangku kepentingan sekolah.

Direktur Transportologi, Sukma Larastiti (kanan) dan Pejabat Komunikasi Transportologi, Cahyadi Kurniawan, memberi pemaparan dalam konferensi pers AI&Me Solo Road Safety Festival di SMP Khusus Olahraga (SKO) Kota Solo, Selasa, 6 Oktober 2026. (Chrisna Chanis Cara/TrenAsia)

Lala mengatakan pendekatan yang digunakan memadukan analisis berbasis riset dengan pendekatan partisipatif. “Jadi dua hal itu masuk bersamaan,” ujarnya.

Di kawasan Manahan, misalnya, hasil intervensi tersebut diharapkan nantinya dapat memberikan dampak kepada sekitar 10.000 siswa yang beraktivitas di kawasan tersebut, terutama ketika rekomendasi peningkatan keselamatan jalan mulai diterapkan.

Namun, pihaknya menyebut perubahan infrastruktur merupakan target jangka panjang karena membutuhkan proses perencanaan dan penganggaran pemerintah. Karena itu, dalam jangka pendek, Transportologi ingin membangun kesadaran publik bahwa peningkatan keselamatan jalan juga membutuhkan dukungan anggaran.

Bagi anak-anak sekolah yang sebagian besar belum memiliki pilihan untuk mengendarai mobil secara mandiri, kata dia, pilihan mobilitas yang aman sangat bergantung pada tersedianya infrastruktur yang memadai, seperti trotoar, jalur sepeda, dan angkutan umum yang lebih andal.

Festival Jadi Ruang Bersuara Anak Muda

AI&Me Solo Road Safety Festival menjadi salah satu upaya untuk membawa isu keselamatan jalan ke ruang publik dengan pendekatan yang lebih ringan dan melibatkan banyak kelompok usia.

Lala mengatakan salah satu tantangan yang selama ini dihadapi adalah persepsi masyarakat yang menganggap kematian akibat kecelakaan lalu lintas sebagai sesuatu yang biasa. “Orang menganggap kematian akibat tabrakan itu sebagai hal yang biasa. Takdir,” ujarnya.

Menurut dia, mengubah pola pikir fatalistik tersebut tidak mudah. Festival dipilih sebagai medium untuk membicarakan keselamatan jalan dengan cara yang lebih terbuka dan tidak terlalu berat.

Lala mengatakan festival yang mengusung tema “Nothing About Youth Without Youth” ini memiliki target sekitar 5.000 peserta. Meski fokusnya anak muda, kegiatan terbuka bagi berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, pelajar, orang dewasa hingga lansia.

Rangkaian kegiatan mencakup talkshow, pameran data keselamatan jalan, workshop pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), edukasi dan pelatihan keselamatan, safe driving workshop hingga booth komunitas.

Dalam pelatihan P3K, peserta akan mendapatkan pengetahuan mengenai tindakan yang perlu dilakukan ketika menemukan korban kecelakaan, termasuk pentingnya tidak sembarangan memindahkan korban atau memberikan sesuatu kepada korban. Penanganan pada fase setelah kecelakaan dinilai dapat menentukan keselamatan korban.

Sementara dalam safe driving workshop, anak muda akan mendapatkan pelatihan berkendara sepeda motor yang aman dengan instruktur dari Yamaha Riding Academy.

Festival juga menghadirkan berbagai kegiatan dan kompetisi untuk memperluas partisipasi anak muda, termasuk lomba fotografi, video pendek, poster kampanye, dan poster ilmiah. 

Transportologi sebelumnya membuka kompetisi tersebut dengan tema seperti “Satu Nyawa Berharga” dan “Mobility for Life: Improving Road Safety and Reducing Youth Fatalities on the Street”. Puncak pemberian penghargaan dan pameran dijadwalkan pada 10 Oktober 2026.