Album K-Pop Kini Semakin Berevolusi
- Setelah bertahun-tahun mengalami pertumbuhan yang didorong oleh penjualan album fisik, industri K-pop kini memasuki perubahan struktural besar.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Setelah bertahun-tahun mengalami pertumbuhan yang didorong oleh penjualan album fisik, industri K-pop kini memasuki perubahan struktural besar. Meskipun penjualan album telah menurun dari puncaknya, pendapatan industri secara keseluruhan tetap meningkat.
Hal ini dikarenakan perusahaan memperluas sumber pemasukan melalui konser, penjualan merchandise, dan layanan penggemar berbayar, sehingga peran album fisik pun mengalami pergeseran.
Alih-alih menandakan penurunan, para pelaku industri menilai perubahan ini sebagai peralihan dari pola penjualan berbasis kuantitas menuju konsumsi berbasis partisipasi. Dalam konteks ini, album tidak lagi semata berfungsi sebagai media musik, melainkan sebagai sarana untuk memperkuat keterlibatan penggemar.
Berdasarkan data Circle Chart, total penjualan album dari 400 rilisan teratas sepanjang 2025 mencapai sekitar 90,9 juta kopi hingga November, turun sekitar 2,56 juta unit dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Tolok ukur yang telah lama disebut-sebut, yaitu 100 juta album terjual setiap tahun, yang dulunya dianggap sebagai penanda simbolis ekspansi K-pop, kini gagal tercapai untuk tahun kedua berturut-turut.
Boy group Stray Kids memimpin penjualan album dengan hampir 7 juta kopi, disusul oleh SEVENTEEN, NCT Wish, ENHYPEN, BOYNEXTDOOR, dan ZEROBASEONE. Meski para grup papan atas masih mampu mencatat penjualan hingga jutaan unit, para analis menilai angka tersebut menunjukkan tanda-tanda stagnasi setelah bertahun-tahun praktik pembelian album dalam jumlah besar oleh para penggemar.
Meski demikian, penurunan tersebut tidak berdampak pada melemahnya kinerja keuangan, karena pertunjukan langsung justru berkembang menjadi salah satu sumber pendapatan utama.
Dalam laporan Boxscore akhir tahun 2025 versi Billboard, HYBE Labels menempati peringkat keempat sebagai promotor top dunia, menghasilkan US$469,2 juta dari tur global di 213 pertunjukan, yang dihadiri oleh lebih dari 3,3 juta orang.
Sementara, SM Entertainment mencatat pendapatan konser sebesar 52,5 miliar won pada kuartal ketiga tahun lalu, meningkat 37,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan konser JYP Entertainment melonjak hampir tiga kali lipat, sedangkan YG Entertainment meraih sekitar sepertiga dari total pendapatannya melalui pertunjukan langsung, didorong oleh grup besar seperti BLACKPINK dan 2NE1.
Selain tur, penjualan merchandise juga semakin berperan penting sebagai sumber pendapatan bagi perusahaan-perusahaan K-pop.
HYBE mencatat lonjakan pendapatan dari merchandise dan lisensi sebesar 70% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total mencapai 168,3 miliar won pada kuartal ketiga 2025. Sementara itu, SM, YG, dan JYP juga masing-masing membukukan pendapatan merchandise hingga puluhan miliar won.
“Para penggemar kini lebih memilih untuk membelanjakan uang pada barang-barang yang menawarkan nilai praktis daripada membeli album hanya untuk meningkatkan peringkat penyanyi favorit mereka,” kata seorang sumber internal industri di sebuah agensi hiburan menengah. “Mereka masih setia, tetapi label mulai menyadari bahwa penggemar mengekspresikannya dengan cara yang berbeda.”
Dari Musik hingga Merchandise

Meski demikian, album masih memiliki peran penting dan belum bisa ditinggalkan begitu saja. Bagi agensi besar, musik rekaman masih menyumbang sekitar 30% dari total pendapatan, sehingga perusahaan terus menerapkan berbagai strategi untuk mendorong penjualan album.
Album K-pop umumnya dirilis dalam berbagai versi dan dilengkapi photocard acak, yang mendorong penggemar membeli lebih dari satu kopi demi mendapatkan item tertentu atau melengkapi satu set penuh.
Strategi lain yang telah terbukti efektif adalah sistem undian acara jumpa penggemar (fansign), di mana pembelian album dijadikan sebagai tiket masuk. Meskipun dikemas sebagai undian acak, di kalangan fandom sudah dipahami bahwa semakin banyak album yang dibeli, semakin besar peluang untuk terpilih.
Di dalam penggemar, pengetahuan tentang berapa banyak album yang dibutuhkan untuk mendapatkan akses ke acara jumpa penggemar kini telah menyebar luas, mengubah pembelian album menjadi proses yang kompetitif.
Tak jarang, penggemar membeli puluhan bahkan lebih dari 100 kopi album yang sama demi mendapatkan kesempatan bertemu dengan idola favorit mereka, baik secara langsung maupun melalui panggilan video.
Selain taktik yang berfokus pada volume penjualan, perusahaan juga telah mengubah desain album itu sendiri, menggesernya lebih dekat ke kategori barang dagangan. Sebagai contoh, alih-alih berpusat pada CD, rilisan semakin dirancang di sekitar barang fungsional atau barang koleksi yang dimaksudkan untuk digunakan atau dikenakan.
Salah satu contoh terbaru datang dari girl group ILLIT. Agensi mereka, Belift Lab, mengungkapkan bahwa versi merchandise dari album November 2025 bertajuk “NOT CUTE ANYMORE” langsung habis terjual tak lama setelah masa pre-order dibuka.
Versi Little Mimi dari album tersebut, yang menampilkan gantungan kunci boneka mini terinspirasi dari para anggota dan diproduksi lewat kolaborasi dengan merek mainan Little Mimi, bahkan memicu produksi tambahan karena tingginya permintaan.
Paket ini memadukan unsur merchandise dan musik, berisi mini CD, buku lirik, dan photocard. Total enam versi dirilis, termasuk edisi tersembunyi terbatas yang dirancang untuk meningkatkan nilai koleksi.
Respons tersebut sejalan dengan tingginya minat terhadap mini album ILLIT yang dirilis pada Juni 2025 berjudul “bomb.” Album tersebut memiliki versi khusus yang dibundel dengan sepasang earphone dan dilaporkan juga habis terjual selama masa pre-order.
Pendekatan serupa sebelumnya terlihat pada album NCT Wish tahun 2024, “Steady,” yang dirilis dalam format “smart album” berupa gantungan kunci berbentuk bintang. Dengan memanfaatkan teknologi tanpa kontak, produk ini memungkinkan penggemar mengakses musik secara digital sekaligus membawa aksesori berkarakter yang merepresentasikan identitas grup tersebut.
“Konsumen tidak lagi membeli barang hanya untuk menikmati produk itu sendiri, tetapi semakin memperlakukan selera budaya sebagai bagian inti dari identitas pribadi,” demikian catatan kritikus budaya pop Lee Moon-won dalam kolomnya baru-baru ini.
“Membeli merchandise telah menjadi cara bagi penggemar untuk menegaskan identitas mereka, dan seiring dengan terus berkembangnya pasar budaya pop, bentuk-bentuk konsumsi berbasis fandom serupa kemungkinan akan muncul di seluruh pasar musik global,” tegasnya.

Distika Safara Setianda
Editor
