Tren Ekbis

81 Tahun Indonesia Merdeka, Begini Potret Kesejahteraan Warga

  • Bagaimana kesejahteraan masyarakat Indonesia berubah sejak merdeka? Simak perkembangan pendapatan, kemiskinan, harapan hidup, hingga kepemilikan rumah.
Target Pengentasan Kemiskinan .jpg
Aktivitas warga di perkampungan kumuh kawasan pesisir Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa, 11 Januari 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia.com (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Delapan puluh satu tahun setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia mencatat perubahan besar dalam berbagai indikator kesejahteraan masyarakat. 

Pendapatan per kapita kini menembus US$5.000, tingkat kemiskinan diklaim berada di level terendah sepanjang sejarah, harapan hidup terus meningkat, dan hampir seluruh rumah tangga telah menikmati akses listrik.

Transformasi tersebut mencerminkan perjalanan panjang Indonesia dari negara agraris yang menghadapi kemiskinan dan keterbatasan infrastruktur menjadi negara berpendapatan menengah dengan kualitas hidup yang terus membaik. 

Namun, sejumlah tantangan masih membayangi, mulai dari ketimpangan ekonomi, kualitas pendidikan, hingga jutaan keluarga yang belum memiliki hunian layak.

Baca juga : 81 Tahun Indonesia Merdeka, Warga Naik dari 70 Juta Jadi 290 Juta

Pendapatan Per Kapita Tembus Rekor Baru

Salah satu indikator yang paling mencerminkan peningkatan kesejahteraan adalah pendapatan per kapita.

Pada awal masa kemerdekaan, Indonesia masih tergolong negara miskin dengan kapasitas ekonomi yang sangat terbatas. Hingga akhir 1960-an, nilai produk domestik bruto (PDB) nasional diperkirakan hanya sekitar US$7,7 miliar.

Kini kondisinya jauh berbeda. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS "Ekonomi Indonesia Tahun 2025 Tumbuh 5,11 Persen" yang dirilis pada 5 Februari 2026, PDB per kapita Indonesia pada 2025 mencapai Rp83,7 juta atau setara US$5.083,4, menjadi kali pertama dalam sejarah menembus level US$5.000 per penduduk.

Pemerintah bahkan menargetkan Gross National Income (GNI) per kapita mencapai US$5.520 pada 2026, sebagai bagian dari upaya membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Kemiskinan Turun ke Level Terendah Sepanjang Sejarah

Pada dekade awal pembangunan nasional, sebagian besar masyarakat Indonesia masih hidup dalam kondisi miskin. Sejumlah kajian memperkirakan tingkat kemiskinan pernah berada di kisaran 60% populasi pada awal 1970-an.

Krisis ekonomi 1998 sempat memperburuk keadaan. Tingkat kemiskinan melonjak menjadi 24,2%, dengan jumlah penduduk miskin mencapai 49,5 juta orang.

Namun dalam dua dekade terakhir, angka tersebut terus menurun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan Indonesia pada Maret 2026 turun menjadi 8,07%, terendah sejak data kemiskinan modern dipublikasikan.

Jumlah penduduk miskin juga berkurang menjadi 22,93 juta orang, turun sekitar 430 ribu orang dibandingkan September 2025.

Meski demikian, tantangan masih terlihat dari kesenjangan wilayah. Tingkat kemiskinan di perdesaan masih mencapai 10,67%, lebih tinggi dibandingkan perkotaan yang sebesar 6,34%.

Pengangguran Terus Menurun

Pasar tenaga kerja Indonesia juga menunjukkan perbaikan. Setelah sempat mencapai 8,1% pada 2001 sebagai dampak lanjutan krisis Asia, tingkat pengangguran terbuka terus mengalami penurunan.

Pada Mei 2026, tingkat pengangguran terbuka tercatat 4,65%, menjadi salah satu yang terendah dalam sejarah Indonesia. Dari total 154,91 juta angkatan kerja, sebanyak 147,67 juta orang telah bekerja.

Mayoritas tenaga kerja masih terserap di sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan yang secara bersama-sama menyumbang lebih dari 60% total lapangan kerja nasional.

Di sisi lain, proporsi pekerja penuh waktu juga meningkat menjadi 66,77%, menunjukkan kualitas pekerjaan yang secara bertahap membaik.

Baca juga : Perputaran Uang HUT RI Capai Puluhan Triliun, Siapa Panen Cuan?

Harapan Hidup Naik Lebih dari Dua Dekade

Kemajuan pembangunan juga terlihat dari meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia. Pada awal 1970-an, rata-rata harapan hidup penduduk Indonesia masih berada di kisaran 47 tahun.

Kini, berdasarkan data BPS, angka harapan hidup mencapai sekitar 74,47 tahun pada 2025, atau meningkat hampir 27 tahun dibandingkan lima dekade lalu.

Peningkatan tersebut didorong oleh semakin baiknya akses layanan kesehatan, imunisasi, sanitasi, serta penurunan angka kematian bayi dan ibu melahirkan.

Meski demikian, tantangan kesehatan kini bergeser. Penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes menjadi penyebab kematian utama pada usia produktif.

Pendidikan Semakin Maju, Tetapi Belum Mencapai Target

Di bidang pendidikan, akses masyarakat juga meningkat signifikan dibandingkan masa awal kemerdekaan. Jika pada 1945 rata-rata penduduk hanya mengenyam pendidikan sekitar 2–3 tahun, kini rata-rata lama sekolah mencapai 8,85 tahun atau setara dengan lulusan SMP.

Peningkatan tersebut menunjukkan keberhasilan berbagai program wajib belajar yang dijalankan pemerintah selama beberapa dekade terakhir.

Namun capaian itu juga mengindikasikan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk mencapai target wajib belajar 12 tahun, terutama di sejumlah daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan.

Kepemilikan Rumah Meningkat, Hunian Layak Masih Menjadi PR

Sektor perumahan juga menunjukkan perkembangan positif. Data pemerintah mencatat jumlah rumah tangga yang belum memiliki rumah turun dari sekitar 12,75 juta pada 2020 menjadi 9,29 juta rumah tangga pada 2026.

Artinya, backlog kepemilikan rumah berhasil berkurang sekitar 27% dalam enam tahun terakhir. Selain itu, sekitar 85,07% rumah tangga Indonesia telah menempati rumah milik sendiri.

Namun tantangan belum selesai. Masih terdapat sekitar 18 juta rumah tangga yang tinggal di rumah tidak layak huni sehingga kebutuhan pembangunan dan renovasi rumah masih menjadi agenda penting pemerintah.

Baca juga : Peta Persaingan Minimarket 2026: Indomaret Unggul, Pemain Baru Muncul

Hampir Seluruh Indonesia Telah Teraliri Listrik

Perubahan paling mencolok selama 81 tahun kemerdekaan juga terlihat pada akses listrik. Pada awal kemerdekaan, listrik hanya tersedia di sejumlah kota besar dan dinikmati kelompok masyarakat tertentu.

Kini, rasio elektrifikasi Indonesia telah mencapai 99,83% pada triwulan I 2026. Bahkan sejumlah provinsi, seperti DKI Jakarta dan Bali, telah mencatat rasio elektrifikasi 100%.

Capaian tersebut menunjukkan hampir seluruh masyarakat Indonesia kini memiliki akses terhadap listrik sebagai kebutuhan dasar pembangunan ekonomi dan sosial.

Internet Mengubah Wajah Kehidupan Masyarakat

Selain listrik, internet menjadi indikator baru kesejahteraan masyarakat modern. Penetrasi internet Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2026, tingkat penetrasi internet mencapai 81,72%, atau sekitar 235,26 juta pengguna.

Artinya, lebih dari empat dari lima penduduk Indonesia kini telah terhubung dengan internet, membuka akses yang lebih luas terhadap pendidikan, layanan kesehatan, transaksi digital, hingga peluang ekonomi baru.

Meski berbagai indikator menunjukkan kemajuan signifikan, pekerjaan rumah Indonesia belum berakhir.

Ketimpangan pendapatan masih menjadi tantangan yang perlu diatasi agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih merata. Di sisi lain, kualitas pendidikan masih perlu ditingkatkan karena rata-rata lama sekolah belum mencapai target 12 tahun.

Persoalan perumahan juga masih membutuhkan perhatian serius, mengingat jutaan keluarga masih tinggal di rumah yang belum memenuhi standar kelayakan.

Memasuki usia ke-81 kemerdekaan, perjalanan kesejahteraan Indonesia menunjukkan kemajuan yang tidak terbantahkan. Dari negara yang pernah bergulat dengan kemiskinan massal, rendahnya harapan hidup, dan minimnya akses layanan dasar, Indonesia kini telah bertransformasi menjadi negara berpendapatan menengah dengan kualitas hidup yang terus meningkat.

Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut semakin inklusif sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.