Tren Ekbis

7 Sektor Ekspor RI yang Berpotensi di Pasar BRICS, Ada Sawit

  • Indonesia punya peluang besar di pasar BRICS. Simak 7 sektor ekspor potensial, mulai dari sawit, nikel, besi-baja, produk halal hingga jasa.
20260911223L.jpg
Agenda pertemuan BRICS di India, September 2026. (The Hindu)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Indonesia resmi bergabung sebagai anggota penuh BRICS pada 6 Januari 2025. Keanggotaan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor, memperkuat kerja sama perdagangan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar tradisional.

Peluang tersebut semakin relevan setelah Presiden Prabowo Subianto menghadiri KTT ke-18 BRICS di New Delhi, India, pada 12–13 September 2026. Dalam pertemuan tersebut, negara-negara BRICS membahas sejumlah agenda ekonomi strategis,

Hal itu mulai dari perdagangan, keuangan, energi, ketahanan pangan, teknologi dan digitalisasi hingga penguatan rantai pasok global. Implementasi transaksi menggunakan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) juga menjadi salah satu agenda ekonomi BRICS.

Indonesia juga mendorong penguatan kerja sama antarnegara berkembang. Dalam KTT tersebut, Prabowo membawa pesan mengenai kemandirian nasional, persatuan negara-negara Global South, serta penguatan kerja sama di dalam BRICS.

Pertanyaannya, sektor apa saja yang paling menjanjikan untuk dikembangkan Indonesia setelah bergabung dengan BRICS? berikut ulasannya,

Sawit

Kelapa sawit menjadi salah satu komoditas dengan pasar paling luas di negara-negara BRICS. Data perdagangan 2024 menunjukkan lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi salah satu komoditas utama ekspor Indonesia ke Brasil dengan nilai US$476,51 juta, Rusia US$733,9 juta, dan Afrika Selatan US$316,71 juta.

Sementara ke India, minyak nabati menjadi komoditas ekspor terbesar kedua dengan nilai US$3,96 miliar. Posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia memperkuat peluang tersebut. Pada 2025, Indonesia menguasai sekitar 55,5% ekspor sawit global, dengan produksi diperkirakan mencapai 47 juta ton.

Karena itu, sawit berpotensi menjadi instrumen strategis diplomasi perdagangan Indonesia di BRICS. Tantangannya adalah mendorong ekspor produk hilir bernilai tambah, bukan hanya bahan mentah.

Baca juga : Sido Muncul Kembali Salurkan Bantuan Korban Gempa Bumi NTT

Nikel

China menjadi pasar utama bagi ekspor nikel Indonesia. Sepanjang 2024, ekspor nikel Indonesia ke China mencapai US$6,26 miliar. Pada 2025, volumenya mencapai sekitar 2,23 juta ton dengan nilai US$7,86 miliar, atau sekitar 80,85% dari total ekspor nikel Indonesia.

Besarnya permintaan berkaitan dengan kebutuhan industri China, termasuk kendaraan listrik, baterai, dan infrastruktur. Pada paruh pertama 2025, nilai ekspor nikel Indonesia meningkat sekitar 21,2% secara tahunan.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya China dalam rantai pasok nikel Indonesia. Namun, pemerintah perlu memastikan hilirisasi terus berkembang sehingga manfaat ekonomi tidak berhenti pada ekspor bahan baku atau produk setengah jadi.

Batu Bara

Batu bara masih menjadi komoditas penting Indonesia ke India dan China. Pada 2025, ekspor batu bara Indonesia ke India mencapai 100,24 juta ton dengan nilai US$4,97 miliar, sedangkan ekspor ke China mencapai 81,79 juta ton.

Namun, prospeknya menghadapi tantangan. Ekspor batu bara ke India dan China pada 2025 masing-masing turun sekitar 14,3% dan 12,3%, antara lain akibat meningkatnya pasokan dari negara seperti Mongolia dan Afrika Selatan.

Pada 2024, bahan bakar mineral atau HS 27 juga menjadi komoditas ekspor terbesar kedua Indonesia ke China dengan nilai US$13,89 miliar. Batu bara masih penting dalam jangka pendek, tetapi ketergantungan terhadap komoditas energi fosil perlu diantisipasi melalui diversifikasi ekspor.

Baca juga : BRICS Dorong Mata Uang Lokal, Apa Dampaknya bagi Rupiah?

Besi dan Baja

Besi dan baja menjadi salah satu kekuatan terbesar ekspor Indonesia ke China. Pada 2024, ekspor besi dan baja atau HS 72 Indonesia ke China mencapai US$16,07 miliar, menjadikannya komoditas ekspor terbesar Indonesia ke negara tersebut.

Nilai ekspor komoditas ini juga meningkat sekitar 15,7% pada paruh pertama 2025. Permintaan terutama berkaitan dengan industri, konstruksi, infrastruktur, serta rantai pasok kendaraan listrik.

India juga menjadi pasar potensial. Pada 2024, besi dan baja menjadi komoditas ekspor terbesar ketiga Indonesia ke India dengan nilai sekitar US$1,86 miliar. Peluang berikutnya adalah memperbesar ekspor produk logam hilir agar Indonesia memperoleh nilai tambah lebih besar.

Produk Halal

Produk halal berpotensi menjadi mesin pertumbuhan ekspor baru Indonesia di BRICS. Ekspansi BRICS ke negara-negara dengan populasi muslim besar membuka peluang untuk makanan halal, kosmetik, fesyen muslim, hingga produk konsumsi lainnya.

Ekspor produk halal Indonesia pada Januari-Oktober 2025 mencapai US$52,43 miliar, tumbuh 26,15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Minyak sawit dan turunannya mendominasi dengan nilai US$34,16 miliar, diikuti fesyen muslim US$8,67 miliar serta bahan kimia kosmetik halal US$5,46 miliar.

Indonesia juga tercatat berada di peringkat pertama sektor fesyen Islam global selama tiga tahun berturut-turut berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE).

Manufaktur

Manufaktur menjadi sektor penting jika Indonesia ingin mengurangi ketergantungan terhadap ekspor komoditas primer. Sektor manufaktur menyumbang lebih dari 19% terhadap PDB Indonesia, menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, dan berkontribusi lebih dari 82% terhadap ekspor nasional.

Nilai Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia mencapai US$255,96 miliar pada 2023, menempatkan Indonesia di posisi keempat terbesar di antara anggota BRICS.

Namun, struktur ekspor Indonesia masih cukup bergantung pada komoditas primer. Karena itu, BRICS dapat dimanfaatkan untuk memperluas pasar produk manufaktur bernilai tambah tinggi.

Penelitian IPB University menunjukkan kinerja ekspor manufaktur Indonesia ke negara BRICS dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk PDB negara tujuan, nilai tukar riil, daya saing produk, serta partisipasi dalam BRICS.

Baca juga : Rupiah Menguat Tipis Hari Ini, Jadi Pengecualian di ASEAN

Makanan Olahan dan Jasa

Peluang lain datang dari makanan olahan dan produk pertanian. Ekspor kopi olahan Indonesia mencapai sekitar US$692 juta pada 2025, meningkat 4,36%. Pasar Brasil juga menunjukkan permintaan terhadap produk seperti kelapa kering, kayu manis, kosmetik, furnitur, mi instan, dan bubuk kakao.

Produk perikanan juga berpeluang. Penelitian ekspor udang beku Indonesia ke negara BRICS menunjukkan nilai RCA sebesar 5,0-10,2, yang mencerminkan keunggulan komparatif kuat.

Sementara itu, sektor jasa mulai menjadi agenda perdagangan Indonesia di BRICS. Kadin Indonesia mendorong kemudahan mobilitas tenaga profesional, konektivitas sistem pembayaran, serta investasi pada SDM dan infrastruktur perdagangan jasa.

Besarnya perdagangan dengan BRICS menunjukkan blok tersebut memiliki posisi strategis bagi Indonesia. Namun, peningkatan ekspor tidak cukup hanya mengandalkan komoditas unggulan.

Sebuah studi menghitung indeks Herfindahl-Hirschman (HHI) ekspor Indonesia ke BRICS+ pada 2024 sebesar 0,18. Angka yang mendekati nol menunjukkan konsentrasi ekspor relatif rendah atau cukup terdiversifikasi.

Meski demikian, sejumlah komoditas utama seperti bahan bakar mineral, besi dan baja, minyak nabati, serta nikel masih sensitif terhadap harga global dan permintaan negara tujuan.

Karena itu, strategi Indonesia setelah bergabung BRICS perlu diarahkan pada hilirisasi, peningkatan nilai tambah manufaktur, diversifikasi produk, pengembangan ekspor jasa, serta pemanfaatan transaksi mata uang lokal atau local currency transaction (LCT).