Tren Pasar

5 Fakta Kinerja BBRI 2025: Ekspansi Gahar, Kredit Mantap

  • Kinerja keuangan konsolidasi BBRI kunci laba Rp57,13 triliun tahun buku 2025. Agresivitas ekspansi kredit dan efisiensi margin bunga menjadi penopang utama.
Update Logo BRI - Panji 3.jpg
Logo BRI di Kantor Pusat Bank Rakyat Indonesia Jl Jend Sudirman Jakarta Pusat. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) akhirnya merilis laporan keuangan konsolidasi sepanjang tahun buku 2025. Perbankan pelat merah raksasa ini kembali membuktikan ketangguhan fundamental bisnisnya dalam menghadapi berbagai tekanan dinamika perekonomian global yang sangat menantang dan bergejolak hebat.

Berdasarkan publikasi resmi perseroan pada Kamis, 26 Februari 2026, bank spesialis rakyat kecil ini mencetak laba bersih fantastis. Total perolehan keuntungan secara konsolidasi tersebut sukses menyentuh angka sebesar Rp57,13 triliun yang dihimpun sepanjang periode tahun operasional penuh sebelumnya.

Meskipun torehan laba bersih tersebut sedikit menyusut dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya, mesin pendapatan utama perseroan tetap menyala terang. Emiten perbankan raksasa nasional ini terbukti masih sangat agresif menjalankan fungsi intermediasi keuangan untuk menggerakkan roda perekonomian rakyat kecil bawah.

1. Topangan Pendapatan Bunga Bersih

Kinerja fundamental perusahaan sangat tertopang oleh kuatnya realisasi pendapatan bunga secara akumulatif. Pos pemasukan utama tersebut berhasil mencatatkan pencapaian luar biasa senilai Rp207,78 triliun atau sukses meningkat sebesar 4,27% dibandingkan torehan senilai Rp199,27 triliun pada periode tahun operasional sebelumnya.

Pada saat yang bersamaan, perseroan juga dinilai sangat berhasil mengendalikan tingkat efisiensi beban bunga secara optimal. Total tanggungan beban bunga tercatat senilai Rp57,28 triliun atau hanya mengalami sedikit kenaikan tipis sebesar 1,20% dibandingkan pengeluaran sebelumnya yakni Rp56,61 triliun.

Efisiensi ketat tersebut bermuara pada rasio Net Interest Income/NII yang kembali melesat solid. Pendapatan bunga bersih ini sukses menembus level Rp150,50 triliun atau naik 5,52% jika dibandingkan pencapaian gemilang tahun sebelumnya yang sekadar bertengger pada angka Rp142,65 triliun.

2. Agresivitas Ekspansi Fungsi Intermediasi

Perusahaan perbankan pelat merah berkapitalisasi jumbo ini terus menjaga rekam jejak ekspansi penyaluran dananya secara konsisten. Secara konsolidasi, total kredit beserta pembiayaan syariah yang diberikan sukses menembus angka Rp1.517,07 triliun atau sanggup tumbuh tajam 12,67% secara rekam tahunan.

Rincian penyaluran fasilitas pembiayaan tersebut didominasi oleh portofolio kredit konvensional yang kinerjanya sangat agresif. Mesin kredit utama perusahaan tersebut sukses mencetak angka fantastis mencapai Rp1.460,72 triliun, meningkat impresif 12,5% dari torehan tahun sebelumnya pada posisi angka Rp1.298,31 triliun.

Sementara itu, segmen pembiayaan berbasis prinsip syariah juga mencatatkan pertumbuhan pesat menuju angka Rp56,35 triliun. Ekspansi masif ini memaksa perseroan mengalokasikan beban kerugian penurunan nilai yang meningkat 20,8% menjadi Rp46,09 triliun sebagai bantalan pencadangan perlindungan aset kredit berisiko.

3. Soliditas Penghimpunan Dana Masyarakat

Kinerja penggalangan likuiditas perseroan dari masyarakat luas terbukti tetap berjalan sangat solid dan berkelanjutan. Total himpunan Dana Pihak Ketiga/DPK yang meliputi giro, tabungan, serta instrumen deposito berhasil menembus nominal sebesar Rp1.466,84 triliun atau sukses mencatatkan pertumbuhan apik 7,42%.

Rincian struktur pundi likuiditas perseroan semakin kokoh berkat sokongan segmen simpanan bernilai murah dari nasabah. Instrumen giro tercatat mendominasi pencapaian fantastis senilai Rp448,20 triliun, sementara pos tabungan berhasil melesat kokoh hingga sanggup menyentuh level perolehan mutlak sebesar Rp587,58 triliun.

Secara keseluruhan, porsi pendanaan murah atau rasio Current Account Saving Account/CASA menunjukkan sebuah perbaikan kualitas fundamental. Instrumen likuiditas murah ini meroket 12,11% menyentuh angka fantastis Rp1.035,78 triliun demi mengimbangi penyusutan pos deposito yang turun bertengger pada Rp431,05 triliun.

4. Pertumbuhan Aset dan Kualitas Kredit

Ekspansi kredit dan solidnya penghimpunan dana membuat neraca keuangan perusahaan perbankan ini semakin membesar kuat. Total aset konsolidasi perseroan secara meyakinkan melesat 7,1% hingga sukses menyentuh pencapaian angka fantastis sebesar Rp2.135,37 triliun pada masa akhir periode pelaporan operasional.

Seiring lonjakan aset tersebut, perseroan wajib menghadapi tantangan pemburukan kualitas kredit akibat kondisi ekonomi global. Rasio beban kredit macet atau Non Performing Loan/NPL kotor mengalami kenaikan menuju 3,29%, sementara rasio kredit macet bersih berada pada posisi 0,96%.

Demi mengantisipasi risiko gagal bayar, manajemen secara disiplin terus mempertebal perisai perlindungan portofolio kredit mereka. Angka perlindungan cadangan kerugian secara konsolidasi sukses ditingkatkan 2,4% menuju posisi Rp82,89 triliun meskipun rasio pencadangannya mengalami sedikit penurunan ke level 4,08% tahunan.

5. Dinamika Rasio Profitabilitas Perseroan

Dinamika bisnis perseroan tecermin secara gamblang pada perubahan sejumlah instrumen rasio profitabilitas sepanjang rentang tahun operasional. Rasio Return on Asset/ROA mengalami koreksi menuju 2,64%, sementara tingkat kemampuan modal Return on Equity/ROE juga menyusut menempati angka 16,84% saat penutupan.

Tekanan efisiensi biaya operasional terlihat cukup nyata dari rasio margin bunga bersih perseroan secara fundamental harian. Indikator Net Interest Margin/NIM turun menjadi 6,54%, berbanding lurus dengan beban operasional perseroan yang meningkat cukup signifikan menyentuh angka persentase 71,50% penuh.

Indikator ketatnya likuiditas atau Loan to Deposit Ratio/LDR terekam meningkat menjadi 91,96% akibat ekspansi agresif. Beruntung, ketahanan rasio kecukupan permodalan perseroan masih teramat solid bertahan pada level 21,06%, jauh melampaui standar batas regulasi Otoritas Jasa Keuangan.