18 Saham dengan Dividen Yield Tinggi untuk 2025, ADRO dan ITMG Tembus Dua Digit
- CLSA Sekuritas baru saja merilis daftar 18 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diperkirakan akan memberikan imbal hasil dividen lebih dari 5% pada tahun 2025. Saham-saham ini menonjol di tengah kondisi pasar yang masih penuh tantangan, dengan sektor-sektor stabil yang memberikan prospek menarik bagi investor yang mengincar pendapatan pasif.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA – Memasuki awal kuartal I-2025, sejumlah perusahaan di Bursa Efek Indonesia diperkirakan akan merilis laporan kinerja tahun 2024. Hal ini tentunya diikuti dengan pembagian dividen yang sangat dinanti oleh para investor.
Nah, CLSA Sekuritas baru saja merilis daftar 18 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diperkirakan akan memberikan imbal hasil dividen lebih dari 5% pada tahun 2025. Saham-saham ini menonjol di tengah kondisi pasar yang masih penuh tantangan, dengan sektor-sektor stabil yang memberikan prospek menarik bagi investor yang mengincar pendapatan pasif.
Saham-saham dengan proyeksi yield tertinggi hampir mencapai dua digit, yaitu ADRO yang mendekati 12%, diikuti oleh ITMG yang diperkirakan memiliki yield lebih dari 10%. Beberapa saham dengan yield di kisaran 8% hingga 10% juga menarik perhatian, seperti PTBA, UNTR, AKRA, dan BBRI.
- Prospek Saham INCO, ANTM, dan NCKL di Tengah Bayang-bayang Oversupply Nikel Global
- Asosiasi Pedagang Kelontong Siap Pasang Stiker Batas Umur Penjualan Rokok
- Tabrakan American Airlines Menyoroti Skenario Kiamat Washington
Adapun saham-saham dengan yield di atas 7%, termasuk BBTN, DMAS, dan TLKM, menunjukkan daya tarik stabil. Beberapa saham lainnya yang menawarkan yield di sekitar 6% hingga 7% mencakup BMRI, SIDO, SMGR, INDF, serta BBNI dan PGAS. Tidak ketinggalan, saham-saham dengan yield sekitar 5%, termasuk ASII, UNVR, dan BSDE, tetap menjadi pilihan menarik bagi para investor.
Selain proyeksi dividen tinggi, analisis CLSA juga menyoroti langkah Bank Indonesia (BI) yang baru saja menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps ke level 5,75%. Langkah ini dianggap sebagai bagian dari strategi BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas rupiah, yang akan berpengaruh pada daya tarik investasi jangka panjang.
“Proyeksi inflasi yang rendah (1,5–3,5%) untuk 2024-2026 turut mendukung kebijakan tersebut, yang sejalan dengan ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut di Amerika Serikat,” jelas mereka dalam riset pada Jumat. 31 Januari 2025.
Tantangan dan Rekomendasi
CLSA bilang investor di Hong Kong, meskipun melihat potensi dividen tinggi, tetap skeptis terhadap beberapa saham BUMN seperti BBRI, yang meskipun memiliki valuasi menarik, menghadapi tantangan menjelang pergantian direksi pada Maret 2025.
Namun, meskipun harga saham BEI terkoreksi, hal tersebut justru membuka peluang bagi investor untuk masuk pada harga yang lebih murah. Sektor konsumen, yang tetap menjadi favorit, masih dianggap memiliki prospek bagus, meski tantangan likuiditas menjadi perhatian.
CLSA merekomendasikan saham kapitalisasi menengah hingga besar yang berpotensi memberikan keuntungan lebih besar dalam jangka panjang, dengan target harga yang optimis untuk BBCA (Rp12.100), BMRI (Rp7.700), TLKM (Rp3.500), ICBP (Rp14.300), dan AMRT (Rp3.430).
Secara keseluruhan, meskipun tantangan likuiditas dan gejolak mata uang tetap ada, CLSA tetap optimis dengan prospek dividen tinggi dan kebijakan BI yang pro-pertumbuhan. Investor jangka panjang dapat memanfaatkan momen ini untuk mengakumulasi saham berkualitas dengan harga relatif lebih terjangkau.

Amirudin Zuhri
Editor
