Modifikasi Sepeda Motor Listrik Harus Pertimbangkan Biaya dan Suku Cadang

  • JAKARTA – Proses rekayasa sepeda motor berbahan bakar bensin (motsin) menjadi sepeda motor listrik (motlis) perlu mempertimbangkan berbagai hal terutama dari sisi biaya modifikasi. “Perlu dicari cara, supaya harga suku cadang kendaraan dan baterai lebih murah dan bisa menekan biaya modifikasi,” kata Plt. Kepala Badan Litbang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana […]

Sepeda motor listrik Viar

Ilustrasi Sepeda Motor Listrik

(Istimewa)

JAKARTA – Proses rekayasa sepeda motor berbahan bakar bensin (motsin) menjadi sepeda motor listrik (motlis) perlu mempertimbangkan berbagai hal terutama dari sisi biaya modifikasi.

“Perlu dicari cara, supaya harga suku cadang kendaraan dan baterai lebih murah dan bisa menekan biaya modifikasi,” kata Plt. Kepala Badan Litbang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana dalam keterangan tertulis, Selasa, 2 Maret 2021.

Selain itu, beberapa poin penting yang harus dicermati yakni terkait daya motor listrik. Sepeda motor dengan isi silinder memiliki daya paling tinggi hingga 110 cc. Sementara untuk motor listrik konversi, daya paling tinggi sebesar 2 kilo Watt (kW).

Meskipun demikian, Dadan mengaku tenaga motlis e-Va cukup kuat, bahkan dapat melalui tanjakan dengan mudah. Sebagai informasi, modifikasi motlis ini mengacu pada Peraturan Menteri Pehubungan Nomor PM 65 Tahun 2020 tentang Konversi Sepeda Motor dengan Penggerak Motor Bakar Menjadi Sepeda Motor Listrik Berbasis Baterai.

Dalam hal ini, pengerjaannya dilakukan oleh Kelompok Pelaksana Penelitian dan Pengembangan (KP3) Ketenagalistrikan. Modifikasi dilakukan lewat konverter untuk menyambungkan kruk as pada transmisi yang semula digunakan di motor bakar.

Adapun perubahannya sendiri terletak pada pegangan motor listrik pada rangka motor yang menggunakan plat besi. Harga komponen suku cadang dan baterai yang digunakan pada penelitian KP3 menggunakan harga eceran.

Sebelumnya, uji jalan kendaraan telah dilakukan di Bogor. Kendaraan menempuh jarak rata-rata sejauh 7,2 kilometer dengan kecepatan rata-rata 30 km/jam selama sekitar 15 menit. Kondisi jalan yang dilalui bervariasi, baik rata, naik maupun turun.

Selama pengujian, baterai diisi penuh dengan kapasitas 84 Volt dan kondisi baterai cut off 69 Volt sebagai tegangan batas bawah. Perlu dicermari, tegangan cut-off berbeda dari satu baterai ke yang lain, tergantung pada jenis dan desain kapasitas baterai.