Pasar Modal

Tren Pergerakan IHSG Masih Melemah, Analis: Bisa Jadi Momentum Koleksi Saham

  • Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih cenderung melemah hingga perdagangan Selasa, 6 Juli 2022 ditutup ke level 6.629 atau terkoreksi 1,10% setara 73,42 poin.
Ilustrasi IHSG Bursa Efek Indonesia-07.jpg
Karyawan melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 7 Juni 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih cenderung melemah hingga perdagangan Selasa, 6 Juli 2022 ditutup ke level 6.646,41 atau terkoreksi 0,85% setara 56,86 poin.

Analis Shinhan Sekuritas Indonesia Anissa Septiwijaya mengatakan, pergerakan IHSG beberapa hari ini masih didominasi oleh sentimen eksternal. Meski begitu, sentimen dari domestik justru masih tergolong kondusif seiring dengan fundamental Indonesia yang solid.

"Saat kondisi fundamental yang masih resilien ini bisa menjadi momentum bagi investor untuk mengoleksi saham-saham yang saat ini penurunannya cukup dalam namun tetap memiliki fundamental yang solid," kata Anissa saat dihubungi TrenAsia, selasa, 6 Juli 2022.

Ia melanjutkan, penyebab melemahnya pergerakan IHSG beberapa hari ini didominasi dari sentimen ekternal salah satunya datang dari probabilitas yang tinggi sehingga berpotensi membuat resesi ekonomi global.

Seiring dengan hal itu, kenaikan inflasi juga mempengaruhi pergerakan IHSG di tengah lonjakan harga komoditas dan normalisasi kebijakan moneter oleh bank sentral dunia. Gangguan supply chain akibat ketegangan geopolitik antara Ukraina dan Rusia menjadi salah satu penyebab masalah tersebut.

Kemudian, lonjakan kasus COVID-19 yang dialami China sebelumnya juga ikut mempengaruhi pergerakan pasar IHSG yang cendurung sideways. Meski demikian, sentimen dari domestik masih terbilang kondusif.

"Didukung dengan surplus neraca perdagangan, posisi cadangan devisa yang tebal, hingga kenaikan harga komoditas khususnya pertambangan dapat meningkatkan kinerja eskpor domestik," katanya.

Anissa juga menilai inflasi di Indonesia pada Juni 2022 secara tahunan atau year-on-year (yoy) tercatat di atas target Bank Indonesia (BI) yakni naik 4,35%. Untuk inflasi inti masih cenderung terjaga sehinggga membuat BI tidak gegabah untuk menaikkan suku bunga.

Perihal peraturan baru PPKM naik ke level 2 seiring dengan lonjakan COVID-19 di Indonesia dinilai kondisinya akan berbeda dengan sebelumnya. Hal itu didukung dengan adanya persediaan vaksin sudah siap dan juga tingkat vaksinasi untuk dosis 1 dan 2 sudah lebih dari 80%.

Di sisi lain, pergerakan rupiah beberapa waktu cenderung terdepresiasi namun pelemahannya masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara lainnya.

Berikut, Anissa merekomendasikan beberapa saham yang bisa dicermati seperti TLKM, BBRI, BBCA, ICBP.

Kenaikan kasus COVID-19 juga memberikan dampak kenaikan pada saham-saham produsen farmasi dan rumah sakit. Serta produsen batu bara yang juga mengalami katalis positif dari fluktuasi harga komoditasnya yang tetap di level tinggi.

Berikut saham-saham batu bara yang bisa dicermati secara hati-hati seperti ITMG, ADMR, dan ADRO yang memiliki eksposur ekspor yang lebih tinggi didukung oleh demand batu bara yang masih cukup positif.

“Untuk pergerakan IHSG pekan ini akan cenderung bergerak di kisaran level 6590-6797,” katanya.