Pasar Modal

Semen Indonesia Punya Prospek Positif, Mirae Pertahankan Rekomendasi Buy Saham SMGR

  • PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) diproyeksikan memiliki prospek positif kendati harus menghadapi berbagai macam tantangan yang dapat menghambat kinerja keuangan perseroan pada tahun ini.
<p>PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. adalah perusahaan holding BUMN semen yang dimiliki oleh negara. / Semenindonesia.com</p>

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. adalah perusahaan holding BUMN semen yang dimiliki oleh negara. / Semenindonesia.com

(Istimewa)

JAKARTA – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) diproyeksikan memiliki prospek positif kendati harus menghadapi berbagai macam tantangan yang dapat menghambat kinerja keuangan perseroan pada tahun ini.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Emma A. Fauni mengatakan bahwa penjulan semen curah SMGR pada semester II-2023 akan terkerek. Hal ini didorong oleh percepatan penyelesaian sejumlah proyek konstruksi dan sentimen Pemilu 2024.

“Kami mengantisipasi peningkatan permintaan tambahan berdasarkan analis tersebut,” ujarnya melalui riset yang diterima TrenAsia.com, Jumat, 12 Mei 2023.

Selain itu, Emma mempertahankan estimasinya saat ini terhadap kinerja saham SMGR saat ini karena mempertimbangkan laba bersih kuartal I-2023 sesuai dengan ekspektasi. “Oleh karena itu, kami mempertahankan rekomendasi buy kami dengan target harga Rp8.700 per saham.”

Rekomendasi tersebut, papar Emma, mengimplikasikan 7 kali dari EV/EBITDA 2023. Saat ini, kata dia, saham SMGR diperdagangkan pada FY23F P/E dan EV/EBITDA masing-masing sebesar 13,6 kali dan 6,1 kali.

Pada tiga bulan pertama tahun ini, laba bersih perseroan naik 11,1% year-on-year (yoy) menjadi Rp582 miliar. Angka ini mewakili masing-masing 19% dan 18% dari target laba bersih 2023 Mirae dan konsensus. 

“Kami menganggap result ini sejalan dengan seasonality SMGR, karena hasil kuartal pertama biasanya berkisar antara 11 hingga 22 persen selama empat tahun terakhir,” jelas Emma.

Menurutnya, SMGR bernasib seperti PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) yang mengalami penurunan penjualan secara kuartalan, namum meningkat secara tahunan. “Penurunan qoq SMGR lebih ringan dari INTP, yang mungkin kami kira mengurangi tekanan harga saham SMGR.”

Meskipun demikian, lanjutnya lagi, SMGR hanya membukukan pertumbuhan pendapatan yang rendah secara tahunan, sebagian karena akses perseroan yang lebih baik ke pasokan batubara dengan harga DMO sejak kuartal I-2022. 

“Meski tidak ada masalah lagi dengan harga batu bara, biaya SMGR tetap tinggi karena kenaikan biaya transportasi dan bahan baku. Hal ini didorong oleh kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar 30,7 persen sejak kuartal IV-2023. Kami memperkirakan tren ini akan bertahan di kuartal mendatang.”