Kurs Dolar Hari Ini: Digempur Potensi Suku Bunga Acuan AS dan Pelambatan Ekonomi, Rupiah Dibuka Melemah
- Nilai tukar rupiah (kurs rupiah) dibuka melemah pada perdagangan Rabu, 20 April 2022 via Bloomberg pada harga Rp14.364 per dolar Amerika Serikat (AS) turun 0,17% atau 24 poin.

Merina
Author


Karyawati menunjukkan mata uang Rupiah dan Dolar di salah satu tempat penukaran uang atau Money Changer di kawasan Melawai, Jakarta, Senin, 9 November 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA - Nilai tukar rupiah (kurs rupiah) dibuka melemah pada perdagangan Rabu, 20 April 2022 via Bloomberg pada harga Rp14.364 per dolar Amerika Serikat (AS) turun 0,17% atau 24 poin.
Pelamahan kurs rupiah tersebut seiringan dengan analisa dari Ariston Tjendra, Analis Keuangan yang mengungkapkan nilai tukar rupiah berpotensi melemah akibat kenaikan suku bunga acuan AS yang lebih agresif serta pelambatan pertumbuhan ekonomi global.
"Potensi pelemahan ke kisaran Rp14.360, sementara potensi penguatan ke arah Rp14.320 per dolar AS," ujar Ariston pada TrenAsia.com, Rabu, 20 April 2022.
- Pelita Air Buka Penerbangan Komersial, Akankah Nasibnya Sama seperti Merpati dan Garuda?
- Dibuka Hari Ini! Simak Syarat, Cara Daftar, dan Jadwal Rekrutmen Bersama BUMN
- Lagi, Perusahaan China Investasi Rp85,7 Triliun Untuk Bangun Pabrik Baterai Kendaraan Listrik di Indonesia
Adanya pelamahan kurs rupiah, terjadi akibat indeks dolar AS serta yield obligasi pemerintah AS yang semakin meningkat yang disebabkan antisipasi pasar terhadap potensi suku bunga acuan AS.
Menurut Ariston, hal ini dapat mendorong nilai dolar AS dan menekan aset beresiko seperti rupiah, kemudian indeks dolar AS juga bertahan di atas indek 100 yield tenor 10 tahun yang mendekati 3% dan merupakan tertinggi dari 3 tahun.
"Semalam, IMF mengeluarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang baru dengan merevisi turun pertumbuhan ekonomi global 2022 menjadi 3,6% dari 4,4%," tambah Ariston.
Adanya, penurunan tersebut dipicu oleh konflik Ukraina dan Rusia yang berpotensi menekan aset bersiko seperti rupiah.
Di sisi lain, minat investor asing masih tinggai terhadap pasar keuangan Indonesia, asing yang mencatatkan net buy pada IHSG kemarin, serta surplus neraca perdagangan RO selama 23 tahun dapat bisa menjadi katalis positif yang menahan penekan nilai rupiah.

Fakhri Rezy
Editor
